Malam takbiran, ini perihal serius.
Malam ini, malam takbiran terburukku. Dari sekian kalinya merayakan, sepertinya ini yang paling serius. Di usia yang sudah menginjak 17 tahun ini, Tuhan seakan tidak memberiku kesempatan beristirahat. Mungkin bukan Tuhan yang bisa ku salahkan, namun, aku, dan tentu negeri ini yang terus memberikan berita buruk perihal membuat kebijakan. Namun lupakanlah itu terlebih dahulu.
Awal 17 tahun ini, dunia sudah semakin serius. Masa depan, adalah tema isi kepalaku akhir-akhir ini. Mimpi, akademik, dan semua yang aku kerjakan layaknya atom yang berbenturan satu sama lain. Semua seakan tidak selaras, berseteru, tidak pernah berjabat tangan. Pun waktu yang hangus selama 2 tahun ke belakang, sekarang tinggal sedikit banyak kecemasan.
Satu tahun bukan waktu yang panjang, ia mengempis seiring banyaknya tekanan yang meluap, berkebalikan. Aku harus menjelajahi banyak buku dan dunia yang ada di dalamnya, mengerjakan soal sebanyak dan semampuku. Tapi yang kusebutkan, usahanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada ribuan bahkan ratusan ribu palang. Entah di palang ke berapa aku akan menyerah. Atau mungkin, jatuh tersungkur saat ingin melompat palang yang kesekian—yang bisa ku lihat dari kejauhan, menyeramkan.
Aku harus mempelajari bagaimana palang-palang itu bisa ku taklukkan. Bagaimana mempelajari peluang palang itu akan terbuka—sehingga aku dapat lolos tanpa harus melompat. Tentu tidak mudah, mencari ilmu sampai ke negeri China, mencari buku di perpustakaan terbesar di dunia, lantas membaca buku guide yang paling tepat untuk lolos dari semua palang. Entah di negeri mana mendapat seseorang bermandat yang dapat memandu dengan keahlian tingkat tinggi—dengan kondisi negeri ini yang lambat laun mengalami kemunduran. Terjebak, terperangkap, tersungkur, termaki, di tanah sendiri. Di tempat kami lahir.
Kami seorang yang memimpikan kehilangan kewarganegaraan, lantas mencari kewarganegaraan baru. Yang seharusnya kami tidak di sini, yang seharusnya sedari kemarin kami pergi meninggalkan negeri ini—yang penuh dengan kebiadaban otak-otak pencuci uang. Yang berkuasa atas segalanya di atas tanah yang kami pijak.
Hei, kami bukan orang yang tidak berpendidikan. Kami bukan orang-orang bodoh yang mau disuap sana-sini, lantas memakan uang yang bukan miliknya sendiri. Kami bukan orang-orang yang ingin lahir di negeri ini. Tapi apa daya, negeri ini selalu mempersulit dengan embel-embel administrasi, imigrasi, perkara kewarganegaraan, pun semua yang berkaitan dengan kemajuan. Kalaupun aku sudah diterima melalui beasiswa untuk mengemban ilmu di berbagai penjuru dunia, sepertinya negeri ini akan terus memberikan granat penghancur masa depan.
Kami tak punya harapan, masa depan kami bagai kabut di pagi hari. Kami ingin menggertak, bersuara. Namun apa daya, kami tak berkuasa. Kami tak punya uang. Masa depan kami bagai mencari badak Sumatra yang melangka di hutan belantara sebesar empat puluh juta hektar—yang sekarang mungkin sudah ditebang, ditanam kelapa sawit, oleh kalian, para bedebah gila yang selalu ingin mempercepat kekalahan.
Kami mungkin tidak punya masa depan. Di negeri lain, untuk mencari pekerjaan tampaknya seperti mencari makanan enak di restoran bintang lima, sudah pasti enak ketika ingin memesan menu apapun. Kalau kami-kami ini disatukan, sepertinya tidak sampai dua puluh persen kami dipastikan akan menjadi orang sukses—sekalipun sudah menjadi orang berintelektual, profesor, bahkan ahli riset. Negeri ini tidak butuh orang-orang demikian.
Negeri ini butuh orang-orang bodoh, keparat, yang mau diberi uang tanpa tahu siapa pemiliknya. Maka, engkau, para bedebah ingin menjadikan bangsa ini penuh dengan kebodohan, bukan? Pendidikan sudah seperti makanan basi, penuh lalat, jijik. Engkau menjadikan kami tidak punya masa depan.
Terus-teruslah mengejar jabatan, letakkan orang-orang tertelantar, lantas tutup telinga serapat-rapatnya. Jadikan negeri ini negeri yang terus akan dimaki dunia. Bakarlah semua buku-buku di perpustakaan, siram dengan minyak tanah, nyalakan api, dan.. Boom. Perpustakaan akan menjadi pusat menangisnya kami, para pemuda tak bermasa depan, untuk semakin tidak memenangkan kehidupan.
Kami orang berpendidikan, kami tidak akan memperoleh suap di atas orang-orang yang tertindas.
Kami bermasa depan, kami tentu harus keluar dari negeri ini untuk mendapat gelar pendidikan. Gelar yang tidak hanya sebagai pelengkap nama, tidak semudah menyuap para pejabat. Gelar yang ada karena berkontribusi pada peradaban dunia.
Kami berintelektual, debat kami kapanpun, di mana pun, bagaimanapun, di depan perpustakaan yang terbakar sekalipun.
Kami tidak ingin bodoh
Kami bukan orang bodoh
Kami berpendidikan,
Kami ingin bermasa depan.
5 Juni 2025
Malam Idul Adha,
Marah, sedih, murung.
Komentar
Posting Komentar