Merawat diri, mampu?
Merawat
diri, mampu?
Sakit,
ini terlalu sakit.
Kakiku
mulai melumpuh, aku tak dapat berjalan selayaknya.
Tumpuan
apa yang harus ku injak?
Tiang
manakah yang harus ku pegang?
Darahku
berkucur dari jantung hingga nadi, mengeluarkan seuntai darah tanda kesesakan
di dada.
Pikiran
yang mulai berisik, membisikkan kata-kata yang tak semestinya diucap.
Perlahan
air mata keluar tanpa adanya izin dari sang pemilik hati.
Aku
tak lagi mampu mengemban air mata.
Entah
berapa banyak air mata yang ku keluarkan, hingga tak mampu berkata sepatah kata
apapun.
Ku
sadari bahwa suaraku mulai parau.
Ingin
ku ucapkan apa yang ada dalam hati, rasa-rasanya aku tak lagi mampu.
Aku
tak nyaman. Aku tak leluasa.
Ingin
kuceritakan mengenai seisi dunia dengan hal baik dan buruk didalamnya.
Aku
hanya dapat mengemban. Mengemban yang tak seharusnya diemban.
Buku
hitam kesayanganku mulai menipis, aku tak lagi dapat bercerita kepadanya.
Kanvas
yang kubeli beberapa hari lalu sudah ku pajang rapih ditembok dengan lukisan
perasaan yang tertanam pada diriku lalu.
Tak
terasa kanvasku mulai habis. Mulai kebingungan bagaimana mengabadikan perasaan
buruk ini?
Terlalu
ramai, terlalu mengganggu.
Hingga
aku tak dapat lagi menulis cerita yang biasa kuceritakan kepada mereka pada
latar belakang kertas jadul itu.
Keadaanku
yang mulai memburuk menyebabkan aku tak lagi mampu melakukan beberapa hal.
Hal
yang biasa kulakukan dalam keseharianku, maupun hal yang terlepas dari
keseharianku.
Keadaan
fisikku layaknya menggambarkan keadaan kepala dan hatiku.
Merawat
diri saja tak mampu, apalagi merawat orang lain?
Perayaan
perasaan buruk akhir Oktober,
23
Oktober 2022
Komentar
Posting Komentar