Miracle of Ramadhan
Miracle
of Ramadhan
Ini
sebuah cerita di mana seorang gadis kecil bersama sahabatnya melawan sebuah
kesedihan yang mendalam. Di awal bulan April, sang gadis kecil masih terus
berpikir "bagaimana dunia ini jika aku berhenti bernapas? Akankah mereka peduli?".
Semua seakan dunianya akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, pada hari pertama
di bulan Ramadhan gadis kecil ini berdoa kepada sang Pencipta "Tuhan,
tolong redakan segala emosiku, redakan depresiku, tolong berikan kesempatan
untuk menyampaikan pada mereka bahwa aku butuh". Ia berdoa beberapa kali
hal yang sama. Perlahan-lahan ia berani mengatakan kepada mereka. Segalanya
mulai mereda. Ia diterima dengan sepenuh hati, lalu diajarkan bagaimana
mengenal Tuhan dengan benar. Mulai perlahan ia sampaikan kepada teman-temannya
cara mengenal Tuhan. Setiap malam, pasti ada saja waktu untuk bercerita kepada
sang Pencipta. Dalam suatu malam, ia beribadah kepada-Nya sambil terisak
menangis. Dadanya yang telah menahan amarah, semua ia ceritakan kepada-Nya. Pada
sujud pertama saja ia sudah membasahi alas ibadah. Hatinya mulai membaik,
sangat menenangkan.
Tak
lupa juga ia sempatkan melihat langit malam. Pada langit malam, ia cerita lagi
kepada-Nya, disandingi langit. Sepeti biasa, ia menangis lagi. Bukan, ini bukan
tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Ia suka sekali ketika bulan
sabit berada di langit. Tangisannya semakin menggeru-geru mengingat masa
lalunya yang buruk. "Tuhan sebaik ini ya?", kata ia dalam hati.
Mengingat tiga orang yang menemaninya bersama masa kelam dulu, "aku ingin
kalian seberuntung aku dalam hal mengenal Tuhan", angannya dalam hati.
"Tetapi jika Tuhan tak izinkan mengenal-Nya lebih jauh, aku harus berbuat
apa?", berpasrah diri kepada-Nya.
Sahabat
yang dulunya telah membantu gadis kecil berjuang, telah menghilang. Kehilangan
seorang sahabat bukanlah hal yang mudah dilupakan. Ia mulai belajar cara
mengikhlaskan manusia dan menggantikan hatinya dengan nama Tuhan. Ia mulai
belajar bahwa manusia tidak akan bisa dijadikan tempat berpulang. Sebuah
perjalanan ia sambi bersama langit. Langit membuat warna Ramadhan jauh lebih
indah. Setelah masa-masa itu, mulailah ia menyukai langit. Banyak sekali jika
kau melihat foto langit di handphonenya. Ia mulai menghargai setiap kejadian
yang ia alami. Akan ia jadikan memori yang menyenangkan maupun menyedihkan.
Kejadian buruk itu dapat menjadi pengingat bahwa jika ada sesuatu yang buruk
pula, harus ia kembalikan kepada Tuhan, jangan kepada manusia. Akan selalu ia
ingat kesedihan itu. Akan selalu ia rindukan masa-masa itu. Untuk tokoh yang
Tuhan titipkan pada masa itu, terimakasih ya! Aku harap kau jauh lebih baik
lagi.
8 September 2022
Komentar
Posting Komentar