Gerbong Kereta Kesayanganku
Gerbong Kereta Kesayanganku
Yang selalu ku rindu, April.
Yang selalu ku sayang, Mei.
Berharap April akan segera menjemputku kembali di kereta yang lajunya terlalu cepat ini,
Akan tetapi, April telah jauh di sana.
Di gerbong kereta belakang, selisih 9 gerbong
Ada juga Januari, Februari, Maret yang banyak percikan darah.
Ada juga Mei yang selalu ku rindu dan pasti ku sayang.
Mengilas balik saat aku berada di gerbong April,
Banyak cara yang harus ku hadapi untuk beradaptasi. Bermula dari keruntuhan segala bagian, hingga menyatukan hati yang terpental jauh, memecah menjadi berpuluh-puluh bagian.
Awalnya, aku tak diterima baik di sana,
Namun perlahan, salah satu dari mereka ku ajak berbicara.
"Permisi, boleh duduk?", Ucapku sambil memohon dengan ketakutan yang masih menggebu-gebu.
Terucapnya sepatah dua patah kata, mendorong untuk mengucapkan beribu-ribu kata.
Aku disambut baik olehnya, walau kepalaku masih dengan kerasnya.
Terucapnya kata demi kata tertuju untuk mengenal siapa aku, untuk apa aku di sini, hingga menerima apa saja yang ada di gerbong yang Tuhan cipta, yang aku sendiri saja tak tahu akan berhenti kapan dan di mana.
Berpuluh-puluh stasiun atau bahkan ratusan stasiun telah terlewatkan begitu saja.
"Kemana? Bukannya berhenti?", "Halo? Puan?", Aku melangkah menuju kursi masinis untuk bertanya beberapa perihal.
Masinis itu menjawab, "Lihat saja, aku tahu kau besok akan jadi apa. Aku tahu kau, siapa engkau, tujuan apa saja yang ingin kau raih, hingga hentinya kereta ini"
"Siapa aku? Tujuanku? Kapan hentinya, pu-", pintu ruang masinis pun tertutup seketika, aku tak menemukan jawabannya.
"Lalu.. Kapan?", Gumamku sambil menghela napas.
Orang yang berbicara denganku tadi, bertanya tentang apa saja yang membuatku berada di gerbong ini, "Lalu, apa yang membuatmu berada di sini?".
Aku menjawab, "Aku telah berhasil melewati Januari, Februari, Maret yang di mana gerbong itu sama sekali tak nyaman. Sekitarku bagaikan warna hitam, tanganku memerah, hingga hatiku pun ikut menghitam"
Menjelaskan beberapa cerita di gerbong yang lalu, tentang Januari, Februari, Maret.
Satu jam, dua jam terlewat begitu saja dengan ribuan kata yang telah terucap. Berakhir dengan kesyahduan di malam hari.
Terlihatnya bulan di jendela bagai hadiah Tuhan untukku. Orang itu selalu menemani, menjadi teman satu bangku. Membasuh hati yang pernah pilu.
Sabit pun menjagaku jauh di sana, pada malam hari, di kesunyian kereta. Semuanya tertidur, akan ada saatnya mereka terbangun.
Satu orang pun terbangun, ia lelaki tua pekerja keras. Ku lihat, banyak bekas kapalan di tangannya.
"Ia terbangun juga, lelaki tua itu", Lirihku dalam hati.
Dengan banyak kapalan di tangannya, jaket hitam tebalnya yang mulai mengusut dan berdebu, dan sepatunya yang banyak kotoran layaknya tak terawat, ia terbangun dari pulasnya.
Tiba-tiba mengajakku berbicara mengenai Tuhan. Berbicara jutaan kata untuk mengenal sang Pencipta. Walau sesungguhnya Pencipta tak kan dapat sepenuhnya dikenal. Sampai larut malam kita mengobrol. Ia mengenalkan apa yang ada dalam dirinya, hingga aku terkagum-kagum mendengarnya.
Ia bercerita, bermula dari pertanyaan, "Lalu, setelah kita berada di tempat terindah di sana, selanjutnya akan kemana?". Satu pertanyaan yang menjawab seribu pertanyaan lainnya.
"Akan kembali, menjadi suatu yang terindah dan tak kan berakhir. Yang tiada awal maupun tiada akhir. Kita berdua ialah yang terkecil, paling kecil, lebih kecil dari sebutir pasir". Ia menjelaskan dengan sungguh perihal Ketuhanan, memenuhi isi hatiku. Aku mendengar, lalu bertanya. Mendengar, bertanya lagi. Sampai seribu pertanyaan mengenai Tuhan pun terjawab.
Jauh dari yang selalu diajarkan semenjak sekolah dasar lalu, ilmu ini layaknya ilmu yang tak kan pernah mati dan membenahi hati.
Lelaki itu selesai menjelaskan semuanya. Hati pun mulai tertata rapi. Yang hitam menjadi putih suci, yang keji menjadi terluluh hati.
Sekarang aku rasa, aku manusia yang paling beruntung. Mendapat serpihan berlian yang berjatuhan, yang di mana jarang orang mengetahui. Layaknya para sufi bersembunyi di goa tempat ia bersembunyi.
Lalu ia kembali ke tempat duduk persinggahannya. Namun akan selalu menjagaku, tidak jauh.
Tak lupa juga ku jaga doa-doaku. Bercerita dengan sungguh oleh sang Pencipta. Sabit pun akan turut memeluk, meraih dekap jantungku.
Melihat kearah luar jendela, menengadahkan kepala, terlihat satu makhluk Tuhan yang selalu cantik di malam hari,
Ia temanku, bulan.
Bulan membuatku menangis tersedu-sedu sebab bisikan lelaki tadi.
Ia bagai pencerah dikala gelap gulita menyerbu bertubi-tubi, menghapus warna merah pada tanganku yang keji.
Selama aku di gerbong ini, hanya beberapa orang yang terbangun.
Lelaki, dan bunga merah yang selalu menemaniku tadi.
Ada juga gadis kecil yang seumuran denganku terbangun dari lelapnya. Memberi banyak pelajaran, pahit, dan manisnya.
Ia banyak berbicara denganku. Mengenai aku, ia, dan seisi dunia
Berlatih untuk tak bergantung kepada siapapun di gerbong penuh ketakutan ini. Ketakutan yang akan selalu mendekapku dikala beranjak dewasa.
30 hari pun berlalu, selesai sudah aku bersinggah di sana. Kini saatnya untuk menyambut Mei, gerbong kereta yang isinya selalu ku sayang dan ku rindukan.
Di sana, aku disambut dengan baik. Bukan oleh orangnya, akan tetapi gerbongnya.
Orang-orang penting di sana masih tertidur lelap. Masih sunyi, masih sepi, masih syahdu.
Akan tetapi banyak sekali orang yang terbangun untuk hanya mengusik. Berbicara sesuai maunya, demi meruntuhkan ketenangan hati, lalu tertidur lagi. Layaknya seorang datang hanya untuk melukai hati.
Walau pembunuh berantai beramai-ramai berdatangan, aku masih dengan bisikan lelaki idolaku yang memenuhi isi kepala.
"Bukannya kamu, salah satu bagian yang terindah?", Ucapku dalam hati.
"Sesuai ketentuan yang paling Agung, kau berkata kejam ialah untukku yang terbaik", semua sanjungan baik mulai berdatangan, menyelimuti seluruh jiwa dan raga.
Segala hal buruk juga ialah yang terbaik. Terbaik untukku juga untuk semesta.
Hampir sama, berkali-kali ku melihat kearah luar jendela, "Adakah bulan hari ini?", Tanyaku dalam hati.
Mencari pernak-pernik malam di kereta yang melajunya semakin cepat,
"Permisi, adakah bulan?"
"Halo, bulannya sudahkah sabit atau belum?"
"Hai, tanggal berapa ini? Purnama sudahkah datang?"
"Permisi Tuan, kau lihat bulan di hari ini? Darimana arahnya?"
"Puan, ingin melihat sabit bersama?", Pertanyaan yang selalu ku haturkan kepada penumpang lain.
Mengajak berbicara beberapa penumpang lain, membuat hati rasanya lebih penuh.
Berbicara mengenai Tuhan, dan bentuk kemenangan lainnya.
Gerbong ini layaknya suatu kemenangan dalam menghapus warna merah di tanganku yang lalu.
Menghidupkan kembali hati yang hampir mati, hingga menyembuhkan hati manusia. Walau tak sepenuhnya sembuh dan menetap.
Ku harap pelukan April akan kembali, walau tak sama ceritanya maupun bulannya.
Kembalinya aku yang tegar hatinya, tinggi impiannya, dan mengenal kembali yang paling Agung.
Akan ku ceritakan banyak cerita pada bulan April. Lalu ku tebar benih kecil ke hati mereka yang sendu.
Merawat luka hingga berdamai, bukan melupa.
Bukan lari, tetapi hadapi,
Bukan menyerah, tetapi melawan,
Bukan kalah, tetapi menang.
"Gerbong Kereta Kesayanganku"
24-25 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar