Kembalilah

Ada suatu saat aku harus merangkai kakiku kembali dalam kesendirian. Tanpa bantuan makhlukNya, hanya hubunganku denganNya. Terlepas dari cacian mereka atas sudut pandangku yang lalu, yang masih tersisa di hati, dan membentuk satu tanda titik. 


Merangkai kembali hati yang telah hancur berkeping-keping, menegakkan kembali kaki yang perlahan mulai melemah, dan kepala yang gaduh setiap harinya. Bercerita apa yang umumnya orang lakukan, tak melegakan apa yang di hati. Melainkan berbekas suatu rasa yang tak mengenakkan hati. 

Mereka seakan hilang satu persatu. Bukan, mereka bukan pergi dengan membawa candaan kecil-kecilan yang mereka buat. Melainkan pergi untuk mendengar cerita yang ingin aku sampaikan. Seakan hati kita tak lagi menyatu. 


Aku enggan untuk menceritakan apa yang ku pikirkan, untuk apa? 

Bila Tuhan saja dapat memberi apa yang aku inginkan setelah ceritaku terlarut, bagaimana dengan manusia?

Bila secarik kertas dapat berdiam untuk menerima kegundahan hati, bagaimana dengan manusia?

Mereka tak pantas dijadikan rumah yang selayaknya rumah. Rumah dalam artian mampu dijadikan tempat berpulang, mendengar berbagai cerita yang ingin tersampaikan, hingga pada akhirnya, menerima apa yang seharusnya diterima. 


Berdiri sendiri, tanpa adanya pintu masuk bagi manusia terkadang dapat dikatakan mustahil bagi mereka yang selalu ingin mendapat rumah yang selayaknya rumah dalam visual manusia. Padahal Tuhan dapat membereskan itu semua. 


Manusia terkadang menerima apa yang pencerita ceritakan. Namun terkadang, mereka dapat menjadikan suatu cerita tersebut sebagai akar kebencian yang mereka buat sendiri. Satu kesalahan sama dengan seribu kesalahan. Seribu kesalahan sama dengan ratusan ribu kesalahan. 

Satu cerita yang penerka ceritakan, dapat menutup semua telinga tentang apa yang sebenarnya terjadi. 


Tak mampu menutup telinga atas apa yang mereka pikirkan tentangku, entah benar atau tidak. 

Entah bagaimana orang mengenalku, kau tak sama selayaknya Tuhan mengenalku. 


"Kembalilah"

13 Januari 2023

Oleh Nayfa Matsna Khisbiyya

Komentar

Postingan Populer