Pertentangan

 Januari tahun ini perasaannya sama persis seperti Januari tahun lalu. Aku harap, tak sama jadinya. Perihal isi kepala yang memberontak, ingin menerima apa yang telah diberi. Sedangkan salah satu dari mereka tak mengerti. Mereka seakan-akan tahu apa yang ku pikirkan, yang ku rasakan. Pergilah sana, wahai yang berlagak paling tahu. Yang paling dekat pun malah merusak, mencekik leher dengan penuh kekejaman. "Sebentar, perlahan sebentar", aku hanya butuh waktu untuk menerima. "Pelan dalam semua tentang melupakan", izinkan aku memeluk waktu dengan kesendirian. Izinkan aku menerima segala yang telah diberi. Kau hanya tak mampu mengerti, padahal kau yang paling tahu dari aku lahir.

Mereka jauh disana berlalu lalang, tak karuan. Ada yang bercerita mengenai keburukan orang lain, ada yang menceritakan kebahagiaannya. Rasanya ingin ku bungkam satu persatu. Perihal menerima, cukup. Penyesalan datang satu persatu mendekap jantungku. "Aku harus bilang apa kepada mereka?", pertanyaan yang selalu bersilaturahmi di kepalaku.

Cerita mengenai kejadian yang lalu menjadi perbincangan hangat di kepalaku. "Diamlah terlebih dahulu, kau terlalu banyak berbicara", ingin ku sampaikan kepada mereka yang mulutnya perlu dibisukan sementara waktu. Karya terbaik yang pernah ku cipta juga tak menenangkan diri. "Yang terbaru ialah sebagaimana kau", perkataan diriku sendiri atas berburuk sangkanya aku.

Aku ialah ladang dari semua kesalahan. Semua kesalahan mereka berakar dari kesalahanku. Kesalahan yang selalu kucari-cari di hutan belantara. Mulai dari hal terkecil yang perlahan menjadi besar. Satu persatu kupilah-pilah, mana yang salahku, mana salah mereka. Aku yang tertinggi. Mereka juga yang tak mengerti. "Sebentar, maksudku begi-", terpotongnya pembicaraanku membisukan mulut yang banyak mengucap kata.

Bercerita dengan manusia juga tak berpengaruh dalam menerima hal yang seharusnya diterima. Ini perihal diriku sendiri. Aku hanya butuh waktu, untuk menerima. Menerima impian yang bergugur satu persatu, dari bulan November kemarin. Sudah cukup kemarin yang tak terwujud, yang ini pula? Masih banyak impian yang akan ku kejar, mana yang tercapai, mana yang tidak? Kekalahan Desember lalu tak cukup membungkammu? 

 Menyaksikan manusia berlalu lalang dengan impian yang telah terwujudkan, rasanya aku terpaut jauh oleh mereka. 

Tuhan, garis takdir manakah yang menyatakan aku berhasil? 

Dunia, Nayfa hidup nih.

"Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat", "Rumpang", temani aku, ya.

Komentar

Postingan Populer