Rayakan takdir Tuhan, 2022.

 

KATA PENGANTAR

Tahun ini merupakan tahun aku terasa hidup. Di mana aku dari sekecil benih yang tak mampu berbuat apa apa, hingga jadi aku yang sekarang. Yang mampu menuliskan cerita untuk mereka, yang mampu merayakan takdir yang Tuhan ciptakan untuk semesta, yang mempunyai impian besar terhadap dunia. Bukan, aku bukan seorang yang jauh dari kata kecil, aku hanyalah seorang yang menginginkan beranjak dari tempat tidur masa kecilku. Yang dahulu keras kepala, yang hatinya keras, yang penuh emosi. Sekarang tak jauh berbeda, masih keras kepala, masih egois, masih jauh dari kata dewasa.

Senandung lagu oleh Nadin Amizah membopongku beranjak dewasa. Menemaniku dikala sepi menusuk hati, dikala manusia berlalu lalang, dikala banyak bisikan untuk terburu-buru mengejar impian, dan dikala hatiku yang masih keruh.

 

 

BAB I

ALBUM YANG BERPARTISIPASI

1.      Selamat Ulang Tahun - Nadin Amizah

2.      Kalah Bertaruh - Nadin Amizah

3.      Mantra Mantra - Kunto Aji

4.      Berhati - Sal Priadi

5.      MARKERS AND SUCH- Sal Priadi

6.      Menari Dengan Bayangan – Hindia

7.      Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti - Banda Neira

8.      Berjalan Lebih Jauh - Banda Neira

9.      WHEN WE ALL FALL ASLEEP, WHERE DO WE GO? - Billie Eilish

10.  Happier Than Ever - Billie Eilish

11.  SOUR - Olivia Rodrigo

12.  Midnight Memories - One Direction



BAB II

YANG KU RAYAKAN

 

JANUARI

Januari, dibuka dengan candaan 2 tokoh kesayanganku. Berbagi tawa, berbagi cerita. Disusul dengan kedatangan dan kembalinya seorang tokoh. Bertukar cerita mengenai hiruk pikuk kehidupan yang perlahan melenyapkan diri sendiri.

Aku datang sebagai orang yang melukai diri sendiri. Luka ini telah berbekas akhir tahun lalu. Ku ambil sebuah pisau dan kutusukkan ke hatiku yang mungil. Datangnya suatu hal buruk bukan kujadikan sebagai pelajaran, melainkan sarana bunuh diri. Aku bukan orang yang mudah sekali bercerita. Hatiku terkadang sesak mengucapkan hal yang tak ingin ku ucapkan. Ku bercerita dengan leluasa mengenai yang kurasa dahulu kepada salah satu tokoh kesayanganku, tanpa berpikir esok bagaimana, dan apa.
Perlahan-lahan, yang datang akan melahap habis hatiku, jiwaku, hingga ragaku. Tersisa kedua tangan yang tak bersalah. Tangan kananku bertugas mengambil sebuah benda yang seharusnya berguna untuk mengiris suatu bahan. Tangan kiriku bertugas menyuguhkan sarana untuk melampiaskan apa yang ada dalam pikiran dan hatiku. Tak perlu ku sebut pada tanggal berapa tanganku ini berbuat keji, intinya ia tak berperasa.

Bulan ini merupakan awal dari segala kesedihan yang perlahan membelenggu diriku sendiri.
Januari ditutup lagu oleh Nadin Amizah yang sampai sekarang masih kusayang, "Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat", dan lagu perkenalanku dengan Kunto Aji, "Selaras", "Rehat", dan lagu dari album Mantra Mantra lainnya.

 

FEBRUARI

Februari, bulan di mana aku berulang tahun. Masih berlanjut goresan itu melahap habis tanganku. Waktu berjalan dengan desakan pikiran sendiri yang ingin cepat bergegas keluar dari gerbong kereta. Beribu-ribu cerita telah dengan ringan kubagikan kepada mereka, 3 tokoh kesayanganku dahulu. Salah satunya sudah berjumpa 15 bulan yang lalu.

Malam yang sunyi, hanya terdapat bunyi hewan yang tak dikenal, aku keluar rumah sejenak untuk menghirup udara malam. Leluasa rasanya bisa menenangkan kembali pikiran yang seharian telah bertaruh. Ditemani seorang tokoh yang baru saja datang melalui telfon. "Bisa telfon?", seakan-akan aku tertimpa batu yang amat besar, tetapi mereka selalu ada untukku, dahulu. Banyak sekali aku merepotkan orang yang ku sayangi, padahal hati saja tak kujaga dengan baik. Februari, terkadang goresan itu membesar, terkadang mengecil. Tergantung ego yang kuperoleh.

Semakin banyak ku mengenal Nadin, peri yang tak ingin disebut peri. Album Kalah Bertaruh selalu menjadi juaranya, dahulu. Februari mempertemukanku dengan "Hormat Kepada Angin". Seperti biasa, syair Nadin tak pernah gagal, ia merangkapku dalam lantunan lagunya. Petikan gitar dan suara piano dipadukan vokal Nadin yang khas, membuatku jatuh hati. Selama berbulan-bulan, hingga saat ini pun. "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti" oleh Banda Neira kuputar disambi dengan adanya pertentangan di kepala. "Aku tak percaya akan roda berputar, mana buktinya?", lirihku dalam hati. Sebulan berlangsung dengan penuh duka didalamnya. Entah mengapa, suatu yang kecil dapat menjadi suatu yang besar di kepalaku.

Februari ditutup dengan perayaan ulang tahunku yang ke-14. Bukanlah hal yang spesial untukku dengan hati yang masih terdapat banyak sekali luka. Berusaha merapikan kembali yang berserakan, ternyata mereka sendiri yang merusak. Berusaha bangkit dengan kedua kakiku, nyatanya Tuhan belum mengizinkan, lalu kapan?

 

MARET

Maret, puncak pertaruhan. Apakah aku akan tiada atau tetap hidup sesuai yang mereka mau. 2 tokoh kesayanganku mulai bepergi. Sesuai yang aku mau, tetapi tidak juga. Hatiku perlahan mulai sesak, entah tempat nyaman seperti apakah yang harus ku kunjungi.

Seni rupa ialah hobiku, tapi kurasa tak kan memulihkan hati. Memulai menulis juga terasa sia-sia bagiku, dahulu. Selalu membandingkan karya tulis orang lain denganku ialah hobiku dahulu. Aku pikir, sebagai luka yang bersinggah di hati manusia, seharusnya disembuhkan juga oleh hati manusia. Entah kejadian bodoh apakah yang dapat menumbuhkan pemikiran anak kecil sepertiku dahulu. Senandung lagu oleh Nadin Amizah, Kunto Aji, Hindia pun tak mampu meluluhkan hati yang terlalu keras dan hampir mati. Hal baik datang hanya untuk pergi. "Seperti Tulang" ku putar berkali-kali dikala sepi menghampiri.

Berjalannya waktu, luka dalam hati maupun ragaku, perlahan-lahan mematikan perannya sendiri. Ia enggan mendengar hal baik yang datang dan melempar jauh hal baik yang berbondong-bondong menunjuk ke arahku. Mencoba untuk membersihkan goresan yang terlekat pada tanganku, Tuhan belum lagi mengizinkan. Terjatuh lagi, terbangun lagi. Terjatuh berkali-kali, terbangun berkali-kali.

Suatu malam dengan suasana damai, di kamar yang banyak sekali barang berserakan, tangan kananku yang masih menggenggam benda yang selalu berbuat keji akhir-akhir ini, ibu bekerja untuk menghidupi keluarganya. Kudengar, "Bunga Terakhir" oleh Afgan, banyak menangis, banyak tersedu. Kepalaku isinya hanya upaya untuk membunuh seluruh jiwa dan raga. Satu tokoh yang dahulu juga pernah bersinggah mendengar banyak sekali cerita mengenai kebodohanku sendiri dalam merawat diri. Sekarang pun sudah tak pernah berbagi kabar, terakhir November lalu, itu pun sedikit sekali kita bercakap.

Dengan tangan kiri yang masih penuh darah, malam terasa sangat panjang. Tak sadar hari telah berganti. Ku tulis sesuatu di catatan handphone-ku yang saat ini masih ku simpan. Berat rasanya membaca kembali, banyak keputusasaan didalamnya.

"Kira-kira kita akan menjalankan rencana kapan?", tanyaku dalam hati. Terasa seperti bungaku akan mati pada bulan ini. Menunggu semua orang peduli pun tak kan ada habisnya. Mengemis bantuan kepada mereka juga tak kan menyembuhkan. Ini perihal diriku sendiri, bukan orang lain. Lagu-lagu oleh Sal Priadi mulai ku putar. Lengkap sudah seniman yang selalu bercerita mengenai dunia dan seisinya, Nadin Amizah, Kunto Aji, Sal Priadi, dan Hindia.

Maret ditutup dengan sebuah tulisan yang ku tulis dengan penuh emosi pada laman percakapan di Instagram. Menginginkan untuk memeluk Nadin dengan hangat, berharap ia berkunjung dikala aku butuh semua senandung hangatnya. Sayangnya, pesan yang telah ku kirim telah terhapus, banyak sekali luka di dalamnya.

Tak sadar, selama kurang lebih 3 bulan aku telah menghabiskan 4 buah benda tajam, beratus-ratus tisu dan beribu-ribu tangisan di malam hari. Untuk menutupi tangisan pada siang hari, biasanya aku melampiaskannya di sebuah kamar kecil rumahku untuk mengeluarkan kesesakan di dada. Terkadang juga meluangkan waktu untuk menyendiri di teras. Teras rumah yang penuh kedamaian, hanya seorang diri. Tak sengaja tangisan itu membasahi kedua pipiku, napasku mulai sesak sebab banyaknya air mata yang ku keluarkan.

 

APRIL

Jumat, 1 April 2022, sepulang sekolah aku dan beberapa anggota keluargaku menyempatkan diri untuk membeli perlengkapan untuk memeriahkan Ramadhan tahun ini. Dalam keadaanku yang berdarah-darah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus ku sampaikan kepada salah satu anggota keluargaku. Aku seperti terikat dalam sebuah ikatan tali, sesak, tak dapat menghembuskan napas layaknya orang lain. Adanya keinginan untuk membeli benda tajam baru sebagai koleksi untuk menyayat tangan kiriku. Aku menawarkan benda itu pada diri sendiri. Terlihat bodoh bagiku sekarang, namun bagiku dahulu merupakan suatu hal yang harus ada di sampingku untuk hal-hal yang harus dilampiaskan.

Beberapa jam pun terlewat begitu saja berdampingan dengan sesaknya di dada. "Aku harus berkata, jika tidak, mau sampai kapan? Besok bulan Ramadhan, kan?". Sore hari, sesampainya dirumah setelah membeli perlengkapan untuk bulan Ramadhan, ku menyayat tangan kiriku yang masih terdapat bekas yang lalu, untuk terakhir kalinya. Puluhan sayatan ku lampiaskan ke tanganku yang tak bersalah. Gumpalan darah berkucur dari serat-serat dagingku. Dari sisi manapun ku sayat dengan semidikian rupa.

"Aku tak berguna",

"Siapa yang akan peduli?",

"Harus banget aku mati terlebih dahulu baru kalian semua peduli?",

"Lingkungan manakah yang dapat menerimaku seutuhnya dalam kondisi tangan yang penuh darah ini?",

"Kapan semua ini akan berkesudahan?",

"Hal apakah yang dapat menghentikan ini semua?".

Jauh disana terdapat seseorang yang mendoakanku lewat pesan di WhatsApp, "Semoga Aprilmu jauh lebih baik daripada bulan Maret".
Aku hanya meremehkan kata kata itu. "April? Jauh lebih baik?", kataku dalam hati.

Di saat keadaan mulai sepi, tak terdapat seorang pun yang peduli denganku, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan kedepannya.

Kala itu 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada tanggal 2 April 2022. Doa pertama yang kupanjatkan kepada Tuhan, "Tuhan, izinkan aku untuk berkata kepada mereka bahwa aku butuh pertolongan" dan "Redakan segala emosi yang selalu memenuhi isi kepalaku".

Doa pertama yang kupanjatkan itu terkabul setelah 3 hari. Dengan menerima saran dari beberapa orang, aku memberanikan diri berkata kepada mereka. Aku diterima seutuhnya. Awal Ramadhan disambut dengan pembersihan tangan kiriku yang sudah sangat kotor. Sayatan-sayatan itu perlahan mulai mengering. Hanya terdapat sedikit bekasnya hingga saat ini.

Keesokannya, setelah berbicara mengenai sayatan dan penyebabnya, aku disuguhi langit yang sangat cantik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menganggap ini sebagai hadiah dari Tuhan atas keberanianku dalam berkata. Berkata bahwa aku butuh, aku harus menyelesaikan ini semua. Tuhan hadiahkan langit yang sangat cantik kala itu.

Pada bulan April khususnya bulan Ramadhan, aku mulai diajarkan kembali sebuah ajaran yang pernah kupelajari sejak kelas 3 sekolah dasar lalu. Diingatkanlah aku atas segala yang terjadi. Bahwa ini semua merupakan sebuah skenario yang Tuhan rancang sedemikian rupa dengan segala kesempurnaan didalamnya. Kesempurnaan yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun.

Tak lupa, setiap sehabis sholat Subuh, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat milikNya yang selalu cantik pada bulan Ramadhan. Benar, ia langit. Langit di pagi hari pada bulan Ramadhan selalu cantik. Cerah, pernak-perniknya selalu nampak jelas pada bulan kesayangan umat Islam sedunia. Aku selalu mempunyai waktu untuk menikmatinya sendiri. Tenang, damai, berbanding terbalik dengan aku sebelumnya. Bersepeda beberapa menit untuk mengunjungi sawah dengan lahan terbuka. Kulihat dari arah timur, matahari menyambut dengan gemuruh sinarnya, mencipta gradasi langit yang tak dapat ditiru oleh siapapun.

Malam hari pada bulan Ramadhan, ku sempatkan diri untuk bercerita kepadaNya. Dan seperti biasa, langit menjadi perantaranya. Langit dan pernak-perniknya melajukan air mata keluar dari kantong mata yang mulai sembab. Isi kepalaku pada saat itu hanyalah sebuah ajaran yang baru kupelajari lagi. Membuat hati terenyuh atas keagunganNya. Terlalu banyak air mata yang ku keluarkan untuk sebuah ajaran mengenal Tuhan yang disampaikan oleh idola lelakiku. Mungkin ini merupakan suatu alasan mengapa aku suka sekali mengabadikan langit di setiap bulannya.

 

MEI

Senin, 2 Mei 2022, Ramadhan telah usai. Perayaan kemenangan umat Islam sedunia ku rayakan dengan sepenuh hati. Berharap Ramadhan tak kunjung usai. Namun apalah daya, waktu akan terus bergulir, menyisakan kenangan pada masa lampau. Banyak pelajaran yang kudapat pada Ramadhan tahun ini. Bulan yang mengembalikan pada ajaran lamaku. Bulan yang menghentikan sayatan pada tangan kiriku. Bulan yang menghentikan kucuruan darah pada serat-serat dagingku. Bulan yang memperkenalkanku dengan keajaiban langit. Hingga bulan yang mengajarkan bahwa pelukan terhangat dan cerita yang paling leluasa ialah kepada Tuhan, bukan kepada makhluk Tuhan.

Mei, banyak sekali aku mengajarkan kepada mereka tentang yang telah kupelajari selama ini. Ku tebar hal-hal baik dengan sungguh. Celotehan mereka tak berpengaruh padaku. Sebuah misi kujalankan dengan gemuruh semangat di dalamnya. Mengunjungi rumah mereka untuk menebar hal baik, menulis banyak sekali pesan untuk mereka yang Tuhan izinkan. Menjelaskan secara runtut mengenai sang Pencipta, takdir, semesta dan seisinya. Tak lupa juga aku menyempatkan diri untuk mengabadikan langit setiap harinya. Menunggu matahari menyambut pagi, menanti goresan langit senja. Sejuk sekali hati ini.

Di suatu malam, kabar baik mengenai kedatangannya seorang yang ingin mengenal lebih sang Penciptanya. Ayah, Ibu, dan aku. Ayah menyampaikan kabar baiknya. Berkumpul di teras rumah untuk membahas mengenai sang Pencipta. Udara malam memperhangat suasana. "Setiap yang kau lihat, terdapat Dzat-Nya" kalimat yang selalu ku sematkan dalam kepala. Ayah berkali-kali memperingatkanku mengenai hal ini.

Pada malam yang berbeda, setelah semua pekerjaanku telah selesai. Seperti biasa, ku sempatkan diri untuk keluar rumah sejenak, melihat bulan yang berkumandang cantik di atas kepalaku. Mendongakkan kepala, memperhatikan dengan sungguh, "Jauh disana terdapat Dzat-Nya, kan?", kalimat yang selalu membuatku terluluh.

Perlahan-lahan mengalir derai air mata ciptaan-Nya. Mengambil jeda sebentar untuk menurunkan kepala, derai air mata pun perlahan berjatuhan. "Tetap jadi orang baik, ya?", bisikku dalam hati. Walau sampai sekarang belum terwujud, akan ku usahakan untuk meraih janjiku dahulu. Setiap malam di bulan Mei terasa hampir sama. Memperhatikan ciptaan-Nya dengan sungguh, menangis, dan di hantam keras oleh keagungan Dzat-Nya.

Di setiap malam, sebelum bercerita mengenai keluh-kesah hari ini kepada sang Pencipta, mendengar lagu "Jelita" oleh Sal Priadi dan membaca berulang-ulang kali buku yang telah ayahku wariskan sudah menjadi rutinitas malamku. Menyambut hal-hal baik yang datang, dan merayakannya. Mengambil gambar dari setiap halamannya, menjelaskan kepada mereka melalui status WhatsApp maupun Instagram sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Gemuruh semangat selalu melekat di kedua bahuku. Tak lupa juga ku tebar kepada mereka yang berkerumun di dekatku, selalu.

Keberanian ku tata lagi dengan rapi. Merangkai kembali, dan menjaganya. Mei, bulan yang mengajarkanku agar terlatih menghapus nama seseorang di kepala dan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Bulan di mana aku memulai semuanya dari awal, semuanya ku bangun sendiri bersama "yang jauh lebih baik". Semua rasa lelah akan ku tanggung sendiri bersama "yang jauh lebih baik". Semuanya ku serahkan dan hanya kepada "yang jauh lebih baik" satu-satunyalah aku berharap. Dari sini saja, mungkin kau sudah tau siapa "yang jauh lebih baik".

Berharap Mei tahun ini akan datang kembali memelukku, namun mustahil. Aku percaya, kedepannya Tuhan akan memberikan yang jauh lebih baik, untukku dan untuk semesta.

 

JUNI

Juni, tak banyak yang ingin ku ceritakan. Hanya sempat meluangkan waktu untuk bertemu mereka yang telah lama bepergi. Berjumpa kembali, berbagi rasa, walau tak lama. Mengendarai motor menuju sekolah lamaku, berjumpa dengan tokoh-tokoh yang telah mendidikku selama 6 tahun lamanya. Bercerita, mengkilas balik kejadian di masa lampau. Berbicara mengenai impian yang ingin kita raih. Mengabadikan di setiap momennya.

Berjalan kaki menuju halte setempat, menunggu kedatangan bus. Tawa dan candaan menyelimuti dengan hangat. Sampainya sebuah bus, bergegaslah kita menuju suatu tempat yang ingin dituju. Di sana kami banyak mengambil foto, menghilangkan rasa kesepian. Aku pulang dengan senangnya di hati. Begitu juga dengan mereka.

 

JULI

Juli, ku bantu aku. Berkunjung ke suatu tempat ternyamanku. Beramai-ramai orang berdatangan. Dari dalam negeri, maupun luar negeri. Di berikanlah penjelasan secara langsung oleh sang penerima rahasia. Setelah sekian lamanya, aku berkunjung lagi ke tempat seperti ini, terakhir 5 tahun lalu. Mengkilas balik kenangan yang pernah ku simpan. Sudah besar saja kau, Nayfa.

Berjumpa makhluk Tuhan yang ada untuk 1000 tahun sekali. Sungguh, terasa hati ini berguncang hebat melihatnya. "Aku mendapat kesempatan untuk melihatnya? Tuhan izinkan? Sebagai sahabatnya?", ketidakpercayaanku menggebu-gebu. Memantapkan kembali yang telah diberi oleh ayahku dahulu. "Kita berpisah untuk nantinya, ya?", mengingat suatu bab di ajarannya. Sungguh aku beruntung sekali menerima persembahan dari ayahku ini. Terima kasih, Tuhan, kau telah izinkan.

Kala itu, terdapat tawaran sebagai batu loncatan untuk meraih apa yang ingin aku raih. Akan tetapi, kedua pilihannya belum aku kuasai. "Aku tak menguasainya", keputusasaanku dalam hati. Dalam pikiran yang penuh basa basi, aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang ingin aku raih. Meminta pertolongan kepada mereka yang ahli, kurang dari 2 minggu pun jadi. Tahap demi tahap ku lewati dengan sungguh, bahu pun mulai berbunyi. Ku putar lagu dari playlist ku yang baru. Ratusan senandung lagu ku dengar sambil menggarap lembar kerjaku. Mengeluh, lanjut. Mengeluh lagi, lanjut lagi. Mengeluh berkali-kali, lanjut berkali-kali. Oh Tuhan, bahu kananku seperti ingin patah. Namun, dukungan orang tua pun tak lepas dari telingaku. 11 hari berlangsung dengan penuh suka dan duka. Hari di mana perlombaan itu dimulai. Orang-orang berbondong-bondong datang membopong bakatnya masing-masing. Ada yang ingin menunjukkan kepada mereka, ada yang ingin mencari pengalaman, dan bentuk lainnya. Pembimbing pun datang tak lupa dengan segala dukungannya. Memasuki ruangan yang telah di sediakan, doa selalu ku panjatkan dengan tangan yang dingin. Syukur, hal baik dapat menenangkan pikiranku.

Waktu pun di mulai, 4 jam berlangsung dengan cepatnya. Lembar kerja ku desain dengan sedemikian rupa sesuai apa yang telah di bimbing. Terima kasih Tuhan, telah ku kerjakan tanpa hambatan.

Sambil menunggu hasil, seorang yang baru saja ku kenal, mendukungku dengan sungguh. Mencoba menenangkan dikala pikiran buruk bergegas berdatangan. Waktu demi waktu berjalan sesuai alurnya, ini saatnya untuk mengumumkan juara 1 cabang lombaku. Namaku disebut dengan meriah. Karyaku ku pegang dengan rasa bangga yang menyerta, "Rencana Tuhan seapik ini?", ilmu yang diberi ayahku selalu menyelimuti. Orang-orang di sekitarku berbondong-bondong mengucapkan selamat untukku. Hai kalian semua, terima kasih!

 

AGUSTUS

Agustus, bercengkrama senangnya dengan mereka. Yang baru saja berkunjung, dan yang sudah lama berkunjung. Ini rumahku, awet-awet, ya! Berbagai tokoh telah ku sambut dengan berbagai tawa. Bertukar cerita, berbagi tawa, dongeng dari mereka selalu membuatku terkesan. Ada yang senang, ada pula yang duka.

Terlalu banyaknya bercengkrama, banyak juga yang hilang dari diriku. Perlahan mengikis habis apa yang ku punya. Pertemanan yang perlahan mulai keruh, mencipta hubungan yang tak baik. Bertukar isi pikiran yang berujung bertaruh. Tak hanya satu orang dengan lainnya, melainkan semua ikut serta dalam pertaruhan ini. Memperebutkan sesuatu demi memenuhi hasrat manusia. Aku salah satunya.

Isi kepala dengan berbagai kegaduhan di dalamnya, memicuku untuk membuat sebuah karya di buku hitam kesayanganku. Karya dengan berbagai emosi dan rasa di dalamnya. Mempelajari suatu gaya gambar oleh seorang seniman muda, Secret of the Sun. Hei, rayakan perasaanmu sebagai manusia! Ini patut dirayakan!

 

 

SEPTEMBER

Kamis, 1 September 2022 ;

September dibuka dengan adanya workshop seniman muda asal Indonesia dengan nama panggung Secret of the Sun. Seniman muda ini belum terlalu dikenal banyak orang, tetapi dengan cara ia menumpahkan memori dan rasa dalam sebuah karya hingga cara ia berbicara mengenai kehidupan cukup membuatku terinspirasi atas apa yang dibicarakannya.

Aku belajar bahwa "sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan melalui sebuah karya. Bahwa manusia adalah sebuah memori yang di mana memori tersebut tak akan sepenuhnya hilang meski dengan cara apapun untuk menghapusnya selama manusia itu belum tiada. Maka dari itu, tuangkan memori tersebut dalam sebuah karya, sehingga dapat diingat kapanpun. Sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan kepada seseorang melalui sebuah karya dan penikmat dari karyamu adalah seorang yang sedang mengalami hal yang sama denganmu".

Disana kami diminta untuk melukis apa yang sedang kami rasakan. Sebuah kertas tebal kulukis dengan gambaran dua makhluk milik Tuhan sedang bertemu kembali memberikan sebuah bunga yang merupakan tanda ia telah kembali, meluangkan waktu untuk bercerita, dan kembali ke jalan masing-masing. Langit dan laut merupakan gambaran hubungan yang mereka jalankan dulunya, hingga dijadikan tempat untuk mengenang kembali kenangan di masa lampau.

Aku membutuhkan beberapa waktu untuk menggambarkan rinduku pada tokoh [yang aku sembunyikan namanya] tersebut. Perasaan rindu yang aku emban kutuangkan dalam secarik kertas dengan penuh rasa dan emosi. Hati ini berkata "Kapan ya bisa bertemu kembali, setidaknya sedikit bercerita".

Jumat, 2 September 2022 ;

Keesokannya, sebuah angan yang kuinginkan itu terwujud. Kami kembali dengan keadaan yang sama sama babak belur. Secarik kertas tersebut seakan terealisasikan. Langit dan laut seakan kembali saling membantu dan menurunkan hujan sederas-derasnya setelah sekian lama mendung telah berbohong.

Kamis, 8 September 2022 ;

Hari dan tanggal ini tak akan kutinggalkan. Pertama kalinya, yang dulunya kudamba-dambakan ingin mendengar sambil benyanyi dengan penulis syair Sorai, akhirnya terwujud. Sebuah konser persembahan Nadin Amizah merupakan konser pertama yang kulihat melalui panca indraku.

Pada bagian Rumpang dikepalaku hanya terngiang-ngiang "kapan mimpiku akan terwujud?" sebuah pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Pada bagian Seperti Tulang kepalaku hanya berisi masa lalu masa lalu buruk yang masih melekat dikepalaku hingga saat ini aku masih mencoba untuk berdamai dan mulai menertawakan masa-masa itu. Pada bagian Beranjak Dewasa aku berteriak sekeras-kerasanya tanda kami sedang menjalankan masa-masa menuju dewasa dengan hal-hal yang baik dan buruk akan selalu berdampingan. Pada bagian Hormat Kepada Angin kepalaku hanya berisi jawaban dari lirik "biar laguku memanggilmu pulang" dengan jawaban "angin, ini orangnya udah pulang" dan masa- masa di bulan Februari yang merupakan masa-masa pertama kalinya aku mendengar Hormat Kepada Angin dengan kondisi tanganku yang masih berdarah-darah. Dan pada bagian Sorak Sorai aku melirih dalam hati "Nadin, ini orangnya udah balik, sihir lagumu berjalan dengan lancar juga". Dan lirik "mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu" yang selalu kujadikan sarana pengikhlas seseorang yang Tuhan takdirkan untuk bertemu denganku akhirnya kunyanyikan bersama penyairnya.

Kamis, 15 September 2022 ;

Kamis ketigaku di bulan September kali ini merupakan hari keberangkatanku menuju pulau yang selalu dijadikan tempat untuk mempelajari berbagai budaya. Berjumpa dengan langit dan laut merupakan hal yang selalu kuidam-idamkan sejak dahulu akhirnya diwujudkan oleh Bali. Suatu destinasi kusuguhkan dengan berbagai cerita. Suara deburan air laut itu seakan menjadi pembasuh hati yang dulunya pernah terluka.

Bukan hanya langit, aku ingin laut mendengar sebuah cerita yang dulunya membuat aku terpuruk, untuk pertama kalinya. Bukan hanya langit, aku ingin laut menjadi sarana penyampaian ceritaku kepada Tuhan. Walau aku tau, memang akan terlihat aneh dimata orang yang kerjanya cerita mulu sama orang. Aku tahu Tuhan akan selalu mengertiapa yang aku rasakan, apa saja cerita dalam hidupku, hingga takdir-takdirku yang tak bisa diubah oleh siapapun merupakan segala sesuatu yang dimiliki olehNya. Beberapa momen disana juga sempat kuabadikan dikepalaku yang di mana hingga saat ini masih kukenang dan akan selalu kukenang.
Jumat, 30 September 2022 ;

Ditutup dengan candaan langit dan laut.

 

OKTOBER & NOVEMBER

Oktober, November, ku habiskan untuk melepas belenggu mereka. Perihal mimpi yang mustahil ku wujudkan. Menebar hal baik melalui karya yang ku buat. Goresan cat minyak memenuhi kanvas kecilku, ingin rasanya menemani mereka bersedih. Keinginan untuk merawat hati mereka yang tergores penuh, mengikis hal baik yang menghampiri. Beribu-ribu cerita telah ku dengar. Marah, takut, sedih, bahagia, kecewa, keras dan bentuk lainnya. Segala upaya telah ku lakukan untuk melepas hal buruk yang dahulu juga pernah ku lakukan, sekaligus menyelamatkan diri sendiri. "Aku tak ingin mereka sama sepertiku", impian besar-besaran yang pernah ku ucap.

Melihat mereka melakukan hal yang sama sepertiku Januari, Februari, Maret lalu, hati ini terenyuh larut. Menangis, bertanya-tanya apakah aku telah berdamai atau belum. Berdamai dengan luka yang dahulu pernah ku buat. Goresan tangan kiriku pun tak kunjung hilang, entah kapan, atau tak kan pernah. Bukan, ini bukan perihal menyembuhkan, melainkan berdamai. Berdamai atas yang telah ku lakukan kepada diriku sendiri dahulu. Berdamai atas takdir yang Tuhan berikan. Mungkin dahulu terlalu buruk bagiku, namun menurut Tuhan ialah hal yang terbaik bagi ciptaan-Nya.

Merawat tokoh-tokoh disekitarku dengan hangatnya cinta kasih. Menanyakan hal yang membuat ia terpuruk, menjumpai dikala bersedih, merentangkan kedua tangan selebar-lebarnya untuk peluk mereka. Peluk aku. Peluk jika kau butuh, ucap sesuatu bila hatimu mulai memar, lakukan sesuatu bila kakimu mulai patah, rawat lukamu hingga kau berdamai. Kalimat-kalimat yang ingin ku utarakan kepada mereka yang mulai membiru.

Ini kisah di mana seorang kecil yang ingin meraih harapan-harapan besar terhadap dunia. Berharap dunia akan selalu diselimuti hal baik, bersama orang-orang yang baik pula hatinya. Tanpa kejahatan, tanpa kekejian. Ia terlalu lama menyimpannya di hati. Tak sadarkan bahwa figurannya telah berbuat keji, jauh dari impian yang ingin ia kejar. Mengejar apa yang tak mungkin ia kejar. Tenanglah di sana, impiku.
Ku kubur kembali pada tanah lapang, selamat tinggal. Yang dapat ku lakukan hanyalah menebar hal baik, tidak dengan berharap dunia akan sembuh.

Oktober, November, kau seperti anak kembar. Ceritanya hampir sama, perihal merawat mereka. Oktober, November, jaga baik-baik mereka. Tugasmu sekarang untuk merawat hati mereka, menjaga mereka, tebar hal-hal baik untuk mereka. Tugasku telah selesai, ku serahkan pada Pencipta.

Kekecewaan dan segalanya ku timbun tanah dengan berbagai hal baik di dalamnya. Walau aku belum menjadi manusia yang baik, setidaknya aku mampu untuk itu. Oktober, November, jaga baik-baik impiku dahulu. Desember, bersiap untuk menyambut kekalahan.

 

DESEMBER

Desember, kalah, kalah, dan kalah. Mimpiku perlahan buyar sembari berjalan menyaksikan orang dewasa. Ketakutan-ketakutan akan mimpi yang terus menjadi semu, tentang harapan besar mereka terhadapku yang selalu menyelimuti Desember ini. Upaya besar-besaran telah ku lakukan untuk mewujudkan salah satunya. Berawal dengan gemuruh semangat yang melekat pada kedua bahuku. Membopong untuk terus berupaya.

Butuh orang sekampung untuk sebuah mimpi jadi terwujud. Namun mereka tak dapat selalu sama dengan apa yang ada di kepalaku. Tak semua yang menurutku baik, baik pula untuk mereka. Begitu juga sebaliknya.

Suatu mimpi yang mulai buram dari penglihatanku. Menyisakan luka yang masih tersimpan di hati. Impian yang tumbuh Oktober dan November lalu terasa sangat semu. Haus akan keadilan. Mereka sungguh tak berperasaan. Ku ambil kembali yang telah ku beri. Selusin hati.

"Esok pasti akan tercapai", kalimat yang dahulunya selalu ku sanjung dalam hati, namun tidak dengan sekarang. Kalimat itu hanyalah sebuah ucapan yang kosong maknanya. "Aku gagal merawat mereka.", bayangan-bayangan yang selalu menghantuiku sejak matahari terbit hingga berpamit.

Kali ini aku harus merelakan impianku. "Rumpang" pun ikut serta dalam upaya merelakannya. Ku tumbuh bangkit dengan impianku yang baru, kali ini sedikit masuk akal.

Mereka satu persatu pergi sebab kesalahanku. Kesalahan yang seharusnya setiap manusia melakukannya. Ego yang selalu ku kobarkan, menyebabkan mereka berpamitan. Pamit tanpa kata pamit. "Ini semua salahku", kemarahan dalam hati menggebu-gebu, sungguh gaduhnya isi kepalaku. Secarik kertas ku tulis dengan penuh perasaan di dalamnya. Aku antagonis di cerita mereka. Aku protagonis di cerita mereka. Menatap mereka yang telah bepergi, membuka luka yang kemarin telah ku jahit. Memar lagi.

Menatap mereka yang telah berpamit mencipta suatu kalimat bisikan dalam hati, "Dulu dekat sekali, sekarang menyapa pun enggan." Aku dan mereka hanya dalam ambang keegoisan, aku yang ingin meminta maaf, tetapi ketakutan telah menyerbu habis hatiku. Mereka yang diam, entah apa isi pikirannya. Ini maafku untuk mereka. Ini maafku untuk dunia.

Desember ditutup dengan senandung lagu oleh Nadin Amizah yang selalu menemani dikala bersedih, berbahagia, hingga berdamai.



BAB III

YANG TELAH BERPERAN

 

 

INDAH

 


SULISTYO

 


RISALAH

 


EARLYTA

 


ALFIN

 


NANIESYA

 


ALEA

 


MALIKA ULYA

 


MALIKA

 


BIFADLI

 


INAS

 


ANGELIA

 


VEMA

 


ARETA

 


AISAH

 


FADILA

 


ATHA

 


MUTIA

 


DHARA

 


ZAHRA

 


SAKINA

 


ELIN

 


ATIKA

 


NEINA

 


RAISYA

 


NADINE

 


FATHIYA



BAB IV

KEPADA PEMERAN DAN PEMBACA

Akhirnya kita sampai pada penghujung cerita. Ini persembahanku untukmu.
Untuk tokoh yang tak berakhir menjadi satu, dan yang telah banyak berperan untukku pada tahun 2022 atau sebelumnya, terima kasih telah menyempatkan untuk bertukar cerita, berbagi duka dan tawa, dan warna lainnya.

Manusia berlalu lalang. Yang berperan untuk tahun ini, belum tentu dapat berperan tahun nanti. Akan ada puluhan atau bahkan lebih tokoh yang ku jumpai dalam macamnya duka dan tawa didalamnya. Ada yang bersedih, ada yang berbahagia. Ada yang murung, ada juga yang ceria.

Yang tak berakhir menjadi satu, Tuhan akan gantikan yang lebih baik. Yang lebih baik dariku, yang lebih baik darimu.

Untuk nama yang ku sebut maupun tak ku sebutkan sebelumnya, doa terbaik untukmu. Takdir Tuhan terbaik untukmu untuk tahun esok dan seterusnya, doa terbaik akan selalu ku panjatkan untukmu, dan semesta. Sehat-sehat ya! Jaga orang banyak di sana, rawat hatimu dan rawat hati mereka. Walau dunia tak lekas membaik, tetapi kau harus turut tebar hal baik! Walau menurutmu dunia tak memberi keadilan yang selayaknya, percayalah, Tuhan yang akan mengadili. Keterpurukanmu saat ini tak kan sia-sia untuk kedepannya. Terima kasih telah hidup, terima kasih telah menjadi pemeran di ceritaku. Kau layak untuk hidup, kau layak untuk bertaruh.

Maafku untukmu seluas samudra, terima kasihku untukmu sebesar dunia, pelukku untukmu sebesar dan seisi dunia. Sayang sebesar dunia, peluk satu persatu!

Dan, selesai.
365 dari 365 halaman.

Terinspirasi oleh
Nadin Amizah


31 Desember 2022

Nayfa Matsna

Komentar

Postingan Populer