Rayakan takdir Tuhan, 2022.
KATA
PENGANTAR
Tahun ini merupakan
tahun aku terasa hidup. Di mana aku dari sekecil benih yang tak mampu berbuat
apa apa, hingga jadi aku yang sekarang. Yang mampu menuliskan cerita untuk
mereka, yang mampu merayakan takdir yang Tuhan ciptakan untuk semesta, yang
mempunyai impian besar terhadap dunia. Bukan, aku bukan seorang yang jauh dari
kata kecil, aku hanyalah seorang yang menginginkan beranjak dari tempat tidur
masa kecilku. Yang dahulu keras kepala, yang hatinya keras, yang penuh emosi.
Sekarang tak jauh berbeda, masih keras kepala, masih egois, masih jauh dari
kata dewasa.
Senandung lagu oleh
Nadin Amizah membopongku beranjak dewasa. Menemaniku dikala sepi menusuk hati,
dikala manusia berlalu lalang, dikala banyak bisikan untuk terburu-buru mengejar
impian, dan dikala hatiku yang masih keruh.
BAB
I
ALBUM
YANG BERPARTISIPASI
1. Selamat
Ulang Tahun - Nadin Amizah
2. Kalah
Bertaruh - Nadin Amizah
3. Mantra
Mantra - Kunto Aji
4. Berhati
- Sal Priadi
5. MARKERS
AND SUCH- Sal Priadi
6. Menari
Dengan Bayangan – Hindia
7. Yang
Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti - Banda Neira
8. Berjalan
Lebih Jauh - Banda Neira
9. WHEN
WE ALL FALL ASLEEP, WHERE DO WE GO? - Billie Eilish
10. Happier
Than Ever - Billie Eilish
11. SOUR
- Olivia Rodrigo
12. Midnight Memories - One Direction
BAB
II
YANG
KU RAYAKAN
JANUARI
Januari,
dibuka dengan candaan 2 tokoh kesayanganku. Berbagi tawa, berbagi cerita.
Disusul dengan kedatangan dan kembalinya seorang tokoh. Bertukar cerita
mengenai hiruk pikuk kehidupan yang perlahan melenyapkan diri sendiri.
Aku
datang sebagai orang yang melukai diri sendiri. Luka ini telah berbekas akhir
tahun lalu. Ku ambil sebuah pisau dan kutusukkan ke hatiku yang mungil.
Datangnya suatu hal buruk bukan kujadikan sebagai pelajaran, melainkan sarana
bunuh diri. Aku bukan orang yang mudah sekali bercerita. Hatiku terkadang sesak
mengucapkan hal yang tak ingin ku ucapkan. Ku bercerita dengan leluasa mengenai
yang kurasa dahulu kepada salah satu tokoh kesayanganku, tanpa berpikir esok
bagaimana, dan apa.
Perlahan-lahan, yang datang akan melahap habis hatiku, jiwaku, hingga ragaku.
Tersisa kedua tangan yang tak bersalah. Tangan kananku bertugas mengambil
sebuah benda yang seharusnya berguna untuk mengiris suatu bahan. Tangan kiriku
bertugas menyuguhkan sarana untuk melampiaskan apa yang ada dalam pikiran dan
hatiku. Tak perlu ku sebut pada tanggal berapa tanganku ini berbuat keji,
intinya ia tak berperasa.
Bulan
ini merupakan awal dari segala kesedihan yang perlahan membelenggu diriku
sendiri.
Januari ditutup lagu oleh Nadin Amizah yang sampai sekarang masih kusayang,
"Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat", dan lagu perkenalanku dengan Kunto
Aji, "Selaras", "Rehat", dan lagu dari album Mantra Mantra
lainnya.
FEBRUARI
Februari,
bulan di mana aku berulang tahun. Masih berlanjut goresan itu melahap habis
tanganku. Waktu berjalan dengan desakan pikiran sendiri yang ingin cepat
bergegas keluar dari gerbong kereta. Beribu-ribu cerita telah dengan ringan
kubagikan kepada mereka, 3 tokoh kesayanganku dahulu. Salah satunya sudah
berjumpa 15 bulan yang lalu.
Malam
yang sunyi, hanya terdapat bunyi hewan yang tak dikenal, aku keluar rumah
sejenak untuk menghirup udara malam. Leluasa rasanya bisa menenangkan kembali
pikiran yang seharian telah bertaruh. Ditemani seorang tokoh yang baru saja
datang melalui telfon. "Bisa telfon?", seakan-akan aku tertimpa batu
yang amat besar, tetapi mereka selalu ada untukku, dahulu. Banyak sekali aku
merepotkan orang yang ku sayangi, padahal hati saja tak kujaga dengan baik.
Februari, terkadang goresan itu membesar, terkadang mengecil. Tergantung ego
yang kuperoleh.
Semakin
banyak ku mengenal Nadin, peri yang tak ingin disebut peri. Album Kalah
Bertaruh selalu menjadi juaranya, dahulu. Februari mempertemukanku dengan
"Hormat Kepada Angin". Seperti biasa, syair Nadin tak pernah gagal,
ia merangkapku dalam lantunan lagunya. Petikan gitar dan suara piano dipadukan
vokal Nadin yang khas, membuatku jatuh hati. Selama berbulan-bulan, hingga saat
ini pun. "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti" oleh Banda Neira
kuputar disambi dengan adanya pertentangan di kepala. "Aku tak percaya
akan roda berputar, mana buktinya?", lirihku dalam hati. Sebulan
berlangsung dengan penuh duka didalamnya. Entah mengapa, suatu yang kecil dapat
menjadi suatu yang besar di kepalaku.
Februari
ditutup dengan perayaan ulang tahunku yang ke-14. Bukanlah hal yang spesial
untukku dengan hati yang masih terdapat banyak sekali luka. Berusaha merapikan
kembali yang berserakan, ternyata mereka sendiri yang merusak. Berusaha bangkit
dengan kedua kakiku, nyatanya Tuhan belum mengizinkan, lalu kapan?
MARET
Maret,
puncak pertaruhan. Apakah aku akan tiada atau tetap hidup sesuai yang mereka
mau. 2 tokoh kesayanganku mulai bepergi. Sesuai yang aku mau, tetapi tidak
juga. Hatiku perlahan mulai sesak, entah tempat nyaman seperti apakah yang
harus ku kunjungi.
Seni
rupa ialah hobiku, tapi kurasa tak kan memulihkan hati. Memulai menulis juga
terasa sia-sia bagiku, dahulu. Selalu membandingkan karya tulis orang lain
denganku ialah hobiku dahulu. Aku pikir, sebagai luka yang bersinggah di hati
manusia, seharusnya disembuhkan juga oleh hati manusia. Entah kejadian bodoh
apakah yang dapat menumbuhkan pemikiran anak kecil sepertiku dahulu. Senandung
lagu oleh Nadin Amizah, Kunto Aji, Hindia pun tak mampu meluluhkan hati yang
terlalu keras dan hampir mati. Hal baik datang hanya untuk pergi. "Seperti
Tulang" ku putar berkali-kali dikala sepi menghampiri.
Berjalannya
waktu, luka dalam hati maupun ragaku, perlahan-lahan mematikan perannya
sendiri. Ia enggan mendengar hal baik yang datang dan melempar jauh hal baik
yang berbondong-bondong menunjuk ke arahku. Mencoba untuk membersihkan goresan
yang terlekat pada tanganku, Tuhan belum lagi mengizinkan. Terjatuh lagi,
terbangun lagi. Terjatuh berkali-kali, terbangun berkali-kali.
Suatu
malam dengan suasana damai, di kamar yang banyak sekali barang berserakan,
tangan kananku yang masih menggenggam benda yang selalu berbuat keji
akhir-akhir ini, ibu bekerja untuk menghidupi keluarganya. Kudengar,
"Bunga Terakhir" oleh Afgan, banyak menangis, banyak tersedu.
Kepalaku isinya hanya upaya untuk membunuh seluruh jiwa dan raga. Satu tokoh
yang dahulu juga pernah bersinggah mendengar banyak sekali cerita mengenai
kebodohanku sendiri dalam merawat diri. Sekarang pun sudah tak pernah berbagi
kabar, terakhir November lalu, itu pun sedikit sekali kita bercakap.
Dengan
tangan kiri yang masih penuh darah, malam terasa sangat panjang. Tak sadar hari
telah berganti. Ku tulis sesuatu di catatan handphone-ku yang saat ini masih ku
simpan. Berat rasanya membaca kembali, banyak keputusasaan didalamnya.
"Kira-kira
kita akan menjalankan rencana kapan?", tanyaku dalam hati. Terasa seperti
bungaku akan mati pada bulan ini. Menunggu semua orang peduli pun tak kan ada
habisnya. Mengemis bantuan kepada mereka juga tak kan menyembuhkan. Ini perihal
diriku sendiri, bukan orang lain. Lagu-lagu oleh Sal Priadi mulai ku putar.
Lengkap sudah seniman yang selalu bercerita mengenai dunia dan seisinya, Nadin
Amizah, Kunto Aji, Sal Priadi, dan Hindia.
Maret
ditutup dengan sebuah tulisan yang ku tulis dengan penuh emosi pada laman
percakapan di Instagram. Menginginkan untuk memeluk Nadin dengan hangat,
berharap ia berkunjung dikala aku butuh semua senandung hangatnya. Sayangnya,
pesan yang telah ku kirim telah terhapus, banyak sekali luka di dalamnya.
Tak
sadar, selama kurang lebih 3 bulan aku telah menghabiskan 4 buah benda tajam,
beratus-ratus tisu dan beribu-ribu tangisan di malam hari. Untuk menutupi
tangisan pada siang hari, biasanya aku melampiaskannya di sebuah kamar kecil
rumahku untuk mengeluarkan kesesakan di dada. Terkadang juga meluangkan waktu
untuk menyendiri di teras. Teras rumah yang penuh kedamaian, hanya seorang
diri. Tak sengaja tangisan itu membasahi kedua pipiku, napasku mulai sesak sebab
banyaknya air mata yang ku keluarkan.
APRIL
Jumat,
1 April 2022, sepulang sekolah aku dan beberapa anggota keluargaku menyempatkan
diri untuk membeli perlengkapan untuk memeriahkan Ramadhan tahun ini. Dalam
keadaanku yang berdarah-darah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus ku
sampaikan kepada salah satu anggota keluargaku. Aku seperti terikat dalam
sebuah ikatan tali, sesak, tak dapat menghembuskan napas layaknya orang lain.
Adanya keinginan untuk membeli benda tajam baru sebagai koleksi untuk menyayat
tangan kiriku. Aku menawarkan benda itu pada diri sendiri. Terlihat bodoh
bagiku sekarang, namun bagiku dahulu merupakan suatu hal yang harus ada di
sampingku untuk hal-hal yang harus dilampiaskan.
Beberapa
jam pun terlewat begitu saja berdampingan dengan sesaknya di dada. "Aku
harus berkata, jika tidak, mau sampai kapan? Besok bulan Ramadhan, kan?".
Sore hari, sesampainya dirumah setelah membeli perlengkapan untuk bulan
Ramadhan, ku menyayat tangan kiriku yang masih terdapat bekas yang lalu, untuk
terakhir kalinya. Puluhan sayatan ku lampiaskan ke tanganku yang tak bersalah.
Gumpalan darah berkucur dari serat-serat dagingku. Dari sisi manapun ku sayat
dengan semidikian rupa.
"Aku tak
berguna",
"Siapa yang akan
peduli?",
"Harus banget aku
mati terlebih dahulu baru kalian semua peduli?",
"Lingkungan
manakah yang dapat menerimaku seutuhnya dalam kondisi tangan yang penuh darah
ini?",
"Kapan semua ini
akan berkesudahan?",
"Hal apakah yang
dapat menghentikan ini semua?".
Jauh
disana terdapat seseorang yang mendoakanku lewat pesan di WhatsApp,
"Semoga Aprilmu jauh lebih baik daripada bulan Maret".
Aku hanya meremehkan kata kata itu. "April? Jauh lebih baik?", kataku
dalam hati.
Di
saat keadaan mulai sepi, tak terdapat seorang pun yang peduli denganku, aku rasa
ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan kedepannya.
Kala
itu 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada tanggal 2 April 2022. Doa pertama yang
kupanjatkan kepada Tuhan, "Tuhan, izinkan aku untuk berkata kepada mereka
bahwa aku butuh pertolongan" dan "Redakan segala emosi yang selalu
memenuhi isi kepalaku".
Doa
pertama yang kupanjatkan itu terkabul setelah 3 hari. Dengan menerima saran
dari beberapa orang, aku memberanikan diri berkata kepada mereka. Aku diterima
seutuhnya. Awal Ramadhan disambut dengan pembersihan tangan kiriku yang sudah
sangat kotor. Sayatan-sayatan itu perlahan mulai mengering. Hanya terdapat
sedikit bekasnya hingga saat ini.
Keesokannya,
setelah berbicara mengenai sayatan dan penyebabnya, aku disuguhi langit yang
sangat cantik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menganggap ini sebagai
hadiah dari Tuhan atas keberanianku dalam berkata. Berkata bahwa aku butuh, aku
harus menyelesaikan ini semua. Tuhan hadiahkan langit yang sangat cantik kala
itu.
Pada
bulan April khususnya bulan Ramadhan, aku mulai diajarkan kembali sebuah ajaran
yang pernah kupelajari sejak kelas 3 sekolah dasar lalu. Diingatkanlah aku atas
segala yang terjadi. Bahwa ini semua merupakan sebuah skenario yang Tuhan
rancang sedemikian rupa dengan segala kesempurnaan didalamnya. Kesempurnaan
yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Tak
lupa, setiap sehabis sholat Subuh, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat
milikNya yang selalu cantik pada bulan Ramadhan. Benar, ia langit. Langit di
pagi hari pada bulan Ramadhan selalu cantik. Cerah, pernak-perniknya selalu
nampak jelas pada bulan kesayangan umat Islam sedunia. Aku selalu mempunyai
waktu untuk menikmatinya sendiri. Tenang, damai, berbanding terbalik dengan aku
sebelumnya. Bersepeda beberapa menit untuk mengunjungi sawah dengan lahan
terbuka. Kulihat dari arah timur, matahari menyambut dengan gemuruh sinarnya,
mencipta gradasi langit yang tak dapat ditiru oleh siapapun.
Malam
hari pada bulan Ramadhan, ku sempatkan diri untuk bercerita kepadaNya. Dan
seperti biasa, langit menjadi perantaranya. Langit dan pernak-perniknya
melajukan air mata keluar dari kantong mata yang mulai sembab. Isi kepalaku
pada saat itu hanyalah sebuah ajaran yang baru kupelajari lagi. Membuat hati
terenyuh atas keagunganNya. Terlalu banyak air mata yang ku keluarkan untuk
sebuah ajaran mengenal Tuhan yang disampaikan oleh idola lelakiku. Mungkin ini
merupakan suatu alasan mengapa aku suka sekali mengabadikan langit di setiap
bulannya.
MEI
Senin,
2 Mei 2022, Ramadhan telah usai. Perayaan kemenangan umat Islam sedunia ku
rayakan dengan sepenuh hati. Berharap Ramadhan tak kunjung usai. Namun apalah
daya, waktu akan terus bergulir, menyisakan kenangan pada masa lampau. Banyak
pelajaran yang kudapat pada Ramadhan tahun ini. Bulan yang mengembalikan pada ajaran
lamaku. Bulan yang menghentikan sayatan pada tangan kiriku. Bulan yang
menghentikan kucuruan darah pada serat-serat dagingku. Bulan yang
memperkenalkanku dengan keajaiban langit. Hingga bulan yang mengajarkan bahwa
pelukan terhangat dan cerita yang paling leluasa ialah kepada Tuhan, bukan
kepada makhluk Tuhan.
Mei,
banyak sekali aku mengajarkan kepada mereka tentang yang telah kupelajari
selama ini. Ku tebar hal-hal baik dengan sungguh. Celotehan mereka tak
berpengaruh padaku. Sebuah misi kujalankan dengan gemuruh semangat di dalamnya.
Mengunjungi rumah mereka untuk menebar hal baik, menulis banyak sekali pesan
untuk mereka yang Tuhan izinkan. Menjelaskan secara runtut mengenai sang
Pencipta, takdir, semesta dan seisinya. Tak lupa juga aku menyempatkan diri
untuk mengabadikan langit setiap harinya. Menunggu matahari menyambut pagi,
menanti goresan langit senja. Sejuk sekali hati ini.
Di
suatu malam, kabar baik mengenai kedatangannya seorang yang ingin mengenal
lebih sang Penciptanya. Ayah, Ibu, dan aku. Ayah menyampaikan kabar baiknya.
Berkumpul di teras rumah untuk membahas mengenai sang Pencipta. Udara malam
memperhangat suasana. "Setiap yang kau lihat, terdapat Dzat-Nya"
kalimat yang selalu ku sematkan dalam kepala. Ayah berkali-kali memperingatkanku
mengenai hal ini.
Pada
malam yang berbeda, setelah semua pekerjaanku telah selesai. Seperti biasa, ku
sempatkan diri untuk keluar rumah sejenak, melihat bulan yang berkumandang
cantik di atas kepalaku. Mendongakkan kepala, memperhatikan dengan sungguh,
"Jauh disana terdapat Dzat-Nya, kan?", kalimat yang selalu membuatku
terluluh.
Perlahan-lahan
mengalir derai air mata ciptaan-Nya. Mengambil jeda sebentar untuk menurunkan
kepala, derai air mata pun perlahan berjatuhan. "Tetap jadi orang baik,
ya?", bisikku dalam hati. Walau sampai sekarang belum terwujud, akan ku
usahakan untuk meraih janjiku dahulu. Setiap malam di bulan Mei terasa hampir
sama. Memperhatikan ciptaan-Nya dengan sungguh, menangis, dan di hantam keras
oleh keagungan Dzat-Nya.
Di
setiap malam, sebelum bercerita mengenai keluh-kesah hari ini kepada sang
Pencipta, mendengar lagu "Jelita" oleh Sal Priadi dan membaca
berulang-ulang kali buku yang telah ayahku wariskan sudah menjadi rutinitas
malamku. Menyambut hal-hal baik yang datang, dan merayakannya. Mengambil gambar
dari setiap halamannya, menjelaskan kepada mereka melalui status WhatsApp
maupun Instagram sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Gemuruh semangat selalu
melekat di kedua bahuku. Tak lupa juga ku tebar kepada mereka yang berkerumun
di dekatku, selalu.
Keberanian
ku tata lagi dengan rapi. Merangkai kembali, dan menjaganya. Mei, bulan yang
mengajarkanku agar terlatih menghapus nama seseorang di kepala dan menggantinya
dengan yang jauh lebih baik. Bulan di mana aku memulai semuanya dari awal,
semuanya ku bangun sendiri bersama "yang jauh lebih baik". Semua rasa
lelah akan ku tanggung sendiri bersama "yang jauh lebih baik".
Semuanya ku serahkan dan hanya kepada "yang jauh lebih baik"
satu-satunyalah aku berharap. Dari sini saja, mungkin kau sudah tau siapa
"yang jauh lebih baik".
Berharap
Mei tahun ini akan datang kembali memelukku, namun mustahil. Aku percaya,
kedepannya Tuhan akan memberikan yang jauh lebih baik, untukku dan untuk
semesta.
JUNI
Juni,
tak banyak yang ingin ku ceritakan. Hanya sempat meluangkan waktu untuk bertemu
mereka yang telah lama bepergi. Berjumpa kembali, berbagi rasa, walau tak lama.
Mengendarai motor menuju sekolah lamaku, berjumpa dengan tokoh-tokoh yang telah
mendidikku selama 6 tahun lamanya. Bercerita, mengkilas balik kejadian di masa
lampau. Berbicara mengenai impian yang ingin kita raih. Mengabadikan di setiap
momennya.
Berjalan
kaki menuju halte setempat, menunggu kedatangan bus. Tawa dan candaan
menyelimuti dengan hangat. Sampainya sebuah bus, bergegaslah kita menuju suatu
tempat yang ingin dituju. Di sana kami banyak mengambil foto, menghilangkan
rasa kesepian. Aku pulang dengan senangnya di hati. Begitu juga dengan mereka.
JULI
Juli,
ku bantu aku. Berkunjung ke suatu tempat ternyamanku. Beramai-ramai orang
berdatangan. Dari dalam negeri, maupun luar negeri. Di berikanlah penjelasan
secara langsung oleh sang penerima rahasia. Setelah sekian lamanya, aku
berkunjung lagi ke tempat seperti ini, terakhir 5 tahun lalu. Mengkilas balik
kenangan yang pernah ku simpan. Sudah besar saja kau, Nayfa.
Berjumpa
makhluk Tuhan yang ada untuk 1000 tahun sekali. Sungguh, terasa hati ini
berguncang hebat melihatnya. "Aku mendapat kesempatan untuk melihatnya?
Tuhan izinkan? Sebagai sahabatnya?", ketidakpercayaanku menggebu-gebu.
Memantapkan kembali yang telah diberi oleh ayahku dahulu. "Kita berpisah
untuk nantinya, ya?", mengingat suatu bab di ajarannya. Sungguh aku
beruntung sekali menerima persembahan dari ayahku ini. Terima kasih, Tuhan, kau
telah izinkan.
Kala
itu, terdapat tawaran sebagai batu loncatan untuk meraih apa yang ingin aku
raih. Akan tetapi, kedua pilihannya belum aku kuasai. "Aku tak
menguasainya", keputusasaanku dalam hati. Dalam pikiran yang penuh basa
basi, aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang ingin aku raih. Meminta
pertolongan kepada mereka yang ahli, kurang dari 2 minggu pun jadi. Tahap demi
tahap ku lewati dengan sungguh, bahu pun mulai berbunyi. Ku putar lagu dari
playlist ku yang baru. Ratusan senandung lagu ku dengar sambil menggarap lembar
kerjaku. Mengeluh, lanjut. Mengeluh lagi, lanjut lagi. Mengeluh berkali-kali,
lanjut berkali-kali. Oh Tuhan, bahu kananku seperti ingin patah. Namun,
dukungan orang tua pun tak lepas dari telingaku. 11 hari berlangsung dengan
penuh suka dan duka. Hari di mana perlombaan itu dimulai. Orang-orang
berbondong-bondong datang membopong bakatnya masing-masing. Ada yang ingin
menunjukkan kepada mereka, ada yang ingin mencari pengalaman, dan bentuk
lainnya. Pembimbing pun datang tak lupa dengan segala dukungannya. Memasuki
ruangan yang telah di sediakan, doa selalu ku panjatkan dengan tangan yang
dingin. Syukur, hal baik dapat menenangkan pikiranku.
Waktu
pun di mulai, 4 jam berlangsung dengan cepatnya. Lembar kerja ku desain dengan
sedemikian rupa sesuai apa yang telah di bimbing. Terima kasih Tuhan, telah ku
kerjakan tanpa hambatan.
Sambil
menunggu hasil, seorang yang baru saja ku kenal, mendukungku dengan sungguh.
Mencoba menenangkan dikala pikiran buruk bergegas berdatangan. Waktu demi waktu
berjalan sesuai alurnya, ini saatnya untuk mengumumkan juara 1 cabang lombaku.
Namaku disebut dengan meriah. Karyaku ku pegang dengan rasa bangga yang
menyerta, "Rencana Tuhan seapik ini?", ilmu yang diberi ayahku selalu
menyelimuti. Orang-orang di sekitarku berbondong-bondong mengucapkan selamat
untukku. Hai kalian semua, terima kasih!
AGUSTUS
Agustus,
bercengkrama senangnya dengan mereka. Yang baru saja berkunjung, dan yang sudah
lama berkunjung. Ini rumahku, awet-awet, ya! Berbagai tokoh telah ku sambut
dengan berbagai tawa. Bertukar cerita, berbagi tawa, dongeng dari mereka selalu
membuatku terkesan. Ada yang senang, ada pula yang duka.
Terlalu
banyaknya bercengkrama, banyak juga yang hilang dari diriku. Perlahan mengikis
habis apa yang ku punya. Pertemanan yang perlahan mulai keruh, mencipta
hubungan yang tak baik. Bertukar isi pikiran yang berujung bertaruh. Tak hanya
satu orang dengan lainnya, melainkan semua ikut serta dalam pertaruhan ini.
Memperebutkan sesuatu demi memenuhi hasrat manusia. Aku salah satunya.
Isi
kepala dengan berbagai kegaduhan di dalamnya, memicuku untuk membuat sebuah
karya di buku hitam kesayanganku. Karya dengan berbagai emosi dan rasa di
dalamnya. Mempelajari suatu gaya gambar oleh seorang seniman muda, Secret of
the Sun. Hei, rayakan perasaanmu sebagai manusia! Ini patut dirayakan!
SEPTEMBER
Kamis, 1 September 2022
;
September
dibuka dengan adanya workshop seniman muda asal Indonesia
dengan nama panggung Secret of the Sun. Seniman muda ini belum terlalu dikenal
banyak orang, tetapi dengan cara ia menumpahkan memori dan rasa dalam sebuah
karya hingga cara ia berbicara mengenai kehidupan cukup membuatku terinspirasi
atas apa yang dibicarakannya.
Aku
belajar bahwa "sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan melalui sebuah
karya. Bahwa manusia adalah sebuah memori yang di mana memori tersebut tak akan
sepenuhnya hilang meski dengan cara apapun untuk menghapusnya selama manusia
itu belum tiada. Maka dari itu, tuangkan memori tersebut dalam sebuah karya,
sehingga dapat diingat kapanpun. Sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan kepada
seseorang melalui sebuah karya dan penikmat dari karyamu adalah seorang yang
sedang mengalami hal yang sama denganmu".
Disana
kami diminta untuk melukis apa yang sedang kami rasakan. Sebuah kertas tebal
kulukis dengan gambaran dua makhluk milik Tuhan sedang bertemu kembali
memberikan sebuah bunga yang merupakan tanda ia telah kembali, meluangkan waktu
untuk bercerita, dan kembali ke jalan masing-masing. Langit dan laut merupakan
gambaran hubungan yang mereka jalankan dulunya, hingga dijadikan tempat untuk
mengenang kembali kenangan di masa lampau.
Aku
membutuhkan beberapa waktu untuk menggambarkan rinduku pada tokoh [yang aku
sembunyikan namanya] tersebut. Perasaan rindu yang aku emban kutuangkan dalam
secarik kertas dengan penuh rasa dan emosi. Hati ini berkata "Kapan ya
bisa bertemu kembali, setidaknya sedikit bercerita".
Jumat, 2 September 2022
;
Keesokannya,
sebuah angan yang kuinginkan itu terwujud. Kami kembali dengan keadaan yang
sama sama babak belur. Secarik kertas tersebut seakan terealisasikan. Langit
dan laut seakan kembali saling membantu dan menurunkan hujan sederas-derasnya
setelah sekian lama mendung telah berbohong.
Kamis, 8 September 2022
;
Hari
dan tanggal ini tak akan kutinggalkan. Pertama kalinya, yang dulunya
kudamba-dambakan ingin mendengar sambil benyanyi dengan penulis syair Sorai,
akhirnya terwujud. Sebuah konser persembahan Nadin Amizah merupakan konser
pertama yang kulihat melalui panca indraku.
Pada
bagian Rumpang dikepalaku hanya terngiang-ngiang "kapan mimpiku akan
terwujud?" sebuah pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Pada bagian
Seperti Tulang kepalaku hanya berisi masa lalu masa lalu buruk yang masih
melekat dikepalaku hingga saat ini aku masih mencoba untuk berdamai dan mulai
menertawakan masa-masa itu. Pada bagian Beranjak Dewasa aku berteriak
sekeras-kerasanya tanda kami sedang menjalankan masa-masa menuju dewasa dengan
hal-hal yang baik dan buruk akan selalu berdampingan. Pada bagian Hormat Kepada
Angin kepalaku hanya berisi jawaban dari lirik "biar laguku memanggilmu
pulang" dengan jawaban "angin, ini orangnya udah pulang" dan
masa- masa di bulan Februari yang merupakan masa-masa pertama kalinya aku
mendengar Hormat Kepada Angin dengan kondisi tanganku yang masih berdarah-darah.
Dan pada bagian Sorak Sorai aku melirih dalam hati "Nadin, ini orangnya
udah balik, sihir lagumu berjalan dengan lancar juga". Dan lirik
"mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu" yang
selalu kujadikan sarana pengikhlas seseorang yang Tuhan takdirkan untuk bertemu
denganku akhirnya kunyanyikan bersama penyairnya.
Kamis, 15 September
2022 ;
Kamis
ketigaku di bulan September kali ini merupakan hari keberangkatanku menuju
pulau yang selalu dijadikan tempat untuk mempelajari berbagai budaya. Berjumpa dengan
langit dan laut merupakan hal yang selalu kuidam-idamkan sejak dahulu akhirnya
diwujudkan oleh Bali. Suatu destinasi kusuguhkan dengan berbagai cerita. Suara
deburan air laut itu seakan menjadi pembasuh hati yang dulunya pernah terluka.
Bukan hanya langit, aku
ingin laut mendengar sebuah cerita yang dulunya membuat aku terpuruk, untuk
pertama kalinya. Bukan hanya langit, aku ingin laut menjadi sarana penyampaian
ceritaku kepada Tuhan. Walau aku tau, memang akan terlihat aneh dimata orang
yang kerjanya cerita mulu sama orang. Aku tahu Tuhan akan selalu mengertiapa
yang aku rasakan, apa saja cerita dalam hidupku, hingga takdir-takdirku yang
tak bisa diubah oleh siapapun merupakan segala sesuatu yang dimiliki olehNya.
Beberapa momen disana juga sempat kuabadikan dikepalaku yang di mana hingga
saat ini masih kukenang dan akan selalu kukenang.
Jumat, 30 September 2022 ;
Ditutup dengan candaan
langit dan laut.
OKTOBER
& NOVEMBER
Oktober,
November, ku habiskan untuk melepas belenggu mereka. Perihal mimpi yang
mustahil ku wujudkan. Menebar hal baik melalui karya yang ku buat. Goresan cat
minyak memenuhi kanvas kecilku, ingin rasanya menemani mereka bersedih.
Keinginan untuk merawat hati mereka yang tergores penuh, mengikis hal baik yang
menghampiri. Beribu-ribu cerita telah ku dengar. Marah, takut, sedih, bahagia,
kecewa, keras dan bentuk lainnya. Segala upaya telah ku lakukan untuk melepas
hal buruk yang dahulu juga pernah ku lakukan, sekaligus menyelamatkan diri
sendiri. "Aku tak ingin mereka sama sepertiku", impian besar-besaran
yang pernah ku ucap.
Melihat
mereka melakukan hal yang sama sepertiku Januari, Februari, Maret lalu, hati
ini terenyuh larut. Menangis, bertanya-tanya apakah aku telah berdamai atau
belum. Berdamai dengan luka yang dahulu pernah ku buat. Goresan tangan kiriku
pun tak kunjung hilang, entah kapan, atau tak kan pernah. Bukan, ini bukan
perihal menyembuhkan, melainkan berdamai. Berdamai atas yang telah ku lakukan
kepada diriku sendiri dahulu. Berdamai atas takdir yang Tuhan berikan. Mungkin
dahulu terlalu buruk bagiku, namun menurut Tuhan ialah hal yang terbaik bagi
ciptaan-Nya.
Merawat
tokoh-tokoh disekitarku dengan hangatnya cinta kasih. Menanyakan hal yang
membuat ia terpuruk, menjumpai dikala bersedih, merentangkan kedua tangan selebar-lebarnya
untuk peluk mereka. Peluk aku. Peluk jika kau butuh, ucap sesuatu bila hatimu
mulai memar, lakukan sesuatu bila kakimu mulai patah, rawat lukamu hingga kau
berdamai. Kalimat-kalimat yang ingin ku utarakan kepada mereka yang mulai
membiru.
Ini
kisah di mana seorang kecil yang ingin meraih harapan-harapan besar terhadap
dunia. Berharap dunia akan selalu diselimuti hal baik, bersama orang-orang yang
baik pula hatinya. Tanpa kejahatan, tanpa kekejian. Ia terlalu lama
menyimpannya di hati. Tak sadarkan bahwa figurannya telah berbuat keji, jauh
dari impian yang ingin ia kejar. Mengejar apa yang tak mungkin ia kejar.
Tenanglah di sana, impiku.
Ku kubur kembali pada tanah lapang, selamat tinggal. Yang dapat ku lakukan
hanyalah menebar hal baik, tidak dengan berharap dunia akan sembuh.
Oktober,
November, kau seperti anak kembar. Ceritanya hampir sama, perihal merawat
mereka. Oktober, November, jaga baik-baik mereka. Tugasmu sekarang untuk
merawat hati mereka, menjaga mereka, tebar hal-hal baik untuk mereka. Tugasku
telah selesai, ku serahkan pada Pencipta.
Kekecewaan
dan segalanya ku timbun tanah dengan berbagai hal baik di dalamnya. Walau aku
belum menjadi manusia yang baik, setidaknya aku mampu untuk itu. Oktober,
November, jaga baik-baik impiku dahulu. Desember, bersiap untuk menyambut
kekalahan.
DESEMBER
Desember,
kalah, kalah, dan kalah. Mimpiku perlahan buyar sembari berjalan menyaksikan
orang dewasa. Ketakutan-ketakutan akan mimpi yang terus menjadi semu, tentang
harapan besar mereka terhadapku yang selalu menyelimuti Desember ini. Upaya
besar-besaran telah ku lakukan untuk mewujudkan salah satunya. Berawal dengan
gemuruh semangat yang melekat pada kedua bahuku. Membopong untuk terus
berupaya.
Butuh
orang sekampung untuk sebuah mimpi jadi terwujud. Namun mereka tak dapat selalu
sama dengan apa yang ada di kepalaku. Tak semua yang menurutku baik, baik pula
untuk mereka. Begitu juga sebaliknya.
Suatu
mimpi yang mulai buram dari penglihatanku. Menyisakan luka yang masih tersimpan
di hati. Impian yang tumbuh Oktober dan November lalu terasa sangat semu. Haus
akan keadilan. Mereka sungguh tak berperasaan. Ku ambil kembali yang telah ku
beri. Selusin hati.
"Esok
pasti akan tercapai", kalimat yang dahulunya selalu ku sanjung dalam hati,
namun tidak dengan sekarang. Kalimat itu hanyalah sebuah ucapan yang kosong
maknanya. "Aku gagal merawat mereka.", bayangan-bayangan yang selalu
menghantuiku sejak matahari terbit hingga berpamit.
Kali
ini aku harus merelakan impianku. "Rumpang" pun ikut serta dalam
upaya merelakannya. Ku tumbuh bangkit dengan impianku yang baru, kali ini
sedikit masuk akal.
Mereka
satu persatu pergi sebab kesalahanku. Kesalahan yang seharusnya setiap manusia
melakukannya. Ego yang selalu ku kobarkan, menyebabkan mereka berpamitan. Pamit
tanpa kata pamit. "Ini semua salahku", kemarahan dalam hati
menggebu-gebu, sungguh gaduhnya isi kepalaku. Secarik kertas ku tulis dengan
penuh perasaan di dalamnya. Aku antagonis di cerita mereka. Aku protagonis di
cerita mereka. Menatap mereka yang telah bepergi, membuka luka yang kemarin
telah ku jahit. Memar lagi.
Menatap
mereka yang telah berpamit mencipta suatu kalimat bisikan dalam hati,
"Dulu dekat sekali, sekarang menyapa pun enggan." Aku dan mereka
hanya dalam ambang keegoisan, aku yang ingin meminta maaf, tetapi ketakutan
telah menyerbu habis hatiku. Mereka yang diam, entah apa isi pikirannya. Ini
maafku untuk mereka. Ini maafku untuk dunia.
Desember ditutup dengan senandung lagu oleh Nadin Amizah yang selalu menemani dikala bersedih, berbahagia, hingga berdamai.
BAB III
YANG TELAH BERPERAN
INDAH
SULISTYO
RISALAH
EARLYTA
ALFIN
NANIESYA
ALEA
MALIKA ULYA
MALIKA
BIFADLI
INAS
ANGELIA
VEMA
ARETA
AISAH
FADILA
ATHA
MUTIA
DHARA
ZAHRA
SAKINA
ELIN
ATIKA
NEINA
RAISYA
NADINE
FATHIYA
BAB
IV
KEPADA
PEMERAN DAN PEMBACA
Akhirnya kita sampai
pada penghujung cerita. Ini persembahanku untukmu.
Untuk tokoh yang tak berakhir menjadi satu, dan yang telah banyak berperan
untukku pada tahun 2022 atau sebelumnya, terima kasih telah menyempatkan untuk
bertukar cerita, berbagi duka dan tawa, dan warna lainnya.
Manusia berlalu lalang.
Yang berperan untuk tahun ini, belum tentu dapat berperan tahun nanti. Akan ada
puluhan atau bahkan lebih tokoh yang ku jumpai dalam macamnya duka dan tawa
didalamnya. Ada yang bersedih, ada yang berbahagia. Ada yang murung, ada juga
yang ceria.
Yang tak berakhir
menjadi satu, Tuhan akan gantikan yang lebih baik. Yang lebih baik dariku, yang
lebih baik darimu.
Untuk nama yang ku
sebut maupun tak ku sebutkan sebelumnya, doa terbaik untukmu. Takdir Tuhan
terbaik untukmu untuk tahun esok dan seterusnya, doa terbaik akan selalu ku
panjatkan untukmu, dan semesta. Sehat-sehat ya! Jaga orang banyak di sana,
rawat hatimu dan rawat hati mereka. Walau dunia tak lekas membaik, tetapi kau
harus turut tebar hal baik! Walau menurutmu dunia tak memberi keadilan yang
selayaknya, percayalah, Tuhan yang akan mengadili. Keterpurukanmu saat ini tak
kan sia-sia untuk kedepannya. Terima kasih telah hidup, terima kasih telah
menjadi pemeran di ceritaku. Kau layak untuk hidup, kau layak untuk bertaruh.
Maafku untukmu seluas
samudra, terima kasihku untukmu sebesar dunia, pelukku untukmu sebesar dan
seisi dunia. Sayang sebesar dunia, peluk satu persatu!
Dan, selesai.
365 dari 365 halaman.
Terinspirasi oleh
Nadin Amizah
31 Desember 2022
Nayfa Matsna
Komentar
Posting Komentar