Ambil Peranmu

 Nama-nama yang ku tulis sebagai perayaan tahun lalu perlahan-lahan memudar dari halaman terakhir itu. Yang dulunya nampak jelas, sekarang buram hampir terbutakan. 

Ada yang namanya hilang dibawa angin,

Ada yang namanya hangus terbakar oleh sapuan amarah,

Ada yang namanya tak lekat lagi di dada,

Ada yang namanya terjatuh diinjak penghuni bumi,

Ada juga yang namanya terhapus sendirinya.

Siapa ya namanya? Ia sudah tak lagi berperan, satu persatu hanya meninggalkan kenangan.


Jauh di sana, ada beribu-ribu orang yang berbondong-bondong menungguku.

Berlari sambil merentangkan kedua tangan, sampai Tuhan mengizinkan mereka untuk memeluk.

Nama dan peran di dadanya masih buram di mataku. 

Menungguku berjalan tertunduk sambil membawa bunga merah dan hitam.

Menunggu catatan Tuhan menjadi nyata, lalu ku sodorkan bunga merah dan bunga hitam sesuai yang diizinkan.


Siapa yang beruntung, ia akan mendapat bunga merah.

Bunga merah menawan yang akan menghantarkan nyanyian Sorai dengan pelukan hangat di dalamnya.

Dan siapa yang jauh dari kata bersatu, akan ku beri bunga hitam dengan lambang kematian.

Kematian hati, kematian rasa kedua makhluk Tuhan yang dulunya telah disatukan, hingga menuai, memakan seluruh jiwa raga keduanya. 

Bernyanyi seluruh senandung Kalah Bertaruh dengan kerasnya.

Kerasnya hati, kerasnya kepala.


Mungkin telah Tuhan rancang, bunga hitam akan lebih banyak jumlahnya. 

Banyak yang berpulang, banyak yang tertinggal, banyak yang kecewa, banyak yang terluka, banyak juga yang menghilang begitu saja.

Sedangkan bunga merah akan ku beri bagi yang selalu menjagaku sedari aku masih menjadi sebutir pasir, hingga kembali lagi menjadi sebutir pasir. Yang telah dititipkan.

Entah siapa saja namanya, telah Tuhan catatkan yang terbaik. 

Akan ku tunggu hingga perintah datang menjemputku. Perintah dari catatan Tuhan, lalu terlaksana oleh yang berada di urat nadiku.


Ada yang telah menjaga sedari hatiku belum terpenuhi warna hitam, hingga esok.

Ada juga yang baru-baru ini datang menghampiri untuk merawat luka, entah sampai kapan.

Nama-namanya masih terlekat di dada, jauh dari kata pudar. 

Hingga menunggu, akankah perlahan memudar, atau terjaga.

Ataukah tiba-tiba tertiup angin, atau hangus terbakar.


Kelas, hingga seluruh renovasinya,

6 Februari 2023

Oleh Nayfa Matsna

Komentar

Postingan Populer