Marah yang Memerah
Bila aku berkata, "Aku ingin mati", siapa juga yang akan peduli?
Bila aku berkata, "Aku ingin hilang", siapa yang akan datang di hari hilangnya aku?
Bila hari itu telah datang, siapa juga yang akan mendatangi tempat pemakamanku?
Segala yang telah ku tanam, siapa yang akan menyayangi?
Segala yang telah ku beri, siapa yang akan merawat?
Seolah dunia tak peduli akan manusia di dalamnya. Satu tetes air mata layaknya hujan yang sudah biasa dilalui di bulan Februari. Ribuan baret hati bak jutaan mendung terlewati. Paraunya suara ibarat pagi tanpa matahari yang berkepanjangan.
Mirip bunga yang semakin lama semakin mengabaikan siapa yang telah menyemai. Siapa yang menemani bertumbuh, siapa yang menemani sakitnya, dan siapa yang merawat luka. Mungkin jika aku sudah lama hilang sejak Januari tahun lalu, kau telah juga hilang dibawa angin. Menyisakan serbuk abu yang terbang kesana kemari memusnahkan ratusan manusia. Yang selalu jadi terburuk diantara manusia lain, mungkin kau orangnya. Bukan hanya ia, tapi mereka.
Ku ambil kembali yang telah ku beri. Tentang seribu cerita yang telah terucap, tentang ribuan bagian hati yang pernah sembuh dan pernah mati. Tentang perkataan melawan takdir seolah Tuhan mengizinkan semua yang terucap di bibir, tentang hari ini dan esok.
Berkata ribuan kata bak menusuk jantung, menembus urat-urat daging, satu lubang telah selesai dibuat. Selamat.
Tetesan darah mengalir dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kini kemarahan tertahan jauh dari kata mudah. Inginnya merusak semua yang ada di dunia, genggam tangannya menyimpan suatu kemarahan. Tentang kebaikan yang tumpang tindih, tentang beribu pertanyaan di kepala, tentang manusia yang lebih rendah derajatnya jauh diselimuti beribu manusia.
Menggenggam jari jemari, nn kepala. Kini marah, sedih, takut bersatu padu dengan baiknya. Hati pun tak sanggup menahan, merebahkan diri, berkata, "Istirahatlah". Menopang diri sendiri yang tak sanggup. Ingin menulis apa yang telah dirasa, namun hati telah lama merumpang. Berjalan sempoyongan di jalan setapak, meninggalkan jejak darah di tanah lembab. Jatuh dari gelapnya kalbu, mati, terjejak oleh penghuni hutan belantara.
Jatuh dengan tangan terlentang,
Sayunya mata yang perlahan menidurkan,
Pertanda kematian hati telah datang.
Memadamkan riuh angin yang berdiri keji di hadapanku, Mencabik-cabik hingga mati dilahap malu.
Bertahan di hati yang tak rampung,
Di sana seorang ibu telah menunggu.
Patahkan kakiku,
Patahkan tanganku,
Patahkan hatiku,
Patahkan segala yang ada di dalam diriku. Ambil segalanya sampai tulang belulang terjatuh. Kalau bisa jangan tersisa. Ambil yang kau suka lalu tinggalkan. Ambil segalanya sampai hilang diusung angin. Akan ku susun kembali perlahan-lahan, tanpa kau penghianat.
Deburan ombak yang riuh layaknya ribuan pertanyaan yang telah lama tak terjawab. Langit penuh gemuruh enggan membantu laut mencipta awan. Marahnya matahari tak menunjukkan sinarnya.
Bulan bersembunyi di antara awan hitam,
Hati dan semesta berseluk-beluk dengan keadaan.
Ribuan mendung telah berlalu,
Entah hati siapa yang telah lama sendu.
Yang lama tak kunjung sembuh,
Yang segar berakhir rancu.
Januari tak berakhir dengan senangnya,
Bermula suatu kisah tanpa cerita.
Februari tak menunjukkan iktikad baik,
Hati pun tak lekas membaik.
Februari kali ini hampir sama dengan tahun lalu,
Berdiri sendiri untuk mampu,
Menumbuhkanku,
Menyingkirkan ratusan manusia bertopeng terdahulu.
Mereka yang jauh dari kata dekat, berperan mengurus diri. Diri manusia yang tak perlu diurus oleh manusia lain. Menjadikan keburukan sebagai pegangan yang harus terus digenggam. Jangan melepas, sampai kematian telah menyambut.
Menyambut kepergianku,
Supaya tau siapa yang benar-benar malu.
Ribuan topeng datang di tempat pemakamanku, untuk apa? Untuk masih membenci? Atau mempermalukan lagi? Berlagak jadi yang paling membantu, namun ternyata jauh dari kata mampu. Satu pembalasan luka belum tercapai, dua banding nol antara kau dan aku.
Di sana berkoar-koar tentang keadilan, kurangnya bercermin apa yang diperbuat. Lagi-lagi berkat kesalahan sekecil benih, bencinya sebesar dunia yang ditindih. Berisiknya ucapan yang terus mengoceh di sepanjang hari. Mengeluh sana sini katanya yang paling tau. Berlagak menjadi yang terhebat namun etika telah dilanggar dengan hormat.
Mengemis maaf yang tak kan dimaafkan. Mereka datang untuk menyatakan dirinya tak bersalah. Mempertaruhkan siapa yang harus meminta maaf, menanyakan keseriusan hati dalam memohon. Padahal hati sendiri yang tak mampu tuk menerima. Ego yang tinggi, izinkanku untuk pergi. Panggil ia pengecut, ia layak. Suara itu terdengar dengan gemuruhnya, sampai satu dunia mengetahui. Lagi dan lagi menjadikan kesalahan sebagai suatu hal yang harus dirawat.
Mereka sosok hitam yang berkeliling di segala sisi,
Menyodorkan pisau untuk mati.
Bayang-bayang buruk menggelapkan hati,
Datang untuk melampiaskan diri,
Datang untuk memalukan diri,
Datang untuk pergi di sepanjang hari.
Tiada satu manusia yang dapat dijadikan tempat bersinggah, kecuali mereka yang ada sewaktu aku lahir.
23-24 Februari 2023
Oleh Nayfa Matsna
Komentar
Posting Komentar