Tuan Kesayangan

Tuan Kesayangan


Tarian Hormat Kepada Angin telah berlabuh. 

Aku pulang, melewati rel kereta yang alarmnya mulai berbunyi. 

Rerintik hujan membasahi jas hujan milik bapak.

Sepeda motor yang sudah lama tidak diservice, menjadikan takdir Tuhan itu berjalan dengan sempurna, untuk selamanya.


Bapak memimpinku di depan, aku menunduk, jas hujan menyelimuti sepasang bapak dan anak yang mendarah.

Terdengarnya suara peringatan, menutup palang kereta dengan perlahan.

Celotehan kami berdua akan acara itu, meredam suara rerintik hujan. Hingga tawaran-tawaran manis untukku tersampai dengan bahagia.


"Ingin kemana? Sebagai ganti menyaksikan pertunjukan anak bunga merah itu", selalu ada saja hal yang membuatku  senang, ia idola favoritku.

Selalu ada untukku, untuk segalanya.

"Ke.. (tempat yang Tuhan izinkan)", ku menjawab dengan penuh kebingungan.

Aku pun berkata dalam hati, "Pak, ga capek apa? Selalu saja mewujudkan yang apa aku mau".


Suara kereta pun mulai terdengar walau yang ku dengar hanya suara, sangat menyambut hati, juga mengingatkan pada tulisan yang baru saja ku suguhkan.

Air mata yang malu-malu untuk tak diemban pun pada akhirnya tak tertahankan. 

Biasa mendengar Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat hanya pada speaker handphoneku saja dengan awalan suara kereta yang selalu mengingatkan ku pada, 

"Menjadi tua ialah hal yang paling menakutkan, bukan?",

"Oh Tuhan, cepat sekali ku bertumbuh".

Suara kereta itu terlihat asli, seakan aku berada di dalamnya. Dari Februari 2008 sejak 14 tahun lamanya hingga sekarang, sampai takdir Tuhan yang menghentikan.


Rintikan air hujan perlahan menjadi deras, tertunduknya kepalaku atas tanda berlindung. Suara kereta pun perlahan memudar dari telingaku.

Hati pun terasa lebih lega, seakan, "Sudahlah, tenang lebih dulu, tenang akan datang". 


Palang kereta kembali terbuka, tangan kanan bapak mengepal dan mengarahkan ke bawah.

Motor yang seringkali menjemputku sepulang sekolah pun berlabuh, menghantarkan kami berdua menuju tempat yang telah ku pilih. 

Terkadang aku bertanya,

"Pak, Pak.. Tak kah kau lelah? Selalu saja menuruti apa kemauan kepalaku ini. Yang ingin apa saja, yang tak mudah puas"


Sampailah kami ke tempat itu, 

Hatiku terenyuh, kalimat-kalimat tadi mengisi penuh hatiku.

Melepas jas hujan yang telah basah kuyup, kami pun membuka pintu tersebut dengan perasaan sedikit kecewa, tak dapat menyaksikan dan bernyanyi bersama penulis lagu Bertaut.

Namun bapak datang menawarkan banyak hal layaknya sebagai obat sekaligus menyembuhkan rasa kekecewaan. Juga ada wejangan dariku, untukku, "Telah Tuhan rencanakan seperti ini agar dapat menyantap makanan lezat bersama tulang punggung keluargamu."


Memesan beberapa menu dengan kata hati, "Aku merepotkanmu tidak ya, Pak?". Namun bapak meluapkan sepenuh perhatiannya untukku, sebagai penyembuh. 

"Sudah... Pesan sesukamu", kata bapak.

Rasanya ingin berkata, "Ada saja yang membuat hatiku senang"


Beberapa menu itu telah terpesan, kami menunggu di sudut ruangan.

Sambil menunggu, kami berbincang sejenak mengenai anak bunga merah dan pertunjukannya, hingga kekecewaan yang masih menggebu-gebu.

Sanjungan dariku, untukku pun datang lagi, "Sudahlah, telah Tuhan takdirkan, tak perlu menyesal".

Sampainya menu-menu yang telah kami pilih pun datang, aku menyantap dengan senangnya, bapak pun juga. 

Ia berkata, "Lezat, kan?".

Ditemani suara rerintik hujan, menjadikan takdir Tuhan itu pun berjalan dengan sungguh sempurna, sangat.


Beberapa santapan pun habis seketika, dengan adanya obrolan kecil-kecilan yang kami buat. 

Kami pun menunggu hujan untuk meredakan tangisnya. 

Bapak berkata, "Tunggu hujan reda dulu, ya", semakin banyak menghabiskan waktu dengan bapak, rasa-rasanya esok nanti aku akan rindu sekali dengan semua ini. 

Tentang hujan, kereta, Nadin, tempat dikala itu, hingga motor kesayangan yang selalu dikendarai kami berdua untuk menghabiskan waktu.


Hujan pun telah reda, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Perjalanan yang cukup lama itu mungkin salah satu waktu yang bisa ku habiskan bersama bapak, di Solo, sore atau siang hari.

Bermain ke tempat yang jauh dari rumah, membuat suasana hati jauh juga dari rasa sedih, bersama pereda nyeriku April lalu.

Aku pun pulang dalam keadaan bahagia lagi, berkat bapak. 


Bila ditanya seberapa sayang aku kepada bapak, akan ku jawab, "Seisi dunia, semesta, seisinya, jauh di sana, segalanya, dan...", Sampai habisnya kosakataku.

Ada suatu impian dariku kepadaku esok nanti ialah, aku dapat mempertontonkan kepada bapak tentang semua perayaan takdir yang telah Tuhan susun dengan sempurnanya, yang ku persembahkan dengan sepenuh hati.

Di dalam ruangan besar, isinya hanya semua takdir yang telah ku rayakan.

Esok nanti, entah Tuhan izinkan atau tidak.


13:08, 17:10

2, 3 Februari 2023

Oleh Nayfa Matsna

Komentar

Postingan Populer