Celotehan 5 Bulan Lamanya

  

 

Celotehan 5 Bulan Lamanya

 

 

 

SUDAH lama tak menulis. Terlalu sibuk ikut serta dalam ajang pembuktian diri, sampai-sampai hati yang mulai tergores ini tertimbun lagi oleh perasaan yang tidak mengenakkan. Satu rangkuman permulaan aku tegak sendiri telah dimulai, sejak satu bulan yang lalu. Semua telah ku ceritakan dengan sakit dan emosi yang menguap berabad-abad lamanya.

Kala itu terbendung tangis seluas danau Kapsia dan amarah setajam pisau yang diasah jagal kurban ketika hari Raya Idul Adha tiba. Kacau bagai halaman-halaman skripsi bertebaran, yang diketik susah payah oleh mahasiswa yang menjelang mendapat gelar sarjana.

Ini soal penghianatan, hasut-menghasut bagai di balai politik Indonesia, benci-membenci bak bertemu musuh di pinggir ladang, perundungan dengan halus dan mulus, mencipta topeng setebal dan sekokoh tembok benteng Marlborough. Tak usai-usai, entah mulutnya sudah setebal apa sekarang. Pasalnya terus mengoceh dari 4 bulan yang lalu. Tiada henti.

Telinga kiri tertutup, manusia-manusia di sisi kanan malah koar-koar tepat disampingku. Lirikan yang licik, mulut yang terus membasah bila membicarakan orang lain, dan tenggorokan yang selalu terisi penuh oleh setitik kesalahan sebagai energi utamanya. Itu semua dirangkum menjadi satu. Tak hanya satu insan yang demikian, melainkan lebih dari satu lusin manusia yang jenakanya tak main-main. Tak ada kata yang lebih tinggi dari kata "jenaka", sebab kocaknya mereka melebihi elang yang memakan bangkai temannya sendiri. Sedikit mengenaskan, banyak kejamnya.

Setitik kesalahan orang yang menurut mereka jauh dari jangkauan, akan selalu disematkan menggunakan paku beton hingga menembus dinding tetangga. Dalam sekali. Berisik dan menggelegar. Lalu satu orang akan memberitahu sekumpulan spesies yang sama seperti mereka (yang semangatnya berkobar-kobar ketika mendengar setitik kesalahan). Mata mereka seperti melihat segepok uang 100 ribuan yang ditumpuk lalu dibungkus kertas supaya tak berceceran.

Satu sama lain akan saling hasut menghasut. Itu hukum di perkumpulan setan di sekitarku. "Bila ia membicarakan orang lain di depanmu, maka ia pula akan membicarakanmu di depan orang lain", bisa dibilang itu syarat dan ketentuan di sini. Sudah menjadi lauk pauk sehari-hari, bahkan menu favorit. Mereka pun nikmat sekali memakannya. Lahap dan tak tahu diri. Rakus seperti harimau memakan bangkai tikus.

Entah apa tujuanku sekarang, untuk membalas atau berdiam. Berdiam untuk membalas, atau berdiam untuk melampaui. Entah pemilihan kata yang mana yang lebih tepat.

Ramadhan masih dengan hukum benci-membenci. Entah pahala puasanya diterima tau tidak, lidahnya akan terus bergerak sana-sini menyentuh langit-langit rongga mulut untuk selalu menguliti kesalahan orang lain. Lihai dan mahir dalam profesinya. Mungkin hidupnya hanya untuk menghasut, menghianati, membenci, dan hal serupa lainnya. Tak berguna dan membuat orang lain merugi. Layaknya bangkai tikus yang semakin hari semakin bau busuk.

Sekarang yang tersisa hanya orang tersayang. Yang betul-betul mau mengulurkan tangan dengan sekuat tenaga ketika terperosok di pinggir jurang. Ada juga yang tiba-tiba menghampiri mengulurkan tangannya lalu menarik tangan lemahku sampai urat-urat tangannya terlihat. Ikhlas, tanpa pamrih.

Setitik tinta bila diteteskan pada kain putih, akan meluas seluas samudra sesuai banyaknya tinta yang diteteskan.

 

Tengah malam, 14 April 2023.

Komentar

Postingan Populer