Dalam Diam
Secercah cahaya membasuh hatimu yang sedang pilu.
Kini, kau harus bangkit sendiri,
Tanpaku,
Tuhan memelukmu erat dengan kesyahduan oksigen di pagi hari sepanjang hari.
Melengkapi hari yang hampa,
Seserpih debu rindu jatuh dari dinding-dinding rumahmu,
Mungkin kini waktunya untuk melupakanku.
Aku hanya sisa abu yang menguap dari panci kesayanganmu,
Kelak menjadi awan-awan peneduhmu,
Menghampiri bersama surya yang ku bawa segar dari campur tangan kerinduan,
Mencipta hangat dalam diam,
Menyelinap menghangatkan tubuhmu,
Dalam diam.
Ku bisikkan kata melalui uap-uap yang beterbangan,
Bahwa aku sungguh rindu,
Dalam diam.
Sampaikan rindumu melalui sabit,
Kelak kita bertemu di malam dingin bersama Venus yang mulai unjuk gigi.
Akan ku jagamu bersama cahaya yang selalu bersinar,
Melalui sabit, rinduku tersampaikan.
Titipkan semua rindumu kepada langit yang tak hanya berwarna biru.
Di sana, aku hadir memelukmu.
Membukakan tangan selebar-lebarnya untuk insan yang telah lama tak pulang.
Keluar rumah sejenak menikmati malamku,
Salurkan semua rindumu melalui sabit yang terpampang indah di belahan bumi bagian barat,
Sang perantara dua insan yang saling membantu.
Nikmati semua kesedihan yang kita cipta,
Kenang semua kebahagiaan yang kita sihir di atas laut kemarin sore,
Biarkan waktu menyelesaikan sakitmu,
Ku hadir dalam kejauhan awan di atasmu.
Biarkan Tuhan menempati hatimu yang kosong dan berdebu,
Kelak kebahagiaan menyerta untuk selamanya.
Suratku untukmu,
Yang sungguh singkat daripada menunggu buah rambutan jatuh dari pohonnya.
30 menit awal 24 April 2023
Komentar
Posting Komentar