Malam, Coba Kau Pejamkan Mata

Aku suka bermalam. Sebab, malam meracik beberapa warna baru untuk menimpa warna yang hanya hitam dan putih tadi siang. Bermalam dalam arti berenang ke pulau kapuk, bersiap menjelajahi mimpi-mimpi besarku di sana. Jurnal hari ini juga telah siap pada malam hari. Semua perihal buruk kutinggalkan. Atau biasanya ku peluk dan menyatukannya dengan hal baik, supaya seimbang. 


Malam menjadikanku sosok yang selama ini kuidam-idamkan. Seorang anak kecil yang hanya melihat dunia masih dipenuhi hal indah. Buruknya telah ia lupa. Seluk-beluknya sudah ia buang sesaat sebelum merebahkan tubuh mungilnya ke tempat tidur. Di depan pintu, ia taruh segunung perihal buruk, lalu merebah tanpa rasa takut.

Pintu kamar tidurnya menjadi pembatas antara ia yang sudah rusak karena menghirup abu tadi siang dan ia yang masih memandang dunia dengan pernak-pernik kinclong tanpa kotor dan keruh. Menginjakkan kaki ke tempat tidur, tandanya si kecil sudah siap berenang lagi di mimpi. Melihat yang indah-indah saja, tanpa terkecuali. 


Lalu pagi yang seram telah tiba. Kini serigala ketakutan mulai terlihat dari retina matanya yang masih sipit dan bengkak. Keberanjakannya dari tempat tidur pertanda dewasanya telah siap berperang. 


Takut, sedih, dan semua-mua yang tak membuatku tenang, semua ku genggam keras di tangan kananku. Beritahu aku jika kau pun begitu. Kau buka tanganku, ku buka tanganmu. Menerbangkan ketakutan yang tak pantas berada di dunia.


—nayfaa matsna.

Tengah malam, 6 Agustus 2023.

Komentar

Postingan Populer