Pantas / Tak Pantas Dirayakan
Kalau tiada mereka, aku tak kan lanjut hidup untuk beberapa bulan setelah bulan Januari tahun lalu.
Aku ialah nayfa yang kotor. Yang menutup mata akan hal hal baik. Memblokade seluruh hal indah yang berpapasan. Hanya berlalu Lalang, tanpa merampas tangannya satu pun untuk memeluk nyawaku. Semua hal indah aku lewatkan dan memeluk hal kotor yang seharusnya tak ku peluk dalam-dalam.
Aku seorang yang bermimpi besar. Kalau semua impianku bisa ku genggam, akan ku peluk mimpi-miimpiku dengan erat. Sisanya, aku hanya manusia dengan masa lalu yang kotor. Mereka yang mendekapku dahulu ialah orang-orang yang menerima sebagaimana takdir memeluk tanpa seizinku. Namun, yang menciptakan takdirku telah mengizinkanku untuk hancur dan kotor sekujur tubuh. Sisa tulang-belulang yang masih ku tegakkan.
Kalau bertemu dengan mereka yang menyaksikan aku sewaktu keruh menjemputku, aku hanya dapat berlindung di balik batu besar tanpa sepatah kata apapun. Wajahku rata tanpa berbentuk. Semuanya akan ku tutupi dengan topeng besar tanpa suatu lubang sekecil pun.
Aku seorang yang belum pantas dirayakan.
Namun, mereka ; asal mula aku bisa menjadi bayi yang utuh, tentang kotor dan bersih, tentang keruh dan jernih, baik dan burukku, akan selalu mereka rayakanku.
Semua-mua yang telah menancap di nyawaku, semoga merayakanku tak berakhir dalam waktu dekat.
—nayfaa
21 Agustus 2023
Komentar
Posting Komentar