Yang Tak Kan Pernah Terselesaikan

Sebagaimana setiap kelahiran karya-karya Nadin, ia selalu menceritakan anak barunya dalam bentuk sebuah video. Karena aku yang kurang pandai berbicara dan tak berkutik di depan kamera, semoga kata-kata pendek dariku ini mampu membungkam kelemahanku serta mampu menceritakan cerita karya kecilku yang satu ini. Nadin sebagai pusatku untuk melahirkan karya-karya kecilku, seharusnya aku juga pantas bercerita dan menceritakan apa yang karya ini ingin ceritakan. 


Sebagaimana sebuah karya yang berpindah tempat, rumah ke rumah, gedung ke gedung, jalan ke jalan, harus mampu menyihir tempatnya dengan sekelibat makna yang terlahir dari kepala pembuatnya. Kalau belum kenal siapa aku, aku ialah Nayfa Matsna. Kalau kita bertemu, kamu bisa menyapaku dengan nama "Nayfa". Yang selalu ingin menempatkan karya-karyaku di tempat yang tepat. Yang mampu merayakan takdir Tuhan, yang mampu membuat orang tergila-gila akan perasaannya sendiri. Gila dalam arti ia mampu merayakan perasaannya, entah bahagia maupun marah. Ternyata prakataku ini terlalu panjang, jadi langsung saja bercerita apa yang karya ini ingin sampaikan. 


Karya ini berjudul "Yang Tak kan Pernah Terselesaikan". Karya ini merupakan bentuk kekalahan dalam suatu nyawa yang hidup. Terkait dengan hal yang sensitif bagi beberapa orang, aku harap hal ini tak lagi sensitif bagimu, karena damai tak jauh dari kata mudah. Semoga cerita karyaku ini mampu menjadikanmu orang yang mampu memeluk lukanya sendiri. 

1. Tangan kiri besar berjejak darah mengartikan bahwa luka yang ia bawa atas perlakuan tangan kanannya serta kepala yang kacau, tak kan menjadikan hidup yang sebagaimana damai mudah dicapai, luka tangan kirinya menjadikan damai jauh dari kata mudah. 

2. Luka maupun darah yang tercecer diatasnya mengikat beberapa jari putus yang berarti bahwa seumur hidupnya, luka yang ia perbuat atas perlakuan tangan kanannya tak kan kunjung memudar. Malah tak menyelesaikan masalah, "Jari" yang berarti kesedihan maupun keadaan yang membuat ia terpuruk (entah sekarang atau nantinya), akan terus mengkilas balik perasaan saat ia malakukan hal keji—sebagaimana tangan kanannya dahulu meluka—dahulunya. Kalau emosi waktu itu menumbuhkan pikiran "Aku harus mati hari ini", maka jika emosi yang sama datang lagi, ia akan terus menumbuhkan pikiran sebagaimana dahulu ia berpikir demikian. Kalah dalam satu pertandingan, menjadikannya ia kalah dalam bermacam pertandingan.

"Bagaimana mau damai kalau luka fisiknya masih ada?".

3. Satu topeng hitam (di kanvas bagian atas) yang terus menutup-nutupi tangan kirinya, yang berarti ia masih terus bersembunyi, enggan mengakui bahwa ia merupakan seorang yang "kotor". Yang kalau kau lihat lebih dekat, wajahnya sudah tercoreng arang hitam, hatinya berdarah-darah, tangannya berat sebelah, juga kepalanya yang masih mudah memeluk marah.

4. Beberapa ekspresi entah sedih maupun bahagia, warna biru atau merah ialah yang menentukan ia yang sesungguhnya. Yang telanjang di hadapan dunia. Yang sebagaimana hatinya berbicara tanpa rasa malu.


Semoga karya ini mampu mengelus-elus hatimu hingga perihal damai tak lagi menghabiskan nyawamu. Juga nyawaku.


Kalau kau bertemu karyaku yang satu ini atau bertemu denganku secara fisik, anggap saja narasi ini tak pernah ada. Anggap saja aku terbungkus perban sekujur tubuh. Anggap saja aku yang "kotor" tak pernah ada. 


Lukisan ini selesai pada, 21 September 2023.

Narasinya juga selesai seminggu kemudian, 28 September 2023.

Komentar

Postingan Populer