Sayangmu Jangan Sampai Kau Lupa

 

Sayangmu Jangan Sampai Kau Lupa

Oleh Nayfa Matsna, Mulai ditulis pada 27 Oktober hingga selesai pada 4 November 2023.

    Pengantar, supaya mudah kau tahu apa ceritanya.

Gerbong keretaku telah melaju sampai stasiun Oktober. Setiap pemberhentian pada stasiun kecil, orang-orang akan diberi waktu untuk berlalu-lalang keluar masuk pintu yang sedang terbuka lebar saat tiba di stasiun. Apabila ia sudah selesai menjalankan peran yang telah diperintah oleh sang pemilik kereta api (sekaligus masinis), maka ia akan keluar satu persatu dari gerbong pada setiap stasiunnya lalu ditinggalkan begitu saja tanpa mengantongi bingkisan apapun. Biasanya, pemberhentian keretaku berlangsung saat kalender yang tergantung di dinding dalam kereta menunjukkan angka 28, 29 (biasanya terlihat pada salah satu dari 48 gerbong), 30, atau 31. Bila perannya berlanjut, maka ia boleh turun sebentar membeli makan atau minuman—sebagai bekal selama perjalanan sebulan—di stasiun, lalu menempatkan dirinya di gerbong selanjutnya (depan) pada bangkunya masing-masing. Posisi bangku mereka boleh berpindah di setiap pemberhentiannya atau saat perjalanan berlangsung. Bisa saja yang tadinya duduk di paling belakang, berpindah ke bangku paling depan sesuai perintah pemilik kereta. Pemilik kereta bebas menempatkan manusia yang akan hadir merayakan ataupun menyambut kekalahanku sesuai pada sebuah buku miliknya yang berisi lelembaran, yang telah tertulis sejak sesaat sebelum adanya dunia. Mengenai apa yang akan terjadi pada seluruh dunia dari detik ke detik.

Sebelum memasuki gerbong baruku, pemilik kereta akan memerintahkan pada manusia-manusia yang sedang terburu-buru ingin menaiki kereta—karena pintunya segera tertutup, “Jika kau sudah masuk ke dalam gerbong barunya, tolong obat tidur dariku ini langsung kau teguk cepat-cepat. Efek obat tidur pada setiap orangnya akan berbeda-beda. Ada yang sehari, ada yang seminggu baru terbangun, ada juga seminggu sebelum ia berpindah ke gerbong depan, baru terbangun dari tidurnya yang lelap. Ada juga yang diberi beberapa obat tidur oleh-Ku supaya setelah ia menjalannya perannya akan tertidur lelap dalam mimpi-mimpi besarnya. Lalu saat efek obatnya telah habis, maka ia akan lanjut menjalankan perannya. Obat tidurnya juga ada yang akan memiliki efek ampuh dalam seminggu saja, selanjutnya ia harus tertidur lagi sampai stasiun selanjutnya.”

Ia juga mengatakan pada 3 orang kesayanganku yang diminta untuk menjagaku sampai keretaku berhenti penuh, “Saat ia masuk dengan penutup mata yang telah terbuka, tolong sambut dengan penuh gemuruh bahagia sampai hatinya penuh dengan cerita-cerita tentang-Ku. Kau akan hadir sepenuhnya sampai keretanya berhenti tanpa berlaju lagi dan tiada lagi pemberhentian di setiap stasiunnya. Atas perintahku. Jangan sampai tidur.”

 Setiap orang boleh membeli bekal terlebih dahulu atau langsung menginjakkan kaki ke gerbong selanjutnya. Di saat kereta mulai mengerem dan terhenti, mataku harus ditutup kain berwarna hitam. Sehingga aku tak kan tahu siapa saja yang akan berpindah tempat dan siapa saja penumpang yang berwajah baru di mataku.

Setelah sekiranya pemilik kereta telah mengatur bangku, jumlah, dan posisi penumpang, aku baru boleh membuka kain hitam—yang membuatku membuta sekejap dan terasa gelap gulita—di mataku. Setelahnya, aku bebas membuka pintu pembatas gerbong dengan sekeras tenaga atau pelan tapi pasti saat keretanya mulai melaju. Saat pintu terbuka, aku berjalan dengan perlahan dari baris satu ke baris selanjutnya. Dengan menginjakkan kaki ke gerbong yang baru, maka pintu pembatas gerbong pun dengan sendirinya akan hilang seketika layaknya ditambal seember besar semen cair yang pengeringannya sangat cepat. Langkahku bisa terdengar 28 sampai 31 kali pada setiap gerbongnya. Tergantung pada gerbong mana yang terinjak oleh telapak kakiku.

Saat menginjakkan gerbong yang baru dan masih sangat asing bentuk dalamnya, aku hanya dapat melihat gerbong dengan satu baris penuh disinari lampu yang bercahaya—yang terang benderang layaknya sedang berpesta sampai kereta lain yang berpapasan menganga—atau gelap kelam dalam satu baris tempat bangku terletak. Gelap maupun terangnya tampak acak di sepengelihatanku. Terkadang 4 baris tampak gelap gulita, 11 baris tampak cerah nan terang, namun disambut lagi dengan 3 baris menggelap.

Kakiku akan diborgol dan dikaitkan ke bawah dinding dalam kereta. Dalam bentukku yang tak tahu dan tak dibocorkan—oleh sang pemilik kereta sekaligus masinis—akan terjadi apa selanjutnya, aku hanya dapat melihat dan bergerak bebas di dalam satu baris saja. Saat kalender menunjukkan angka 1, maka kakiku tertahan pada barisan paling belakang gerbong. Saat kalender menunjukkan angka 10, maka aku telah sampai pada barisan ke-10 dari barisan paling belakang gerbong keretaku.

 

 

    Aku, ini kesayanganmu,

Sudah jauh sekali dengan gerbong April yang lalu. Berjarak 18 gerbong lebih depan, kain yang tadinya putih suci tak bernoda—yang ku jemur di jendela keretaku—telah terkena badai lumpur bertubi-tubi. Sudah sangat kusut dan lusuh dari dekat. Bercak coklat kehitaman nampak dari jarak yang amat jauh dari kain itu berada. Sampai-sampai kereta yang berpapasan dengan keretaku sadar akan semua-mua yang ada dalam diriku, termasuk kotor busuknya. Bagai seluruh bagian bumi dan seisi dunia jijik akan kotor dari semprotan lumpur yang entah dari mana asalnya.

Orang-orangnya telah jauh berbeda. Manusia yang sempat ku sayang April lalu sekarang telah ku turunkan secara paksa dan kasar dari gerbong. Di sebuah gerbong yang baru; Agustus, September, dan Oktober, orang-orangnya masih sempat asing di mataku. Gerbong Januari yang mulai menidurkan penumpang lainnya. Gerbong Februari dan Maret yang dulu penumpangnya tak pernah tidur, kini mengacau dan pelan-pelan tertidur pulas di bangku mereka masing-masing. Mereka terdiam sambil terdengar suara dengkuran sepanjang hari. Entah telah tertidur berbulan-bulan atau sudah mati kelaparan saking banyaknya buaian penuh kebohongan yang telah ditebar. Bau busuk dan berlendir bak masakan tak layak makan. Tinggal menunggu stasiun selanjutnya saja mereka dibuang.

April dan Mei yang menurunkan mereka—yang telah tertidur lama dan berakhir membusuk di tengah lajunya kereta yang tak tahu akan berhenti kapan dan di mana—di sebuah stasiun tempat pembuangan orang-orang yang dikutuk. Entah gerbong April kali ini sama dengan gerbong April yang dulu, ku anggap mereka mirip hampir sebelas dua belas. Semuanya sama, namun satu yang berbeda ialah; hatiku di gerbong April yang sekarang tak sepenuh di gerbong April yang dulu. Kalau dulu, bahagianya akan ku tebar ke langit dan bulan. Kalau dulu, Tuhan selalu menjadi topik utama yang ku bahas. Tapi entah setan dari tempat biadab mana yang datang hingga menebas dan melunturkan warna kain putihku. Demi tak menghilangkan rasa sayangku terhadap gerbong April dahulu, aku masih selalu berkunjung ke tempat yang menjadikan aku mengenal bulan lebih dalam. Kalau tiada tugas dari sekolah yang lupa ku kerjakan atau hal paling mendesak lainnya, ku kunjungi sebuah tempat yang susah kau kunjungi bila dua persyaratan tak kau usahakan.

Syarat yang pertama ialah; kau harus bertemu bulan Ramadhan. Tempat itu hanya bisa dikunjungi pada bulan Ramadhan. Di gerbong terspesial. Hanya di sana kau dapat menemukannya. Jika pintunya terbuka, maka kau dan aku akan melihat seisi dunia bertebar bintang-bintang terang di angkasa. Semua hal baik akan bersinar lewat terangnya bintang, lalu langit kan membawakan angin hangat yang terasa sampai lubuk hati yang terdalam.

Entah apapun bentuknya, mengindahkan takdir yang Tuhan beri lalu berkumandang kepada bulan—yang utuh maupun sabit dan segala bentuk lainnya—di atas sawah yang banyak terdengar suara jangkrik berseliweran di mana-mana, ialah suatu kewajiban yang harus ku rasakan hangatnya di saat Ramadhan hadir memelukku. Setelah pintunya terbuka, gawai atau barang apapun yang mengganggumu berkomunikasi dengan pencipta, akan dimatikan penuh.

Syarat yang kedua ialah; kau harus bertemu pagi yang sedang mengusahakan matahari lahir dari arah timur bumi. Syaratnya cuma dua di atas tadi. Setelah bulan Ramadhan dan pagi hari telah tiba, maka dengan sendirinya sebuah pintu di bagian belakang gerbong—tadinya menjadi pintu pembatas gerbong—akan muncul perlahan tanpa mengagetkan penumpang seisi gerbong. Tepatnya di belakang bangku paling belakang. Kau bisa langsung mendorongnya. Pintunya sangat mudah terbuka, mendorong tanpa tenaga pun dapat terbuka dengan baik. Tapi, satu syarat yang sangat penting dan bukan merupakan persyaratan tertulis ialah;

Hatimu harus penuh.

Cintamu harus utuh kepada Tuhan.

Setelah kau membuka pintunya, maka di sana akan langsung disajikan sepeda yang ringan kau kayuh. Tak perlu ngos-ngosan untuk sampai ke sana, tempat yang sebelas dua belas dengan surga itu sangat dekat dan genjotan pedal sepedamu tak kan seberat beban tuan kesayanganku—seorang lelaki paruh baya yang mengajariku mengenal Tuhan, yang jaketnya sudah lusuh dan sepatu penuh dilumuri lumpur yang telah mengering.

Di sana telah disediakan sebuah peta yang menunjukkan arah sawah dan langit beserta pernak-perniknya berada. Waktumu tergolong sebentar. Waktunya hanya saat matahari mulai terlahir hingga saat kau rasa hatimu sudah lega akan hal yang akhir-akhir ini membuatmu rusak. Kau bisa izin meminjam gawai sebentar untuk mengabadikan langit dan bulan yang indahnya tiada tara di hari itu.

Pergilah setiap hari untuk mendapat predikat fotografer handal langit dan seisinya!

Sepedamu jangan lupa kau jaga. Walau di waktu dimana manusia sedang bermalas-malasan—setelah sahur akan tertidur pulas dan sepi—akan tetapi sepeda itu akan terus menemanimu berkunjung ke tempat terindah ini.

Bisa kau habiskan waktu selama sejuk masih terasa sampai kulit halusmu untuk berbicara dengan Tuhan lewat perantara melihat ciptaannya yang utuh tegak di atas langit menjagamu sampai semua kotormu akan bersih seketika. Banggamu akan kau junjung ke langit di pagi-pagi buta itu. Beribu kata terima kasih akan hadirnya dirimu di dunia ini akan terus menghantuimu hingga kau kembali ke gerbong kereta tadi.

Gerbong April kali ini juga sama. Pintu ke tempat terindah itu muncul seketika setiap pagi di bulan Ramadhan. Namun entah mengapa satu persyaratan yang tak tertulis belum terpenuhi. Membuka pintunya sudah, terjun ke tempat yang sebelas dua belas dengan surga sudah, mengayuh sepeda untuk pergi ke sana dan membaca petanya dengan baik juga sudah, menjaga sepeda dan mengabadikan hingga menjadi fotografer bulan terbaik nan handal pun sudah.

Namun satu syarat yang kian jadi permasalahan pun belum terpenuhi. Mungkin karena lelaki paruh baya kesayanganku di gerbong April yang lalu sudah lama tak mengenalkan dan menceritakan dengan sebaik-baiknya kepadaku tentang Tuhan.

Lelaki paruh baya, juga Puan yang menghantarkan dan menyambutku ke atas kereta ini akan selalu hidup, selalu ada, dan tak kan pernah tidur. Meski ia telah menghilang dari bumi atas perintah pemilik kereta. Pemilik kereta yang selalu ku rindu kehadirannya di hati manusia sepertiku.

Bulan selalu tegak di atas, namun jarang sekali aku melihatnya. Entah sekarang lupa akan hal yang selalu mengindah dan terindahkan, atau memang sedang kabur akan hal-hal indah.

 

Gerbong Aprilku tak kan penuh bila pada tengah malam tak bermalam memandang bulan yang utuh di atas kepalaku. Lewat jendela kereta yang terdengar suara lajunya semakin membosankan di telinga, ku dongakkan kepala kerasku. Terkadang langit malam bersih tanpa adanya awan, layaknya ada orang yang menyapu awan di atas sana. Terkadang langit malam beralas awan yang ngalor-ngidul mencari perhatian para kami-kami yang mencintainya—langit dan segala apapun yang ada di dalamnya—dengan sungguh.

Dalam hitungan menit awan akan menutupi bulan yang sedang indah-indahnya. Dalam hitungan detik awan akan mengalah dan menepi sejenak membiarkan bulan tampil gagah di hadapan dunia.

Bulan berhasil menarik perhatianku untuk waktu yang lama. Saat mata sayuku ini memandangnya mendalam, entah mengapa butiran hujan dari kelopak mataku terjatuh begitu saja. Beribu detik dalam rangkapan kasihnya; dari Tuhan melalui bulan.

Dudukku yang menghadap arah luar kereta, tangan kananku menyangga dagu agar mata lelah tak mudah menidurkanku. Masih pada perkataan lelaki paruh baya kesayanganku, ku pandang bulan yang jauh di atas sana. Setelah peperanganku dengan takut—yang masih berenang di kepalaku—siang hari tadi, hingga lelah yang terbayar saat semua manusia tak memvalidasi bahwa aku ada di dunia ini, aku pun bercerita padanya; bulan.

Terangmu menjadikan gelap yang ku rangkul dengan pelan memisahkan diri meninggalkanku.

Gelap kelamku telah menjauh hingga musnah di depanmu.

Ku anggap ceritaku kepada bulan ialah rangkuman seharian penuh yang ingin ku sampaikan kepada-Nya; Tuhan. Yang telah membuat lelembaran apa yang akan terjadi di dunia perdetiknya.

Saat air mataku terjatuh sampai penyangga kaca jendela, ku berkata pada diriku yang telah menebas kalahku pada gerbong Januari, Februari hingga berkelanjutan sampai 1 baris pada gerbong April, “Tetap menjadi orang yang selayaknya seperti ini ya, aku”

Terlepas dari kotor dan kalahku pada gerbong Januari, Februari, dan Maret lalu, aku ialah aku yang dimiliki-Mu, Tuhan.

Aku ialah aku yang ingin selalu meminta maaf sebesar dunia apabila muka bulan maupun langit tak tersimpan di gawaiku pada setiap gerbong yang ku pijak.

Yang selalu ku rindu, aku yang berkata pada Puan tersayang, “Tuhan baik banget ya, Puan?”

Engkau ialah yang selalu ku rindu.

 

Merayakan takdir Tuhan, April 2022.

Lanjutan dari, “Gerbong Kereta Kesayanganku”

Terinspirasi dari “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” oleh Nadin Amizah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer