Senja Termendung
AKU duduk di bangku sekolah menengah pertama yang
susah senangnya ditampung sendiri. Memakai atasan putih berkerah panas, bawahan
rok panjang berwarna biru, dasi yang sama warnanya dengan bawahan, ditimpa 3
garis miring benang-benang yang saling mengikat tanda tahun terakhirku di SMP telah tiba. Hingga
logo OSIS yang hanya dipajang tanpa ikut serta ke dalamnya. Menginjakkan kaki di lantai
kuning kecoklatan, tak jauh dari rumah, kurang lebih 10 menit untuk sampai. Berpagar
besar dihadapan lalu lalang manusia, lorong sunyi yang sampingnya terdapat 2
kaca untuk refleksi diri, pajangan siswa, dan promosi dari luar sekolah. Lebar luasnya tak
terkira, mungkin cukup untuk menjemur 900 manusia. Kalau lari dari ujung sampai ke ujung capek
juga, entah berapa meter kali berapa meter.
Pot tanaman yang berjejer
memenuhi teras setiap kelas, tanaman gantung juga ikut serta memberantas
polutan yang sudah mulai mematikan bumi, walau dampaknya tak sekeras yang
dicipta sampah plastik. Kini sebagai pahlawan ramah lingkungan, tanaman itu
sangat disayang para pengajar gen-X
maupun gen-Y yang seharusnya juga turun menurun ke
gen-Z.
Menyiram, menata, dan merapikan setiap Jumat yang ditentukan, yang rutin
dilaksanakan mungkin kurang dari satu bulan.
Kelas 7 yang masih tertidur
pulas di tempat tidur, kelas 8 yang masih mengantuk, sayu, dan merem melek,
kelas 9 yang sudah terbangun 100 persen dari tidurku. Nama Senja Gitarja
terlekat jelas dengan huruf berwarna
hitam di atas persegi panjang merah di dada sebelah kanan yang
putih berlahan kosong. Kini sudah berwarna merah, tak lagi berbenang kuning. Dijahitkannya setiap pergantian tahun pelajaran oleh
nenek
yang selalu sukarela membantuku. Yang
dahulunya berwarna hijau menjadi warna kuning. Setelah menginjaki warna kuning
yang penuh lika-liku, tibalah di warna merah. Akhir jenjang di sekolahku.
Nama yang diberi ibu dan bapak sesaat setelah beberapa
hari dari kelahiranku. Senja
Gitarja. Kelahiran dengan penuh bimbang. Berumur
selayaknya orang-orang,
atau hanya bertambah
1 tahun setelah kelipatan 4. Untung saat itu ibu dapat memilih hari, jika tidak,
mungkin umurku saat ini
masih 3 tahun. Seorang bayi
dewasa.
Berjalan menuju pintu dekat
tangga yang menjadi akses adik kelas ke persinggahannya sampai 6 jam kedepan,
di sana aku berada. Di pojok sebelah kantin berada. Di tempat penuh kegelapan
yang hari demi hari semakin menyelam, mengelam, dan tenggelam. Dari Juli tahun lalu sampai Mei nanti, dari banyak
orang yang menyukai, hingga habis di telan cepat-cepat sampai tenggorokan.
Sampai-sampai tersedak di pangkal tenggorokan.
Tahun terakhir, lebih tepatnya 2
bulan terakhir menyambut kelulusanku, seluruh manusia yang tadinya putih suci
di mataku, sekarang menghitam
dan gelap menuju kekelaman. Semuanya saling menghianati dan terhianati. Sama
juga denganku, tak luput dari penghianatan. Entah jadi penghianat atau yang
terhianati. Ritual di satu ruangan itu selalu memakai topeng, hanya lepas
sewaktu berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing (atau mungkin tetap saja
memakainya).
Ada yang perlahan tapi pasti
menusuk dari titik buta, ada yang senyumnya melebihi manis madu murni tapi
ternyata pahit bak memakan pare satu kebun, dan banyak spesies manusia lainnya.
Lahir
dan besar di kota Solo dengan iringan gamelan yang ku sukai sejak kecil. Juga
biasanya bapak selalu mengajak setiap minggunya ke pendopo―tempat biasanya kami
menonton―untuk menikmati pertunjukan seni. Mulai dari seni tari yang biasanya
menunjukkan: Tari Bedhaya Ketawang dengan mitos percintaan kerajaan Mataram-nya; Tari Gambyong yang dahulunya
digunakan sebagai upacara ritual pertanian para penari yang sekarang kerap digunakan untuk menyambut tamu,
perayaan hari besar dan pernikahan; hingga Tari Serimpi yang dibawakan
oleh empat penari
yang masing-masing mendapat sebutan air, api, bumi, dan tanah.
Waktu-waktu
tertentu juga pendopo tersebut menggelar seni peran. Yang ini sangat kusukai. Entah
seni peran tradisional maupun modern, semua mimik wajah para pe-seni peran
membuatku jatuh hati. Lengkap dengan gerakan-gerakan koreografi yang khas dan
elegan hingga menusuk jiwa raga.
Saat
sudah mulai bosan hanya menonton tari atau teater, kami berdua: aku dan bapak,
atau aku dan ibu, maupun kami bertiga berkunjung ke tempat pameran seni rupa
berada. Rutinitas ini berjalan sekiranya 3 tahun. Sejak kelas 2 SD hingga kelas
6 SD saja, sebab akhir-akhir ini banyak kesibukan yang harus diselesaikan.
Semua orang juga sibuk mengejar mimpinya masing-masing, begitu juga denganku.
Tumbuh dengan bunyi gamelan, sinden, tekstur lukisan, puisi-puisi Katon Bagaskara, hingga keajaiban patung dan suara parau para pemain seni peran menjadikan kecilku penuh dengan seni dan antusiasnya. Entah dari cabang seni mana itu.
―
Tempat
Biadab, 6 Maret 2023
PAGI itu terasa cerah, awan-awan absen terlebih dahulu untuk pagi hari ini.
Walau sudah pagi, bulan purnama masih samar-samar menunjukkan pesonanya di
bagian barat bumi. Matahari menerangi bumi dengan secercah sinar yang ku
rindukan sejak Februari yang tampak murung dan malu-malu. Sinarnya bertumpuk di
atas jendela, mengantarkan hangat yang tak merisaukan, yang ditepis oleh
atmosfer bumi manusia. Seperti biasa, ritual pagi hariku ialah memutar lagu Nadin Amizah: Menangis di
Jalan Pulang, Seperti Takdir Kita yang Tulis, Sorai; lagu-lagu dari Banda Neira:
Utarakan, Kisah Tanpa Cerita, Hujan di Mimpi, Matahari Pagi; tak lupa juga dengan karya Mas Kunto Aji yang
memberi secercah harapan untuk kembali hidup; juga lagu Sal
Priadi yang akhir-akhir ini
ku putar kembali: Malam-Malam Ubud, sampai-sampai Ibu bosan mendengar lagu yang
hanya seputar Nadin Amizah, Banda Neira, Kunto Aji, dan Sal Priadi. Selera kami berdua
sangatlah kontras. Aku yang terkesan lembek dan ibu yang terlalu nge-rock
dengan embel-embel supaya bersemangat di pagi hari. Juga lagu-lagu jadul 90-an yang
romantisnya bukan main. Jamrud, Slank, Dewa 19, Chrisye, Vierra yang memaksaku
nge-rock atau nyemplung
mengenal cinta sebentar.
Walau agak nyaring di telinga tetapi masih tertoleransi karena tak hanya ibu yang suka dengan hal yang
berbau lawas, aku pun juga.
Seperti lukisan; vinyl; guci keramik maupun tanah liat; prangko; meja atau kursi yang vintage-nya
tak main: dilapisi warna coklat,
terlihat kokoh; jam tangan dengan stainless steel yang tahan korosi
bertahun-tahun; maupun jam dinding yang berbunyi setiap 30 menit sekali dengan bunyi satu
kali hingga genap 1 jam dengan bunyi sesuai digit angkanya―misalnya pukul 1
siang berbunyi satu kali, pukul 2 siang berbunyi dua kali, dan seterusnya―;
kertas kecoklatan karena sudah lama menua; buku-buku komik dengan ejaan
lama; cergam
(cerita bergambar) berseri berkelanjutan yang pastinya malas ku baca (karena aku tak lihai dalam
hal baca-membaca); tempat bir jaman dahulu yang tentunya tak
kan dipakai juga, majalah-majalah kuno, hingga gelas-gelas atau piring-piring
kecil mini khas China berbau lawas yang dibawakan bapak sesaat setelah berkunjung ke
pasar loak setiap paginya. Hanya absen bila ada keperluan penting atau istirahat
untuk waktu yang singkat.
Walau sudah lusuh dan tak terawat namun terkesan elegan dan antik serta cantik
di mataku.
SETENGAH dari 4 bulan telah terlewati. Kegiatan
yang dinanti-nanti beramai-ramai manusia
itu terlaksana. Di mana lomba antar kelas dilaksanakan.
Pagi itu, terlihat orang-orang
sedang mempersiapkan dirinya pergi bekerja, menempuh ilmu, dan keperluan
lainnya dari balik jendela. Ku lihat diriku sendiri ini yang tampak jernih, tak
kacau, berusaha menerima tentang yang telah ku tanam di depan rumahku. Esok itu
mungkin jauh lebih baik, mengeringkan tenggorokan sejak pagi-pagi buta hingga terdengarnya adzan Maghrib
untuk
redanya
gaduh, menerima seluruh takdir yang Tuhan cipta dan diperuntukkan untukku.
2 minggu atau bahkan kurang dari
2 minggu menuju Ramadhan, mungkin ini waktunya untuk membiasakan diri bertahan
dikala angin ngalor-ngidul menginjak punggung dengan keras. Tetap berdiri tegak dengan kepala yang melihat ke ujung
jalan bila jutaan petir menyambar. Menegakkan kembali kaki-kakiku,
meluruskan jari jemariku. Mengangkat kepala yang sudah tertunduk lama sejak
Desember lalu.
Dengan perut yang terakhir
terisi pada pukul 4 pagi dengan alarm yang selalu molor dan dibunyikan setiap 5 menit, aku
menuju sekolah di mana aku menempuh ilmu untuk 3 tahun lamanya. Di sana layaknya tempat
gelap, sebelas dua belas dengan gua yang
jauh dari sinar matahari. Layu diantara bunga-bunga lain yang disemai dengan
sedemikian rupa oleh penghuninya. Penghuni yang jauh lebih cantik dan terawat.
Datang lebih pagi karena aku
tahu aku tak kan didekati.
Benar saja, kebencian telah
ditimpakan seluruhnya ke diriku yang baru saja datang.
Seperti orang yang baru bangun
tidur, setengah melek, tiba-tiba
batu yang sangat
besar terjatuh tepat di depanku. Disusul batu kerikil yang mengenai seluruh
tubuh. Hingga mengharuskanku berhenti sejenak di tepi hutan belantara itu.
Lingkaran setan itu berada. Kepalaku tergores bebatuan yang entah bagaimana
bisa tajam setajam silet yang pernah ku gunakan dahulu. Seperti nostalgia.
Tanganku lebam-lebam terkena reruntuhan batu koral yang seharusnya jadi
penghias teras rumah. Kakiku tergelincir sebab begitu banyaknya kerikil yang
berjatuhan layaknya hujan di bulan Februari. Sekarang saling bertumpuk
membentuk suatu
gunung yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dari gunung Everest yang puncaknya
berada di daerah otonom China. Entah ulah siapa itu. Semuanya memakai seibo
dilapisi topeng. Berlapis-lapis.
JAUH dari
kata nyaman, orang-orang seperti setan kesurupan di setiap detiknya. Wajahnya
tertindas buah pikiran kotor yang
satu persatu beruntun mencaci maki seseorang.
Kegaduhan itu bermula dari
ketidakterimaan terhadap takdir-Nya. “Mengapa?
Mengapa? Mengapa?”,
kata
tanya itu selalu tersemat dalam kepala. Tiba-tiba, diam menghampiriku sejenak,
mengajak ngobrol apa yang selama ini terjadi.
Berjalan beberapa langkah untuk
menuju salah satu
ruangan dari 30 ruangan―yang
belum termasuk ekstra ruang untuk berkumpulnya para pengajar, orang yang
tiba-tiba sakit, tempat seribu buku berada, hingga ruang di mana puluhan
komputer berada, ruangan untuk mengurus administrasi sekolah dan ruang-ruang
kecil lainnya―di mana tempat lingkaran setan itu berada.
Masuklah aku ke sana. Hawanya tak main-main.
Gelap. Yang biasanya gelap satu paket dengan dingin, tetapi di sini malah
panasnya tak karuan. Terdapat 5 jendela besar. 2 jendela di sisi kiri ruangan lengkap dengan pintu
kuno nan lawas. 3 jendela di sisi kanan ruangan, berjejer sejajar dengan apik
dari sudut ke sudut ruangan. Di mana 1 jendela besar terdapat
2 buah anak jendela untuk mencari hawa, satunya hanya kaca buram yang jarang terawat―karena yang
merawatnya juga sudah mati hatinya―dan tembus pandang. Tetap saja hawa panas
yang masuk ke dalam ruangan seperti ada pesta membakar sampah besar-besaran di
luar. Dingin bersembunyi untuk waktu yang cukup lama.
Gagang pintu
yang mulai berkarat, jam dinding persegi yang
tak pas pada waktunya, hingga pintu yang berbunyi nyaring dan tentu saja tak
merdu jika ada
seorang atau segerombol orang keluar
masuk sana-sini, entah berkepentingan atau tidak.
Membawa buku bersampul hitam dengan 120
lembar kertas kosong
yang biasa ku gambar dengan gambar-gambar yang terbilang aneh bagi seorang yang
jauh dari pengantusias seni, yang selalu ku bawa ke ladang penuh kegelapan
sebagai batu berlindung. Juga
sebuah novel yang baru-baru ini ku baca sejak sudah bersinggah lama di rak buku
September lalu sebab bakat literasiku sangat minim. Siapa tahu aku tak tahan, melihat kebencian yang selalu
mendorongku ke sudut ruangan. Gelap, kasar, kacau, sunyi.
Kedatanganku membungkam mulut
jelek mereka yang nyerocos setiap paginya,
sesaat sebelum kedatanganku. Tanpa kehadiranku.
Aku layaknya manusia penuh dosa,
tanpa kebaikan, hitam menyeluruh, mata yang sayu dan dingin di mata mereka yang
sebelas dua belas dengan pisau asahan Ibu. Tanpa ampunan. Tanpa celah. Ngeri,
sekte mana yang dapat melampaui sekte setan itu.
Pagi itu
tak ada satu manusia yang mendekati. Duduk bersama saja tiada yang tertarik.
Hanya mementingkan gengsi ‘bahwa aku yang paling berkuasa di sini’ hingga
mengacaukan satu ruangan itu dengan
repotnya gengsi mereka-mereka yang sinis dan mahir berkata buruk.
Syukur pada 3 hari yang santai dan tiada satu buku pelajaran
yang ku bawa, aku dapat duduk sendiri di kursi yang sudah mulai roboh. Di
meja yang lebarnya bisa untuk 2 orang. Supaya tak terlalu sepi, lebih baik ku taruh tas di
mana buku-buku penyelamatku berada.
Orang-orang
semakin jijik melihatku yang sendiri, terlihat kacau, dan semakin memanas.
Pagi yang disambut dengan gaduh.
Mata mereka setajam pisau yang
selalu diasah Ibu setiap kali ingin mengiris daging sapi alot. Tangan mereka
berdarah-darah membunuh jutaan hati manusia dengan hatinya pula yang menghitam
dan kejam. Otak mereka telah dicuci oleh satu kebencian yang perlahan meluas
seluas samudra Pasifik.
BEBERAPA menit telah
berlalu. Para pengajar sedang mempersiapkan membina pertandingan antar kelas. Para
yang terpilih mewakili saling berlatih guna memenangkan pertandingan.
Sesaat
setelah bel berbunyi, 900 lebih manusia berkumpul di halaman ber-paving
hijau. Penjelasan secara teknis diumumkan secara rinci. Juga aturan siswa yang
tak boleh memasuki kelasnya masing-masing selama pertandingan terlaksana. Tak
peduli mau sejuta alasan apapun.
Setelah
semuanya telah bersiap, akhirnya 3 pertandingan dilaksanakan secara bebarengan.
Orang-orang memencar untuk menyaksikan kegiatan yang selalu dinanti-nantikan
saat setelah ujian terselesaikan. Ada yang berkumpul satu gang untuk
menyaksikan pertandingan bola basket, ada yang berkumpul satu kelas dengan
kompak menyaksikan sekaligus mendukung kelasnya dalam pertandingan bola voli,
dan ada juga yang hanya satu dua orang menyaksikan pertandingan tenis meja. Sama
sepertiku, hanya didukung oleh orang-orang yang disinari mata cerah dan berhawa
sejuk.
Semua orang bersorak mendukung
orang yang disayang atau hanya terlihat sayang dari luar, maupun yang dipaksa menang. Setelah kemenanganku dengan seorang temanku tercapai,
aku hanya seorang yang tak jelas tujuannya.
Mondar-mandir sana-sini entah tak tahu tujuannya. Tanpa ada seorang pun di sebelahku. Menghibur
diri sendiri atau
memang tak ada
kerjaan. Aku juga tak paham.
Hingga kaki tak sanggup menopang
berat diri, duduknya aku di sebuah tempat. Di mana teriakan-teriakan itu
berasal. Di mana semua mata
manusia tertuju pada pertandingan pertaruhan itu. Menekukkan lutut, duduk di
antara ketinggian
lantai dan paving yang di-cat
hijau. Meluruskan betis bila pegal merayap kaki. Menundukkan kepala
menertawakan pertandingan kocak yang
sedang berlangsung atau alih-alih menertawakan diri
sendiri.
Di tengah-tengah tawa tiba
menghampiri, mataku yang melirik sana-sini
melihat
keadaan sekitar,
ku sadari ternyata
ada seorang
yang tengah duduk
melihat mereka yang sedang mempertaruhkan harga diri. Ia duduk di sebelahku. Berjarak hanya sekitar
setengah meter. Hanya seorang diri. Sama sepertiku. Seorang
yang tak ku kenal itu, entah apa isi hatinya, ia tampak diam dan tanpa kata.
Tangan kanannya memegang lengan tangan kiri, telapak tangan kiri
memegang lutut kaki bagian kanan. Bersedekap
dengan bertumpu di kedua lutut, tanpa suara.
Apakah ia sama sepertiku? Jauh
dibuang manusia penghianat dan tak
becus disekitarnya? Atau hanya ditinggalkan teman-temannya? Kenapa
sendirian saja?
Banyak tanda tanya yang tersimpan di kepala, apakah benar ia sama sepertiku, atau hanya ingin berdiam diri, siapa yang tahu. Ingin menyapa dan saling mengenal, sayang aku tak mahir dalam membuka perbincangan paling pertama dengan seorang yang masih terlalu asing dan jauh.
―
Di
Dalam Gelap, 6 Maret 2023
Senja
yang menjadi namaku,
Yang
kian jadi peneduh manusia yang malang,
Tak
seperti biasanya yang selalu indah,
Kini tak
berkutik di ruang gelap gulita.
DENGAN lelahnya, kaki serasa menginjak tusukan
jarum pentul sepanjang jalanan sempit. Tenggorokan kering bak tanah tandus di
padang pasir. Mata yang mulai memejam
disambi melangkahi beberapa kotak lantai. Memasuki lagi
ruangan haram itu. Masih sama. Mungkin untuk 2 bulan kemudian. Sepi, hanya ada satu orang yang terlelap tidur.
Entah sudah sampai mana mimpinya. Gelap,
seperti penghuninya. Sunyi, untuk kami
‘yang tersingkirkan’. Seterusnya. Tak berubah.
Duduk bersedekap, meletakkan
kepala di atas meja. Kantuk itu perlahan merekatkan kedua kelopak mata.
Di pojok sisi kanan ruangan,
baris meja
kedua dari belakang. Di sana aku menyimpan diri. Dalam gelap tanpa lampu
menjilat muka. Hanya ada secercah cahaya yang datang dari jendela. Dalam
pejaman mata. Tersimpan kata-kata di kepala. Bagaimana cara bertahan. Bagaimana
kursi sisi kiriku
tak lagi kosong dan
hanya dihuni tas yang masih bertahan lama sejak sekolah dasar. Bagaimana orang-orang mau lagi duduk bersinggah di
bangku sebelah kiriku untuk beberapa jam. Padahal tak mempunyai teman ialah
bukan hal yang besar dan patut dibesar-besarkan di kepala.
Kepala yang masih penuh dengan kemauan akan masa depan ini ku
patahkan ke sebelah kanan. Dihadapan tembok aku tak mengucapkan sepatah kata
apapun. Seolah kita sama-sama canggung untuk saling menatap.
Setiap kali memandang wajah
mereka, satu persatu ingin ku penggal kepalanya.
Di dalam gelap itu, sesekali dua
kali ku patahkan kepala ke sisi
sebelah kiri dengan lamban. Menghadap 2 jendela besar dan sebuah pintu yang
malang. Untuk mengawasi siapa yang menikmati pertunjukan seorang
manusia terperangkap dalam
gelap ini. Terperangkap dalam kebencian yang selalu menjadi sasaran lengkap dengan tuduhannya.
Dalam jebakan perempuan
berumur kurang dari berkepala
dua dan lebih dari satu dasawarsa. Menuju dewasa. Berseibo
lengkap dengan topeng dan rompi anti kebencian. Yang tak ingin dirinya dibenci
tetapi mengujarkan ratusan peluru ke arah satu target. Yang entah targetnya
salah atau tidak. Tak peduli.
Kepala yang masih menghadap pada kedua jendela di sisi kiri itu tiba-tiba
mereflekkan kembali menghadap tembok
hanya pada
saat terdengar suara pintu atau
terlihat mata-mata
yang sekiranya tajam bukan main.
TERDENGAR suara gagang pintu yang ditarik dengan nyaring dan fals. Ditarik ke
arah bawah lalu mendorong pintu―yang sudah lama tak dibenahi itu―dengan tenaga
yang lemah dan cemen. Bunyinya mengganggu dunia di kepalaku. Ternyata itu salah
seorang sosok penghianat.
Tubuhnya kecil, mungil, gosong, dan masih sama dengan lainnya (matanya seperti pisau asahan ibu). Panggil saja ia si Provokator.
Suka mengadu domba, mirip-mirip pimpinan
politik devide et impera ala Belanda. Entah
keperluan apa yang mengharuskan ia ke sini. Sampai harus banget ke sini
sekarang juga.
Entah ia mengambil barang apa di
sebuah ruangan yang tak boleh dikunjungi untuk beberapa saat itu. Yang juga ku
langgar peraturannya. Entah mengambil sebenih pembicaraan buruk untuk diumumkan
menggunakan megafon ke seluruh dunia atau
mengumpulkan informasi layaknya intel
yang berkeliaran semasa pemerintahan Presiden Soeharto. Lalu
kembali lagi di mana sorakan ratusan manusia itu berada.
Pandangan yang mulai buram
dihadapan tembok, ku coba rekatkan kelopak mata sampai tak ada lagi setitik cahaya pun yang masuk.
Tatapan mereka hampir mirip semua. Hanya iris mereka saja yang
berwarna-warni. Ada yang mengandung kebencian, ada yang mengandung dengki, iri,
dan hal yang tak ku ketahui dan tak ingin ku ketahui. Membentuk bermacam-macam warna di iris mata para penghianat.
Di
tengah kantuk yang tak pasti, aku mengingat sesuatu yang kubawa dari rumah
tadi. Sebuah novel berjudul Laut Bercerita masih tersimpan rapi di tas
ranselku. Sedikit lecek dan bernoda. Bersampul biru berlukiskan dasar laut dan
sepasang kaki yang telah sampai pada lapisan laut paling dalam dengan
sudut-sudut sampul buku sudah mulai menekuk karena tak pandai merawatnya.
Sampai
sekitar halaman 150 dari 379 halaman. Ku lanjutkan membaca sampai entah berapa
halaman. Pastinya tak sepenuhnya fokus pada cerita karena saking
banyaknya hal yang terpikirkan.
SETELAH belasan menit
berlalu, dikala hati sedang bersuara membaca, segerombolan orang datang lagi
layaknya ingin merazia. Membuka pintu dengan keras. Tak tahu pasti jumlahnya
berapa. Mungkin sekitar 5 sampai 10 orang. Bergerombol berjejer dan berbanjar membentuk
pasukan baris-berbaris memasuki ruangan ini. Menyebar melewati persimpangan
antara dua meja menuju sisi ruang belakang, membentuk lingkaran. Membicarakan
topik acak, mungkin supaya aku tak dengar. Entah kali ini kesurupan malaikat
dari mana, tumben tidak membicarakan orang lain. Atau aku yang terlalu fokus
pada cerita Biru Laut.
Pembicaraan
berlangsung mungkin untuk 10 menit keatas sebelum satu persatu penghuni lainnya
masuk ke ruangan ini. Lama-kelamaan ruangan ini dipenuhi manusia-manusia yang
sudah kering tenggorokannya karena bersorak terlalu keras.
“Nanti
kalau keluar atau masuk, tolong ditutup pintunya, ya!”, salah seorang dari
mereka membuat budaya menutup pintu setelah keluar atau masuk ruangan.
Kurcaci-kurcaci penurut pun ikut saja.
Tiba-tiba ketukan pintu
terdengar dari arah pintu yang pastinya
nyaringnya bukan main bila didorong sekuat tenaga. Gagang
pintu burik berkarat itu digenggam lagi oleh tangan busuk mereka. Yang habis
mengaduk-aduk air got dengan tangan yang perlahan menghitam. Mungkin kali ini
yang membuka si Pimpinan atau si Tinggi yang biasanya berjalan paling depan. Benar saja, mereka ialah si Tinggi yang butuh
validasi, si Pujian yang butuh perhatian juga sesuai namanya,
si Pengikut sebagai antek-antek
penurut kata si Pimpinan, juga si Pimpinan yang tak mahir memimpin kebenaran. Menekan
ke bawah sambil diiringi bunyi cempreng dan pintu seret nan ngeres dengan
bantuan tenaga loyo bak ayam tanpa tulang. Terlihat muka-muka benci mereka yang
tajam dari kejauhan, dari barisan bangku kedua dari belakang. 4 kepala
melayang-layang di atas udara. Sambil bertumpu di kedua bahu yang kaku dan
lembek itu. Masuk dengan barisan berbanjar, entah tujuannya apa. Mungkin untuk
lebih terkesan gangster kelas atas.
Bola mata 4 sosok itu menyudut
menuju titik buta yang sempat membuatku ingin memotong satu persatu lehernya.
Yang satu butuh validasi bahwa ia manusia paling tinggi di dunia, yang satu
butuh pujian menyeru di sekelilingnya, yang satu ikut-ikutan membenci bak tak
punya pendirian, dan yang
satunya lagi
selalu memimpin barisan paling depan
(akan hal keburukan).
Agak lucu melihat empat orang
berkumpul kembali padahal dulu saling membenci, saling menghianati. Si Tinggi
sempat dibuang ke tong sampah, kecewa, lalu kembali lagi dengan bau busuk di
badannya. Bau busuk menyala-nyala di tempat ia berdiri. Lalat hijau sergap
mengerubung dengan membawa kotoran menjijikkan di ujung tubuhnya lalu
meninggalkan di tubuh si Tinggi dengan ledekan jenakanya. Lalat itu mengatakan, “Tak mengenal jera, ya?”
diiringi deham ejekan.
Kacamata hitam yang setiap
melihatnya rasa-rasanya
aku ingin selalu mengalihkan pandangan dari neraka dunia itu. Merinding tak karuan. Ketakutan
bercampur
geli yang hebat.
Peran si
Tinggi mungkin jadi bodyguard. Dengan postur tubuh tinggi bak
pohon beringin yang akarnya selalu terhembus sana-sini setiap mendengar kata benci sangat cocok dan patut dijuluki bodyguard.
Selalu mengikuti arus sungai kebencian hingga tiba di muara.
Si Pujian mengikut dengan laju
di belakang si Tinggi. Tugasnya
memberi
bara dikala api dihidupkan. Entah
yang menghidupkan api si Tinggi, si Pemimpin atau si Pengikut. Berjalan
dengan tegak dan tangguh
seolah seluruh manusia di dunia berteman dengan mereka.
Si Pimpinan merupakan pemimpin
mereka, yang selalu membuat inisiasi buruk yang kemudian dicerna sebagai bahan ejekan dan isu terkini oleh si
Tinggi, si Pujian, dan si Pengikut
atau
bahkan kepala suku dari sebuah lingkaran setan yang menggeluti perbincangan
dengan setan terkutuk ruangan
ini. Si Pengikut
ini ikut hanyut dalam
arus persetanan yang riuh gemulai menusuk jantung kiri dengan mengendap-endap. Ku harap tak ada perpecahan lagi
diantara mereka sampai dua bulan berikutnya atau lebih. Takut topeng-topengnya
rusak satu persatu sebelum dua bulan, ku harap takutku tak menjadi kenyataan.
―
Satu
Kaki yang Perlahan Kembali,
6
Maret 2023
SATU iniasi demi hati ku lakukan. Satu seperempat jam setelah adzan
zuhur, bel pun berbunyi dengan sangat nyarin seperti biasanya. Menunjukkan kami
boleh pulang ke rumah masing-masing. Keluar dari ruangan itu, menuju rumah yang
membuatku terasa setidaknya sedikit lebih lega. Hawa sejuk mulai terhirup
melalui lubang hidungku. Meski terhirup udara sejuk, tak berarti dapat
mengemban air dari dalam kantong mata yang sudah lama membeku. Hati yang masih
berantakan, dada yang masih tersisa darah bekas tusukan, kakiku melaju cepat
menuju gerbang keluar sekolah. Tak betah berlama-lama di sana.
Tiga perempat perjalanan telah terlewati. Gerbang
pintu telah terlihat tepat di depanku, beberapa langkah lagi sampai. Ku jumpai
seorang dewasa yang patut dan harus ku hormati. Kira-kira umurnya sudah
berkepala dua. Tanganku membuka dan menghadap langit. Ku raih tangannya lalu ku
tempelkan ke pipi sebelah kanan. Mengingat janjiku tadi untuk mengatakan
sesuatu, ia menanyakan apa arti janji tadi.
“Tadi mau bilang apa?”, tanyanya sambil menuruni 2
anak tangga keluar dari sebuah ruangan yang tampak terang.
Aku menjelaskan secara singkat dengan memperhatikan
intinya. Tuduhan, benci, beramai-ramai. Itu kata kuncinya. Alur bergerak
maju sampai pada akhir kalimat. 2 menit berjalan dengan tak sadar diiringi
langkah-langkah kaki bocah seumuranku atau dibawahnya. Tujuannya sama, pulang.
Di antara lalu lalang itu, beberapa juga mengulurkan tangannya untuk berpamitan
mencium punggung tangan seorang dewasa itu. Agar selamat sampai tujuan.
Di dalam 2 menit yang singkat, ia hanya terheran-heran
dan terus menanyakan, “Kok bisa seperti itu?” dan menyebutkan tokoh-tokoh yang terlibat
di dalam lingkaran tuduh menuduh. Ada yang bisa ku jawab, ada juga yang belum
kutemukan alasannya.
Bibirku pun berhenti mengucap kata. Ia mulai berperan
dalam dialog kami. Memberi wejangan yang cocok untuk diutarakan.
“Tak perlu selalu
mengklarifikasi setiap yang ada di hidupmu”, air mata yang telah membeku lama akhirnya sedikit
tercairkan. Seperti bertemu dengan air panas, perlahan melelehkan bongkahan air
mataku.
“Gapapa, yang bener-bener temenmu itu-“, tiba-tiba ada seorang bocah seumuranku yang menyapa
dan mengajukan tangannya. Kalimat itu sedikit tersendat
dan tak jelas terdengar oleh telingaku.
Namun aku tahu yang ia maksud.
Air mata yang telah terpendam membeku,
mencair sepenuhnya begitu
saja bagai mentega yang dipanaskan di wajan penggorengan bersuhu 200 derajat celsius.
“Ya itu
sudah Qadarullah kok”, lanjutnya dengan memadukan sentuhan religi: tempat
berpulang.
Hampir sama seperti kata ibu di rumah, kata-katanya sama
persis, tentang menerima dan ikhlas
dalam menerima Takdir-Nya.
Ibu selalu tahu cerita-cerita
kecil yang tak seberat batu seribu ton, tentang pertemanan yang memburuk contohnya. Tahu dari aku yang mulai
berani bergaul di bulan April
tahun lalu,
mengatakan bahwa mengenal manusia memang hal yang seru, hingga tahu sebuah
penghianatan terbesar dari seorang manusia atau bahkan beramai-ramai manusia.
Satu
lukisan yang kubuat dikala itu. Mengenai bunga matahari yang sekelilingnya
terdapat beribu topeng. Bunga matahari akan tetap bunga matahari. Tak bisa
dirusak keindahannya. Itu yang aku harapkan. Walau beribu terpa badai mengelilingi,
ingin merenggutku habis sampai bahagiaku sebutir debu, aku akan tetap menjadi
aku yang bahagianya tak boleh direnggut oleh siapapun.
Sketsa
kasar terbentuk. Bunga matahari yang besar dengan puluhan topeng di sekitarnya.
Dengan waktu yang tak Cuma-Cuma, bunga matahari dan topengnya pun mulai
terlihat bentuknya. Ibu berlalu lalang melihat prosesku membentuk karya, melewati
tempatku melukis lalu mencontohkan kasus yang sama sepertiku.
”Temennya
Ibu juga banyak yang seperti itu, Senja”, sambil melanjutkan ceritanya selama
hidup di dunia. Katanya, sedari ibu berseragam putih biru, jarang sekali
menjumpai orang-orang seperti itu. Hanya baru-baru saja dewasa ini terlihat
mana yang memakai topeng.
“Ibu
dahulu tidak seperti itu, tidak ada yang Namanya sindir-sindiran, saling
membenci antar kelompok, tiada yang seperti itu. Kalau cocok-cocokan, pasti
ada, tetapi tanpa menghina kelompok lain”, katanya sambil terheran-heran
melihat cerita semasa SMP-ku yang jauh lebih buruk darinya.
Topeng-topeng itu menyusuri
hutan, menendangku dari belakang dengan sepasang sepatu bergerigi hingga aku
tersungkur, diikat kebencian, lalu dibuang begitu saja. Beramai-ramai orang
datang. Nila setitik rusak susu sebelanga. Seakan satu cerita dapat menajamkan
pisau untuk saling membunuh.
―
Lagi,
dan Lagi, 9 Maret 2023
HARI demi hari bagai
menginjak kerikil dan bebatuan besar dibalur api panas yang melelehkan kulit
kaki. Kamis, 9 Maret 2023, mungkin hari ini tujuan akhirnya, membakar seluruh
tubuhku. Melewati jalanan penuh asap dan kabut, pengelihatanku kabur untuk
menampilkan apa yang ada di depan sana. Yang tergambar hanya tempat berasap
hitam dan gelap.
Tengah
siang yang menyengat, awan-awan kemepul tepat di atas rambut hitamku. Langit
masih dengan warna biasanya, biru muda bercampur biru tua. Siang bolong begini,
biasanya kantuk, malas dan rasa ingin cepat pulang dari sekolah selalu jadi
topik utama bocah SMP di sekitarku. Kelopak mata yang sudah mulai terpejam,
kepala mulai sakit dan ngilu akibat begadang bercampur menjadi satu.
Bermula
dari pertanyaan singkat kepada 4 orang temanku yang tanpa pamrih mengulurkan
tangannya untuk tanganku yang lemah dan tak berdaya menuju tempat yang lebih
baik. Yang sudah kotor berlumpur, juga menghitam sebab masuk jurang lingkaran
setan itu berada. Kini sedikit memalukan di hadapan mereka. Sebab dahulu kami terlihat
sangat asing. Kini malah mau membantu dengan senang hati. Aku bagai manusia
yang masih terbasuh banyak dosa-dosa, dihadapan mereka yang hampir suci. Jijik
dan memalukan. Tak tahu malu dan kasar.
Berkumpulnya
kami ialah untuk menyamakan rasa senasib sepenanggungan di ruangan gelap itu. Kemudian
ternyata ada kotak hitam yang isinya berbagai omongan kotor para bedebah itu.
“Aku
banyak mendengar perkataan busuk mereka. Di sini, di tempat sekarang aku duduk.
Di pagi-pagi yang masih suci tanpa uap awan menginjak langit, perkataan itu
sudah menjadi sarapanku berhari-hari. Sampai jam masuk kita tiba, jam 7”,
ujarnya dengan raut muka penuh misteri dan sedikit jengkel.
“Apa?
Siapa? Apa saja yang dibicarakan? Siapa saja?” kata tanya itu ku lontarkan
begitu saja tanpa berat dengan keingintahuanku yang begitu besar, berujung mati
di tengah hutan.
“Senja,
kau paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Mereka merangkum kesalahanmu
dari A sampai Z. Sejak gairahmu yang menggebu-gebu di bulan Desember lalu,
hingga pertandingan kekalahan kemarin. Bisa dibilang, mereka banyak
menyalahkanmu”, jawabnya dengan tidak menampilkan perkataan yang lebih detail
lainnya. Mungkin untuk menjaga hati yang sangat sensitif bila terkena sedikit
goresan. Hingga membuatku sedikit ternganga dan marah. Amarah menjemput emosi
yang terkubur di saraf pusat otakku.
“Apa?
Siapa? Apa saja yang dibicarakan? Siapa saja yang membicarakan? Siapa saja yang
dibicarakan? Perkumpulan yang mana?" Lagi-lagi tanpa jarak ku bertanya. la
menggeleng tak memberi tahu nama-namanya.
"Si Pimpinan? Atau penurut yang mana?", aku bertanya dengan penuh
kemarahan yang tertunda, dicampur air mata yang masih mampu tertampung di kelopaknya.
la masih tak menyebut satu pun
nama dari bibirnya. Tak panjang lebar, hanya sedikit yang ia bicarakan. Tak mau
memperburuk keadaan
dengan menyatakan sepenuhnya lebih lebar. Gelengan kepala juga berkali-kali
berperan dalam kemunduran hatiku untuk menulusuri lebih lanjut. Akan lebih baik
jika aku tak mendengar lebih banyak ucapan omong kosong dari mereka.
Akan tetapi dengan sifatku yang
lebih banyak ingin tahunya daripada memikirkan kedepannya, kata
"Siapa?" dan "Apa?" lebih banyak digunakan. Berujung dengan
terdengarnya penjelasan dari salah satu dari mereka berempat.
Air mata yang telah diemban
lamanya, akhirnya memancur satu persatu. Tundukan kepala ku lakukan kembali.
Sampai satu pelajaran penuh―setara
dengan waktu sekiranya 40 menit―habis
hanya untuk menunduk.
“Mau
membalas pakai apa?”,
“Mau
menunjukkan lewat jalur yang mana?”,
“Mau
menghancurkan mereka dengan cara apa?”,
Kalimat-kalimat kebencian mulai
tertanam di kepala dan hati menandakan peranmu sudah tak ada apa-apanya di
hidupku. Kebaikanmu sudah terkubur jauh di dalam inti bumi. Di
lapisan paling dalam bumi. Yang ku lihat lewat retina mataku saat ini ialah
mukamu
yang jelek nan hitam kusam, kotor layaknya rumah kosong tak berpenghuni, bau
bagai kambing yang sudah tak dimandikan 3 tahun lamanya.
Pertanyaan-pertanyaan
itu telah menemukan jawabannya sendiri.
“Sukses”,
“Menulis,
melukis”,
“Diam”
Pertanyaan
yang selalu ku lontarkan dalam tundukkanku pasti sepaket dengan jawabannya. Entah
ambisi atau amarah. Tak bisa dibedakan.
Tidur adalah
alasan yang tepat saat itu, pasalnya mungkin mereka menontonku sebagai manusia
paling lemah, bila mendengar perkataan yang menurut mereka ringan adalah hal
biasa.
40 menit
ku habiskan untuk menangis, entah sebab apa yang membuatku terlihat lemah di
depan banyak orang. Terlalu menunjukkan bahwa aku bisa menangis. Biasanya hanya
di rumah, itu pun jarang orang mengetahui.
Kertas
yang berada di bawah dekapan tanganku pun ikut membasah sebab turunan air mata
yang mengalir dari kelopak, langsung menetes di atas kertas. Metode menenangkan
dengan menepuk bahu diupayakan oleh teman yang benar-benar teman, salah satu
dari 4 orang temanku yang pantas dipanggil teman. Namun itu hanya sekadar
ritual menenangkan orang lain, yang sangat lumrah dilakukan, tak tenang
sepenuhnya tenang.
“Senja,
sudah.. dahulu aku pun pernah seperti kau sekarang, bahkan lebih menyakitkan”,
ucapnya sambil meyakinkan.
Di dalam
dekapanku yang gelap nan hitam itu, suatu ketika ada secercah cahaya memberi
bantuan untuk kebangkitan. Namun ada juga yang membisik di telinga sebelah kiri
yang memicu semua amarah. Rasa ingin memaki-maki, menojok bak petinju kelas tinggi,
hingga menyeret mereka-mereka ke lubang buaya akan menjadi nyata. Bayangan di
kepalaku hanya tergambar bahwa memukul mereka merupakan hal yang mudah
dilakukan, maka akan kulakukan sekarang. Namun dunia punya norma yang tak bisa
semena-mena ku terobos begitu saja.
Rasa-rasanya
itu emosi sesaat saja, namun berkepanjangan. Terkadang mereda, terkadang memuncak.
Seperti anak kecil menuju remaja, labilnya tak karuan. Juga merusak hari yang
sudah dibangun kokoh di pagi hari. Kini hancur bagai arsitek tak berpengalaman
yang merancang bangunan. Sama sepertiku, bisa hancur hanya dengan sekadar kata
dari bedebah yang tak cukup umur. Bodohnya, malah ditelan dengan lahap olehku.
Yang seharusnya tersingkir ke ujung lapisan langit, malah ikut serta memelukku
dengan hangat yang perlahan memanas.
“Bagaimana
cara menghapusnya?”
“Bagaimana
supaya tampang mataku tak tampak memerah?”
Pertanyaan
itu mengelilingi kepalaku.
Ketika
di hadapan musuh, terlihat lemah adalah hal yang paling menjijikkan. Bagai
anjing yang manut terus-menerus oleh tuannya di rumah.
Mata
yang tentu saja sembab dan hidung yang terdengar seperti orang flu menjadikan
sangat merepotkan.
Kini
yang tersisa ialah pandanganku di ruangan gelap ini bagai penjara. Tak ada
secercah cahaya harapan apapun di sini. Hanya ruang hampa, gelap, kosong. Mata
yang dahulunya sangat hangat dengan kelopak mata yang setengah terpejam dan
melengkung senyum, kini dingin dan kosong. Bila berpapasan, pandangan ke arah
depan ialah opsi paling baik untuk menghindari sulut kebencian.
“Aku tak kenal” ialah kalimat paling baik di hati saat bertemu manusia-manusia yang satu spesies dengan mereka para penghianat.
―
Sepulang
Sekolah, 9 Maret 2023
DI hari yang penuh warna
gelap dan awan bersimpuh teduh di bawah langit yang marah, petir bersahutan
begitu keras kesana-kesini. Bagai api yang menyambar pada seuntai tali yang
dilapisi alkohol, dalam waktu sekejap akan habis dilahap bara api. Memadamkan
ketenangan, digantikan dengan usik, riuh, kacau, berantakan dan garang. Sembab
dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Siang
hari ini sangat terik di bagian barat bumi dan mendung gelap di bagian timur
bumi. Bapak dengan lelah menjemputku pulang, semangatnya bergemuruh dari ujung
rambut hingga jari-jari kaki.
Senja,
namaku. Yang biasanya meneduhkan manusia-manusia yang ingin mencurahkan kerut
hatinya, kini hanya bisa terdiam dan tak bicara sepatah kata apapun. Tanpa kata
dan keras seperti patung. Senja kali ini senja yang sangat amat mendung dan
abu-abu. Hanya bisa menahan tangis yang membeku keras sejak para bedebah muncul
satu-persatu.
Berjalan
menuju gerbang pulang SMP dengan mata yang hanya tertuju pada paving
keras dan berdebu. Kelopak mata tanpa berkedip dan sayu. Kantong mata mulai
membengkak dan merah. Seluruh dendam menggumpal di hati, seluruh riuh gemuruh
sakit tercantum lekat di kepala.
“Kau tak
pantas untuk bahagia, Senja”, kata seuntai darahku yang mengalir dari jantung
menuju paru-paru.
Melewati
sawah bersenandung kecil dengan darah yang mulai membenci mereka-mereka,
mengalir dari kepala yang bengkak-bengkak hingga ujung kaki yang patah. Bapak
berusaha mencari topik apa yang baik untuk hari ini, aku menjawab seadanya.
“Tadi
sarapan dengan apa, Senja?”, tanyanya sambil memegang gas tangan vespa butut
milik bapak. Mengingat tadi pagi bapak sudah pergi jauh menyusuri pusat kota
Solo―maka dari itu tak sempat sarapan bersama-sama―dan jalan rumitnya. Sudah
sangat hafal dan tentu saja di luar kepala. Dibandingkan aku yang gemar sekali
lupa jalanan kota Solo yang sungguh rumit diterima oleh kepala yang tak gemar
menghafal.
“Ikan
keranjang dan sayur asam buatan nenek”, jawabku singkat dengan suara yang sedikit
meninggi sebab tak ingin terdengar parau.
“Wah..
Enak?”, Seperti biasanya, bapak selalu memastikan pernyataan yang diberikan
setiap orang. Terkadang menjengkelkan, terkadang juga dapat dijadikan bahan
baku mencairkan suasana.
“Tentu
saja enak, siapa dulu yang buat”, sanjunganku terhadap masakan nenek yang
sangat sedikit sekali persentasenya jika berbicara mengenai makanan tidak enak.
Menit
yang dapat dihitung dengan jari pun berlalu, semilir angin membasuh wajahku
dengan setetes air mata yang mengalir dari kantungnya hingga dagu yang tak
punya tempat berteduh. Tanpa seizinku, jatuh begitu saja.
Melewati
jalanan kecil yang rumit bagi orang asing hingga sampai ke rumahku yang teduh.
Sempit namun selalu jadi tempat ternyaman untuk berebah ria di pulau kapuk.
Melepas
sepatu yang bersemir cat akrilik dengan kreasinya yang sungguh nakal di mata
guru, hingga melepas aksesori pelengkap syarat masuk gerbang sekolah. Masih
dengan tatapan yang kosong dan mata yang sayu, ku susuri meja makan dan anak
tangga buas. Tanpa omong kosong yang meledak-ledak, ku jatuhkan tubuhku ke
pulau kapuk yang hangat juga dilapisi panas matahari yang menembus dinding
tipis rumah.
Sebuah
lagu ku putar lewat gawai lawas milikku. “menangis di jalan pulang”, buah karya
Nadin Amizah. Syair yang teramat cantik dan tentu saja disajikan dalam nadanya
yang syahdu. Pendahuluan lagu yang disuguhkan dengan sedemikian rupa yang entah
bagaimana pembuatannya, menjadikan lagu favoritku bertahun-tahun ini terasa
sangat sedih dan seakan penyairnya mengajakkku berdendang ria merayakan
kesedihan. Walau kisah syairnya tak sama dengan bermacam-macam yang telah ku
alami, namun inti dari segala kesedihan ialah lagu ini. Sebuah tempat yang
ngawe-awe melambaikan tangan untuk pulang.
Dalam
jangkauan nol sampai 42 detik pertama, bongkahan air yang mengeras sejak tadi,
tiba-tiba terurai begitu tanpa perintahku. Enam menit berlalu masih dengan
tangisnya. Setiap kali terdengar intro lagu Nadin lainnya, dalam hati langsung
menggebyar “Sudah, kali ini menangis di jalan pulang dulu”.
Siang
menjelang sore hari yang penuh mendung, yang entah pada putaran lagu yang ke
berapa, dikala ibu masih lelah dengan keringatnya yang bening, ku berkata
padanya melalui pesan pada gawai, “Bu, adakah waktu sehabis pulang kerja?
Selepas ini kita bermain sejenak ke luar rumah, bagaimana? Menghiburku”, dengan
nada ledekan sekaligus sedikit banyak serius. Seperti pada ciri khasku yang
sedikit berbicara mengenai perasaan, pasti ku datangkan kata candaan pada
setiap kalimat pernyataan perasaan. Seakan aku mempunyai majas tersendiri yang
berbicara mengenai rasa.
Pesan
itu tak kunjung terbaca oleh ibu. Bukan menghilang tanpa kabar, tetapi langsung
pulang tanpa berkata “Aku akan segera pulang” seperti yang biasanya dikatakan
manusia dengan janji manisnya. Suara pagar nyaring yang didorong kuat oleh
otot-otot sang pekerja keras itu terdengar sampai lantai atas. Ku bergegas
melangkahi 10 anak tangga sambil menyapu air mata yang bergilir menuju pipi
bagian kanan.
Seperti
biasanya, semua hal yang mengenai pertemanan, akan ku ceritakan. Entah sedang
sambung menyambung atau terpecah belah. Ku rangkum menjadi beberapa paragraf
untuk diceritakan mengenai beberapa hari ke belakang. Dengan suara yang masih
sedikit parau, nafas yang terengah-engah betapa muaknya terhadap mereka-mereka
yang sungguh tak mempunyai rasa, dan satu dua kali terpicu air mata untuk
mencair kembali.
"Lalu?
Kau menangis, Senja?", Tanya ibu yang memperhatikan kalimat pertama hingga
akhir setiap kataku. Bapak juga turut serta di sana. Di sebuah ruangan kecil
tempat kami bertiga sering bercerita dan berdiskusi. Bapak hanya mengisi
kehadiran yang biasa berkecimpung pada perdamaian dan tak mendendam. Sedangkan ibu
lebih tertuju pada kemanusiaan dan peduli akan diri sendiri.
“Iya lah”,
jawabku tegas. Ibu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih heran
terhadap ceritaku. Ternyata banyak orang seusiaku yang dapat berbuat segitu
buruknya kepada temannya.
“Biarlah,
Senja. Mari kita bepergi yuk! Siap-siap dulu”, ibu langsung mengingatkanku
mengenai pesan yang ku kirim tadi. Entah kapan ibu membacanya, misterius dan
seperti mengendap-endap lalu mengejutkan. Aku yang masih tak tahu akan tertuju
ke tempat yang seperti apa dan di mana, tanpa omong kosong dan banyak kata,
baju sekaligus bawahannya ku keluarkan dari lemari dan bergegas memakainya.
Masih dengan gaya penampilan yang berbau jadul dan formal, kemeja putih panjang
dan rompi hitam ku kenakan dengan rapi. Juga tak lupa dengan rok plisket
rumbai-rumbai berwarna putih.
Kalau
kata laki-laki, menunggu perempuan berdandan seperti menunggu jodoh pemberian
Tuhan, lama sekali. Namun kali ini tidak, singkat dan penuh semangat.
Di dalam
perjalanan, ibu terus memberi nasihat-nasihat dan ajakan untuk tidak terlalu
terpuruk mengenai kehidupan yang sedang berantakan.
“Nantinya
juga akan ada yang lebih dari kali ini, Senja. Akan ada banyak orang-orang yang
jauh lebih kejam, anggap saja ini permulaan. Yang artinya kau sudah dahulu
melampaui mereka, mentalmu sudah jauh dari mereka.", kata ibu dengan keras
supaya tak kalah dengan suara kencangnya angin yang diterjang kami berdua.
Motor
yang sudah lumayan lawas dilapisi warna hitam itu menemani kami berdua. Di
bawah langit yang sudah mulai mendung, semilir angin membesar dan pepohonan
yang tergoncang oleh angin kencang dari barat, semua itu disatukan menjadi
kesatuan yang syahdu. Juga wejangan ibu buah dari pengalamannya yang sudah lama
hidup, menjadikan hati jauh lebih tenang.
Ribuan
kata telah terlewat begitu saja. Kalimat yang belum selesai akan dilanjut
sesampainya kami di sebuah tempat di barat kota Solo yang teduh dengan semilir
angin dan juga mendung yang semakin gelap. Memesan beberapa cemilan dan tentu
menu utama juga dengan minumnya, lalu mencari meja untuk menyantapnya. Untung
saja tempat ini sedang sepi, cocok sekali untukku yang suka sekali bercengkrama
dengan sunyi sekaligus bercerita ria bersama ibu.
Akhirnya
kami memlih tempat di luar ruangan, agar dapat menikmati semilir angin dingin
nan sejuk di sore hari. Aku berhadapan jelas dengan ibu. Mataku tertuju pada
kedua bola matanya. Melanjutkan sisa ceritaku tadi di rumah, juga akhir kalimat
dari sebuah paragraf darinya.
Beberapa
sanjungan itu satu persatu masuk ke telingaku yang sudah tuli akan hal baik. “Seperti
pohon itu lho, semakin tinggi pohonnya, anginnya semakin terasa. Senja
tahu kan pepatah itu?", Ucap ibu sambil gerak meyakinkan.
Sembari
menunggu semua menu tiba, ku lihat pohon rindang di belakang ibu, dekat tembok
besar yang menjulang tinggi. Yang sedang dikibas-kibaskan angin dari barat
hingga ke timur. Aku gemar juga berlogika. Sebuah kalimat harus disertakan
bukti dan contohnya. Mengingatkanku akan kata-kata itu yang dapat diolah
kembali di kepalaku yang sungguh keras. Membayangkan bila suatu pohon yang
tinggi disandingkan pohon yang jauh lebih pendek dengan keduanya diterjang
angin yang sama kecepatannya, pasti pohon yang lebih tinggi akan tergoncang
lebih kuat dari pohon pendek.
Ibu juga
memberi pesan kepadaku untuk acuh kepada mereka yang sedikit keparat, “Sudah,
sekarang Senja begini saja, jangan hiraukan mereka.. orang-orang seperti itu
pasti tidak akan ada habisnya.. kalau mentok, ingat lagi tuh seminarnya Ustadz,
toh semuanya sudah dirancang kan?”, sambil menggeserkan menu yang telah
tiba di meja kami.
Mengingatkanku
pada ajaran bapak yang sudah lama disuguhkan untukku sejak kecil. Sejak kakiku
masih menginjak di Sekolah Dasar. Mengenai takdir, hubungan Pencipta dan
Ciptaan, pertanyaan akan "Bagaimana dunia ini tercipta?" yang
berkaitan dengan teori Big Bang dan sains, juga menafsirkan kata
"Aku", "Dia", dan "Kami" dalam Al-Qur'an. Semua
itu sudah ku peluk sedari kecil, walau tak sampai intinya yang terdalam.
Belum
banyak aku mengikuti seminarnya, hanya dapat dihitung jari. Aku lebih banyak
menikmati ilmu yang diajarkan melalui bapak yang sudah mahir. April dan Mei
tahun lalu, ialah bulan-bulan di mana aku banyak mempelajari mengenai
Ketuhanan. Merubahku dari yang ‘jahat’ kepada diri sendiri, hingga sayang yang
melebihi jumlah air di samudra jagat raya.
Aku
menimpali pernyataan sekaligus wejangan sore hari yang mulai membendung air itu
dengan semangat menuju bulan Ramadhan, bulan bangkitnya aku tahun lalu, April.
"Iya
ya, bentar lagi juga Ramadhan" menikmati nikmatnya makan sembari mendengar
obat lisan, perlahan hati mulai membaik. Ibu juga berpesan, “Nah, apalagi
sholatnya itu dikencengin lagi, ngaji”, aku mengangguk sambil mengambil menu
lain dan menyingkirkan menu yang tersaji dihadapanku dan menawarkan juga pada
Ibu “Mau?” Dengan sejuta kerelaan ibu menjawab “Tidak, buat Senja saja, Ibu mah
gampang".
“Cari
Ridho Allah, bukan surga atau nerakanya.. seberapa banyak ibadah juga tak bisa
menyetarakan nikmat yang diberi oleh Allah, kan?” Kalimat ini juga sempat
dikatakan ibu sewaktu bapak, ibu, dan aku berdiskusi mengenai Ketuhanan, topik
hangat yang selalu seru dibahas. Mulai dari pandangan orang lain mengenai
Tuhannya, bercerita satu persatu yang pernah didengar satu sama lain, lalu mendiskusikan
apa yang sebenarnya. Itu ritual kami dahulu, sewaktu Ramadhan belum tinggal
jauh dari persinggahannya.
Aku
selalu bersenang hati dengan semangat yang menggebu-gebu. Duduk bersila untuk
mendengar cerita ibu lalu bapak meluruskan. Atau aku yang mempunyai cerita dan
mempertanyakannya, lalu dijawab bapak yang sudah sangat mahir perihal seperti
ini. Bermalam sejenak untuk membahas sang Pencipta.
Pembicaraan
kami ditutup dengan sepotong ayam yang dilapisi tepung panir langsung dilahap
karena sausnya telah ludes dimakan. Aku menawarkan kepada ibu kesekian kalinya,
“Tinggal ini, Ibu mau?”, lagi-lagi hanya menjawab, “Tidak, buat Senja saja”, dengan
nada yang meyakinkan. Sekarang menu telah habis ludes tak bersisa. Aku yang
lebih banyak makan, ibu hanya duduk, mendengarkan, dan memberi wejangan untukku
yang mandarah.
"Gimana?
Sudah lega?", Ucap ibu sambil bersedekap di atas meja melihat kedua mataku
yang terang. Aku mengangguk dan meyakinkan hati untuk melanjutkan hari yang
kurang dari 2 bulan.
Ibu
menawarkan ingin lanjut menikmati sore di sini atau langsung pulang meneduhkan
diri sebab langit sudah sangat gelap. Karena cuaca yang sudah sangat mendung
gelap di berbagai sisi kota Solo, aku lebih memilih opsi kedua. Juga hati sudah
lega, untuk apa berdiam di sini beberapa waktu melihat air langit tiba dengan
deras?
DI tengah perjalanan,
tiba-tiba saja hujan deras melanda. Tanpa adanya tanda rerintik. Berteduh
sejenak di sebuah rumah kosong—sepertinya sebuah rumah yang digunakan sebagai
pertemuan suatu kelompok atau organisasi—yang tampak seram dari depan. Di sana
kami berjumpa dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang merantau
jauh dari Sragen. Nge-kos beberapa waktu yang panjang untuk menempuh pendidikan
di Solo.
Pembicaraan
juga suara ibu dan kedua mahasiswa itu tersendat sebab suara hujan yang terlalu
besar. Aku hanya bisa mendengar sepatah dua patah kata dari mereka.
Sore
pukul 5 itu tepi kota Solo dilanda hujan yang sangat badai. Menghabiskan waktu
yang cukup banyak untuk berteduh di rumah kosong itu. Dikala suara hujan
meredup, aku berkata, "Bagaimana Bu, sekarang?", Malah tiba-tiba
hujan semakin kencang menggoncang pohon pada jangkauan pupil mataku. Juga tanah
sawah yang lapang dengan pohon tebu itu hampir ambruk diterjang angin dan air ciptaan
Sang Pencipta.
Beberapa
menit menunggu, akhirnya tibalah rerintik air yang menutup terjangan badai dan
air yang gemuruh dari atas langit. Kini badai-badai itu tersingkir dari
pinggiran kota Solo.
Kami
memasang jas hujan yang sudah buluk dan lawas (mungkin umurnya sudah 5 tahun)
namun awetnya bukan main. Akhirnya berpamitan kepada kedua mahasiswa itu. Kami
pulang dengan selamat sampai di rumah. Disambut dengan meriah dengan bapak yang
menunggu di garasi depan rumah.
―
Meja
Makan, 9 Maret 2023
“Ayo Senja makan dulu, ada
uritan”, aku yang
sama sekali tak suka uritan itu semakin malas untuk menginjak beberapa anak
tangga.
Masih terlalu asik pada
perjuangan Biru Laut dan organisasi
aktivisnya yang satu persatu hilang ditangkap aparat beserta
intelnya. Aku yang mempunyai rasa ingin tahu yang cukup besar akhirnya beranjak dari
tempat tidur. Mencicip sejumput serpihan uritan dan kawan-kawannya, memuluk
nasi yang ibu
santap, akhirnya tertarik juga untuk makan malam. Diambilnya piring kecil,
mengambil satu setengah entong nasi supaya tak terlalu banyak porsi makan malamnya. Nasi panas dan sudah mulai
mengering dipadukan remukan ungkepan ayam kesukaanku yang asin
memanjakan lidah untuk sementara.
Nenek
datang mengunjungi ruang makan kami menyantap. Ibu menjelaskan pada nenek—darah tempat ibu berasal—tentang putu-nya ini yang sedang malang ditiup badai. Aku sambil me-muluk nasi
demi nasi yang ludes dengan waktu singkat. Selesai menjelaskan lalu nenek berkata,
“Wis rapopo nduk, tak
usah didengarkan
kata teman-temanmu, yang penting kamu ujian, lalu dapat nilai bagus”, kata nenek meyakinkan.
Sebenarnya tak mudah tidak
mendengarkan kata mereka sebab seperempat dari dua puluh empat jamku di sana.
Sebuah tempat biadab yang ditelan kemurkaan. Belum lagi kata-kata yang
membekas, tak hanya seperempat dari sehari, melainkan bisa berhari-hari. Apalagi
kadar kecuekanku belum setara apalagi lebih dari ibu dan nenek, yang cueknya melebihi kucing
peliharaanku. Tapi, ‘tidak
peduli’ ialah
jalan ninja semua orang yang sama sepertiku.
Kata-kata sore tadi terucap
lagi. Darah yang mendarah beserta ucapan yang juga bersinggah dari mulut ibu ke darah asalnya, seakan duo ibu dan anak itu serasi sekali.
“Dulu tak kenal, maka sekarang juga tak kenal juga tak masalah”, ucapan itu sebelas-dua belas dengan prinsip ibu.
“Orang itu biasanya gitu,
Senja..artinya kau jauh
lebih baik
daripada mereka yang membenci.. makanya bicaranya di belakang, yang mereka bisa
hanya berkata
semena-mena, karena kau jauh lebih mampu daripada mereka”, lanjutnya.
Kalimat demi kalimat terucap
dengan makna yang sama, akan tetapi dengan huruf dan pengucapan yang berbeda.
Oleh darah asalnya. Semua terangkum
menjadi paragraf yang menguatkan hati.
―
Belenggu Dendam,
10
Maret 2023
DI hari
yang sudah berbeda dan rasa yang masih sama. Kini aku hanyalah manusia tanpa
kata, tanpa suara, tanpa kaki, tanpa tangan, bahkan tanpa raga. Semua-mua yang
ku miliki seperti tak kasat mata. Hadirku hanya untuk bahan cacian dan makian.
Di sanalah mereka berada, tentunya masih di tempat yang sama. Di ruangan
berwarna hijau dengan banyak bingkai yang digantung di muka dinding.
Masih dengan tatapan yang tajam
dan dingin. Juga iris mata yang penuh kebencian. Ada yang semakin hari
semakin membenci berkat ucapan seseorang. Ada yang hanya sekadar nimbrung—kalau
kata sebagian orang
Jawa Tengah
‘melu
payu’—supaya
tak jadi kaum minoritas seperti kami-kami ini yang dibuang hanya sebab
perbedaan isi kepala.
Hari itu merupakan hari di mana
persiapan terlaksananya Ujian Sekolah. Jadwal hari ini merupakan sesi
pemotretan untuk pembuatan ijazah
untuk syarat kelulusan sekiranya sekitar 300 siswa. Dengan hati yang
sungguh tak terkira rasa sakitnya hingga penyangkalan bahwa “aku tidak terluka” bermunculan di hati bagian
kanan dan kiri. Berusaha tegak dan menunjukkan bahwa aku sedang tak apa di
hadapan mereka para biadab.
Berangkat dengan tergesa sebab
pertaruhan menempati kursi kosong akan segera tiba. Dalam perjalanan, masih
tersenyum dan gembira sebab keluarga selalu mengasihiku. Juga lagu-lagu Nadin Amizah yang menemani dikala gelap.
Memasuki ruangan pojok sekolah
itu dengan langkah yang tertahan. Terasa berat, seperti ada sesuatu yang
memegang erat langkahku. Juga seakan tembok besar menyekat di gerbang depan
sekolah. Namun tak apa, kurang dari 2 bulan juga akan lulus dan lolos dari
tempat biadab itu.
Tentu masih dengan suasanya yang
sama, kursi sebelah kiriku masih kosong melompong. Aku seperti orang hina, tak
ada yang mengendus. Apalagi mendekat. Hanya keempat orang kemarin yang masih
menjunjungku. Juga masih ku letakkan kepala di atas meja, yang mungkin membuat
terkesan aku lebih buruk dari yang sebenarnya.
Bel berbunyi tanda seluruh siswa
harus memasuki ruangannya masing-masing.
29 ruang terasa seperti ruang yang selayaknya ruang. Namun ruanganku terasa
seperti neraka, hanya satu-satunya diantara 30 ruangan. Entah hawa panas dari
neraka tingkat yang mana yang terbang hingga ke sini. Semua seakan
mereka-mereka tak tahu adab memanusiakan manusia. Juga adab mematuhi orang yang
lebih tua. Seakan norma-norma dunia diberantas hebat oleh mereka sang perusak.
Pembelajaran berjalan dengan
lamban dan menyesakkan. Guru Bahasa Indonesia yang kunanti-nanti pembahasan
mengenai sastra Indonesia tak kunjung terwujud. Pantas saja, kini aku masih
menduduki Sekolah Menengah Pertama yang belum mengenal jauh mengenai sastra Indonesia dan lika-likunya.
Namun pembahasan mengenai konjungsi, majas, dan gaya bahasa cukup membuatku
beralasan bahwa pembelajaran bahasa ialah hal yang menyenangkan.
Tak lama setelah pembahasan soal dan ceritanya
sebagai persiapan Ujian Sekolah, bel berbunyi dengan nyaring seperti biasanya.
Sampai jangkauan 20 meter pun
terdengar. Karena hari ini merupakan hari Jumat yang penuh berkah, bel hari
spesial ini hadir untuk menunjukkan istirahat pertama dan terakhir tiba.
Selanjutnya akan dilanjutkan pembelajaran sepenuhnya.
Hari itu hari yang cukup pendek, namun terasa sangat panjang bagiku.
Menunggu sesi pemotretan yang lamanya tak terduga, sebab dilakukan satu persatu
siswa dengan kamera yang hanya satu. Sehingga keputusan dari guru ialah pulang
terlebih dahulu lalu berangkat lagi sekitar pukul 2 siang untuk menunggu
giliran kelas kami. Melelahkan dan malah merepotkan bapak, harus bolak-balik
dua kali ke sekolah. Namun aku bersyukur sebab tak bertemu dengan mereka, walau
hanya untuk beberapa jam.
TIGA jam telah berlalu,
saatnya untuk kembali bertemu mereka yang sungguh meremehkan manusia-manusia
kecil seperti kami. Yang hanya punya mimpi yang besar dan berharap impinya akan
datang di suatu waktu. Ku kenakan seragam putih biruku kembali yang mulai lusuh
sebab sebelumnya tak digantung dengan rapi. Tak lupa dasi bergaris tiga yang
menandakan sebentar lagi aku akan lulus. Juga sepatu warrior yang sudah banyak
tercoret cat akrilik karena tak sabar ingin melepas belenggu selama tiga tahun
terakhir ini.
Saking
muak dengan wajah-wajah mereka, aku datang paling akhir. Disaat semuanya sudah
menunggu dan membayar sejumlah uang untuk biaya pemotretan, aku masih bersantai
mengumpulkan nyawa di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Bantal yang
sudah entah ke mana hilangnya, sprei yang sudah mulai terlepas dari ranjang,
hingga cat minyak yang masih melekat di kedua tangan. Dengan mata yang masih
sayu dan merem melek, rambut yang acak-acakan yang entah kuncirnya telah hilang
ke mana, tanpa membasuh muka, ku kenakan kembali seragam hari Senin itu.
Beranjak dari tempat tidur dengan hati yang selalu malas ketika mendengar
segala hal yang berkaitan dengan mereka. Segala persiapan dan obrolan sudah
menyertai mereka di sana―masih di ruangan gelap itu―sedangkan aku masih
bersantai ria mendengar senandung lagu oleh Nadin Amizah sambil mengenakan
sepatu bulukku di rumah yang jauh lebih nyaman.
Karena
kedatanganku paling akhir, beberapa panggilan mengenai tagihan biaya pemotretan―dari
mereka yang masih ku kenal―terdengar dari gawai di sampingku. Bergegas
membonceng bapak untuk kembali ke ruangan gelap itu dengan hari yang terpaksa.
Selalu ingin libur untuk tak melihat wajah-wajah gelap itu lagi. Semua ini
masih harus berjalan dengan lamban untuk sementara waktu lagi.
Menaiki
motor bapak yang butut dengan posisi menyamping seperti ajaran kedua orang
tuaku, wajah yang masih belum segar sebab langsung bersiap, juga sayu sebab
kenyataan tak sesuai dengan keinginan, yaitu berpecah dengan mereka.
Mati
bersama-sama di hutan belantara hijau di ruangan gelap itu hingga membusuk
berjamaah.
Datang
dengan tas kecil yang dislempangkan di leher dengan rambut rapi terikat di
sekelilingnya, lalu masuk dengan sangat berhati-hati ke ruangan gelap itu.
Ketika ragaku hadir di depan pintu, semua mata tertuju padaku yang entah
tujuannya apa. Mungkin bila aku orang yang tak hina di mata mereka, hal itu tak
kan terjadi.
Bergegas
mencari bendahara kelas yang akan mengantarkan sejumlah uang untuk biaya
pemotretan. Ia tiada di ruangan itu. Tanpa banyak pembicaraan yang sia-sia,
ragaku bergegas menuju luar ruangan karena sungguh tak nyaman. Mata mereka yang
tajam bagai pisau yang terasah tadi pagi, tangan mereka yang bagai pembunuh,
wajah mereka yang sungguh kusut, hingga mulut mereka yang kotornya bak tak
pernah dibersihkan.
Kala itu
ku berdiam diri di suatu ruangan yang tak ada satu pun penghuninya. Seperti
biasanya, aku suka sekali sendiri, karena tak ada yang perlu dipikirkan. Entah
itu mengenai diri sendiri yang buruk di mata orang lain, ucapan yang harus
diseleksi satu persatu supaya tak jadi akar pisau yang tajam, juga gelagat yang
kaku sebab harus terus menerus dikoreksi manusia-manusia itu. Ruangan yang
redup, meja tertata rapi, juga tempelan motivasi dari masing-masing siswa yang
dipajang tanpa debu yang bertebar. Ruangan itu tak jauh dari ruangan gelap
milikku, hanya melangkah kurang lebih 15 langkah manusia berkaki panjang, semua
orang bisa meraihnya. Walau sangat asing bagiku, namun aku mengenal beberapa
orang penghuninya.
Menunggu
panggilan untuk pemotretan, bayangan kebencian menyertaiku dari lubuk hati yang
terdalam. Keinginan untuk mengatakan kata ‘tidak’ tergiur dari saraf-saraf
bibirku yang tipis.
Menunggu
sekiranya sepuluh menit untuk mendapat giliran pemotretan, tibalah di suatu
titik di mana kebencian harus mulai terurai melalui lidah dan telinga. Terurai
bukan untuk mengurangi, namun menambah dan memupuk benih baru.
Mulut
jahat mereka mulai bergetar mengucap banyaknya bualan penghianatan, membuka
topeng dengan perlahan lalu menikam dari belakang dengan belati tajam.
Merapikan
penampilan yang sungguh kusut sebab baru saja bangun tidur, seorang dewasa
berumur kepala dua yang ku jumpai 4 hari lalu juga ikut membantunya. Seorang
guru berkata pada si Tinggi—terkait pertandingan kekalahan kemarin—yang lupa
dengan kulitnya (alias tak mengingat teman lama).
“Badan
doang tinggi, main tak mampu”, ia berkata sambil bercanda ria menertawakan.
Suara
tawaku kukeraskan supaya si Tinggi ikut serta mendengar.
“Yang
penting tidak bermain egois og, Pak”, keras kepala dan kata melawan
ialah ciri khas dari mulut si Tinggi. Yang menimpakan suatu kekalahan kepada
seseorang. Hanya karena terlihat pandai dalam dunia basket, semua hal bisa
disombongkan olehnya. Juga menutupi kebodohan dengan pengetahuan yang dapat
diakses mudah melalui internet. Bukan berarti kami-kami ini lebih rendah
daripada tokoh ‘tong kosong nyaring bunyinya’.
Ku lihat
juga beberapa tampang si pemberani yang sebenarnya berjiwa cemen jika beradu
argumen. Hanya bermodal pasukan bertopeng dan berseibo lengkap dengan rompi
anti kebencian, kebaikan dapat dibeli murah olehnya dengan banyak menebar
perhatian kepada kalangan orang. Tampang yang sungguh membosankan dan patut
diremas jika bertemu, menjadikan gemuruh amarah meriak di sekujur tubuhku.
Senyum seperti psikopat juga dengan ucapan manisnya yang menikam. Sungguh
mengenaskan.
SESI pemotretan telah
usai, kini saatnya untuk pulang. Di ruangan gelap ini, mau pulang saja susah.
Harus melewati pemotretan satu kelas yang tak ku anggap sebagai teman.
Upaya
izin kepada bapak guru ku lakukan, “Sudah pak, apakah sudah diizinkan untuk
pulang?”, Kataku dengan lelah melihat wajah-wajah mereka.
"Nunggu
temannya dulu", kata ia dengan santai dan melihat situasi sekitar.
"Mereka
bukan teman saya, Pak", ucapku dengan keras layaknya berdemo di depan
orang banyak.
Walau
hati menginginkan sekali untuk pulang ke rumah yang lebih sejuk dan tenang,
namun mereka—enam orang yang sama nasibnya denganku—ialah alasanku untuk tetap
berdiri di tanah neraka pada saat itu. Pemotretan bersama penghianat-penghianat
itu kulaksana dengan begitu paksaan. Rasa benci kupendam dalam-dalam di hati.
Walau tak semuanya mengakar ke lapisan hati paling dalam.
27 Ramadhan
SORE hari yang begitu
terik dan panas. Cuaca di bulan April tahun ini panas sekali, entah sebab pemanasan
global atau seorang yang membakar sampah sembarang di lapangan sebelah. Nenek
sedang meracik bumbu sayur asem, sedangkan ibu memotong-motong terong, kacang
panjang, jagung, dan labu siam sebagai ampasnya. Aroma sayur asem mulai
terhembus jelas menuju kamar tidurku. Yang berantakan dan berserakan. Kanvas di
atas meja, cat akrilik di mana-mana, juga cat minyak yang sudah lama tak
terpakai, serta bulu kuas yang sudah banyak rontok dan kering. Dahaga juga
lelah dijadikan satu serta kantuk menyerang begitu saja.
Sambil
menunggu azan Maghrib, ku lakukan hal yang serta merta diperuntukkan untuk menunjukkan
bukti syukur. 30 menit sebelum azan ialah waktu paling tepatnya. Tenggorokan
yang kering juga bacaan huruf Arab sudah mulai tergesa-gesa sebab targetku hari
ini ialah membaca 1 juz penuh atau lebih. Mukena yang masih membasuh tubuhku
juga tasbih berisi 33 manik-manik ku kenakan sebagai sarana bertampil bersih di
depan Tuhan. Bukan untuk berlagak suci, namun sudah seharusnya demikian.
Bacaan
huruf nun dengan harakat kasrah yang berada di kalimat terakhir merupakan huruf
terakhir yang ku baca setelah akhirnya disusul dengan terdengarnya azan Maghrib
yang berkumandang di seluruh penjuru kota Surakarta. Sebab dahaga yang begitu
menusuk di tenggorokan, terdengarnya azan Maghrib menjadikanku bersemangat
paling kencang untuk meminum teh hangat buatan bapak di lantai bawah. Ditunggu
oleh ibu, bapak, juga nenek yang sudah bersinggah duduk di hadapan meja makan
dengan pernak-pernik makanan buka puasa. Ada sayur asem yang hangat, ikan
keranjang yang disuir untuk memudahkan menyantap, tempe mendoan yang baru saja
mentas dari kolam minyak panas, juga es kopyor dengan sirup merah dan daging
kelapa di dalamnya. Semua menunya―yang dibuat nenek dan ibu dengan peluh
keringat bau masam―menggiurkanku untuk segera berbuka.
Pertama
ku ambil nasi dari magic com lalu disiram dengan kuah panas sayur asem
sekaligus ampasnya yang sedikit banyak. Ikan keranjang suir diletakkan di
piring kecil lalu tak lupa mengambil es kopyor sampai gelas penuh serta tempe
mendoan yang sesuka hati ingin ambil berapa. Lengkap sudah menu berbuka.
DI tengah-tengah
memuaskan nafsu berbuka, ku bertanya kepada ibu yang tengah memuluk nasi
terakhirnya.
“Bu, aku
sudah mau lulus, tak lama lagi. Bahagia tidak?”, ucapku sambil merapikan nasi
yang dibalur ikan keranjang.
“Kalau Senja bahagia, ibu juga bahagia” ucapnya sambil melihat kedua bola mataku untuk meyakinkan.
―
Epilog
Bila di hari kelulusan tiba, aku akan berlomba-lomba jadi juara berpredikat orang paling bahagia di dunia. Selamat tinggal manusia-manusia yang tak patut dipanggil manusia. Selamat tinggal penghianat bertopeng yang mengambil peran menjadi malaikat bersungu dua. Selamat tinggal mata datar segaris lurus dengan garis khatulistiwa. Selamat tinggal cerita-cerita gelap yang tak senonoh untuk diulang. Selamat tinggal kebohongan-kebohongan dan hasutan-hasutan liar para pendusta. Selamat tinggal. Ku tunggu kau di garis di mana kita tak lagi sepadan. Antara kau yang jauh di atasku, atau aku yang akan jauh lebih di atasmu.
―
Dariku,
Aku
ialah Nayfa Matsna yang baru saja menggeluti dunia menulis akhir-akhir ini. Cerita
pendek ini merupakan cerita pendek pertamaku setelah kurang lebih satu tahun
mengenyam di dunia tulis-menulis.
Kisah
ini diambil dari kisah nyata seorang siswa Sekolah Menengah Pertama dalam
menjalani kehidupan tahun terakhirnya semasa mengenyam pendidikan berseragam
putih biru. Senja Gitarja, sebagai tokoh utama (dengan menyamarkan nama
aslinya) ialah seorang yang ditimbun tanah oleh makian dari mereka-mereka yang
banyak membual dan saling menghianati. Bersama enam teman lainnya―yang juga
sama dengannya―melawan arus yang dibuat oleh mereka-mereka yang menghina.
Cerita
ini juga ku bagikan sebagai perayaan kelulusanku semasa SMP. Untuk merayakan
mereka-mereka yang berhasil selamat dari segala kata cacian dan makian dari
mereka-mereka yang tak berkemanusiaan.
Semoga cerita ini
dapat menguatkan satu sama lain dan berperan hebat di mata mereka yang sama
seperti seorang Senja Gitarja.
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar