Senja Termendung

 



Prolog

 

 

 

AKU duduk di bangku sekolah menengah pertama yang susah senangnya ditampung sendiri. Memakai atasan putih berkerah panas, bawahan rok panjang berwarna biru, dasi yang sama warnanya dengan bawahan, ditimpa 3 garis miring benang-benang yang saling mengikat tanda tahun terakhirku di SMP telah tiba. Hingga logo OSIS yang hanya dipajang tanpa ikut serta ke dalamnya. Menginjakkan kaki di lantai kuning kecoklatan, tak jauh dari rumah, kurang lebih 10 menit untuk sampai. Berpagar besar dihadapan lalu lalang manusia, lorong sunyi yang sampingnya terdapat 2 kaca untuk refleksi diri, pajangan siswa, dan promosi dari luar sekolah. Lebar luasnya tak terkira, mungkin cukup untuk menjemur 900 manusia. Kalau lari dari ujung sampai ke ujung capek juga, entah berapa meter kali berapa meter.

Pot tanaman yang berjejer memenuhi teras setiap kelas, tanaman gantung juga ikut serta memberantas polutan yang sudah mulai mematikan bumi, walau dampaknya tak sekeras yang dicipta sampah plastik. Kini sebagai pahlawan ramah lingkungan, tanaman itu sangat disayang para pengajar gen-X maupun gen-Y yang seharusnya juga turun menurun ke gen-Z. Menyiram, menata, dan merapikan setiap Jumat yang ditentukan, yang rutin dilaksanakan mungkin kurang dari satu bulan.

Kelas 7 yang masih tertidur pulas di tempat tidur, kelas 8 yang masih mengantuk, sayu, dan merem melek, kelas 9 yang sudah terbangun 100 persen dari tidurku. Nama Senja Gitarja terlekat jelas dengan huruf berwarna hitam di atas persegi panjang merah di dada sebelah kanan yang putih berlahan kosong. Kini sudah berwarna merah, tak lagi berbenang kuning. Dijahitkannya setiap pergantian tahun pelajaran oleh nenek yang selalu sukarela membantuku. Yang dahulunya berwarna hijau menjadi warna kuning. Setelah menginjaki warna kuning yang penuh lika-liku, tibalah di warna merah. Akhir jenjang di sekolahku.

Nama yang diberi ibu dan bapak sesaat setelah beberapa hari dari kelahiranku. Senja Gitarja. Kelahiran dengan penuh bimbang. Berumur selayaknya orang-orang, atau hanya bertambah 1 tahun setelah kelipatan 4. Untung saat itu ibu dapat memilih hari, jika tidak, mungkin umurku saat ini masih 3 tahun. Seorang bayi dewasa.

Berjalan menuju pintu dekat tangga yang menjadi akses adik kelas ke persinggahannya sampai 6 jam kedepan, di sana aku berada. Di pojok sebelah kantin berada. Di tempat penuh kegelapan yang hari demi hari semakin menyelam, mengelam, dan tenggelam. Dari Juli tahun lalu sampai Mei nanti, dari banyak orang yang menyukai, hingga habis di telan cepat-cepat sampai tenggorokan. Sampai-sampai tersedak di pangkal tenggorokan.

Tahun terakhir, lebih tepatnya 2 bulan terakhir menyambut kelulusanku, seluruh manusia yang tadinya putih suci di mataku, sekarang menghitam dan gelap menuju kekelaman. Semuanya saling menghianati dan terhianati. Sama juga denganku, tak luput dari penghianatan. Entah jadi penghianat atau yang terhianati. Ritual di satu ruangan itu selalu memakai topeng, hanya lepas sewaktu berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing (atau mungkin tetap saja memakainya).

Ada yang perlahan tapi pasti menusuk dari titik buta, ada yang senyumnya melebihi manis madu murni tapi ternyata pahit bak memakan pare satu kebun, dan banyak spesies manusia lainnya.

Lahir dan besar di kota Solo dengan iringan gamelan yang ku sukai sejak kecil. Juga biasanya bapak selalu mengajak setiap minggunya ke pendopo―tempat biasanya kami menonton―untuk menikmati pertunjukan seni. Mulai dari seni tari yang biasanya menunjukkan: Tari Bedhaya Ketawang dengan mitos percintaan kerajaan Mataram-nya; Tari Gambyong yang dahulunya digunakan sebagai upacara ritual pertanian para penari yang sekarang kerap digunakan untuk menyambut tamu, perayaan hari besar dan pernikahan; hingga Tari Serimpi yang dibawakan oleh empat penari yang masing-masing mendapat sebutan air, api, bumi, dan tanah. 

Waktu-waktu tertentu juga pendopo tersebut menggelar seni peran. Yang ini sangat kusukai. Entah seni peran tradisional maupun modern, semua mimik wajah para pe-seni peran membuatku jatuh hati. Lengkap dengan gerakan-gerakan koreografi yang khas dan elegan hingga menusuk jiwa raga.

Saat sudah mulai bosan hanya menonton tari atau teater, kami berdua: aku dan bapak, atau aku dan ibu, maupun kami bertiga berkunjung ke tempat pameran seni rupa berada. Rutinitas ini berjalan sekiranya 3 tahun. Sejak kelas 2 SD hingga kelas 6 SD saja, sebab akhir-akhir ini banyak kesibukan yang harus diselesaikan. Semua orang juga sibuk mengejar mimpinya masing-masing, begitu juga denganku.

Tumbuh dengan bunyi gamelan, sinden, tekstur lukisan, puisi-puisi Katon Bagaskara, hingga keajaiban patung dan suara parau para pemain seni peran menjadikan kecilku penuh dengan seni dan antusiasnya. Entah dari cabang seni mana itu.



Tempat Biadab, 6 Maret 2023

 

 

 

PAGI itu terasa cerah, awan-awan absen terlebih dahulu untuk pagi hari ini. Walau sudah pagi, bulan purnama masih samar-samar menunjukkan pesonanya di bagian barat bumi. Matahari menerangi bumi dengan secercah sinar yang ku rindukan sejak Februari yang tampak murung dan malu-malu. Sinarnya bertumpuk di atas jendela, mengantarkan hangat yang tak merisaukan, yang ditepis oleh atmosfer bumi manusia. Seperti biasa, ritual pagi hariku ialah memutar lagu Nadin Amizah: Menangis di Jalan Pulang, Seperti Takdir Kita yang Tulis, Sorai; lagu-lagu dari Banda Neira: Utarakan, Kisah Tanpa Cerita, Hujan di Mimpi, Matahari Pagi; tak lupa juga dengan karya Mas Kunto Aji yang memberi secercah harapan untuk kembali hidup; juga lagu Sal Priadi yang akhir-akhir ini ku putar kembali: Malam-Malam Ubud, sampai-sampai Ibu bosan mendengar lagu yang hanya seputar Nadin Amizah, Banda Neira, Kunto Aji, dan Sal Priadi. Selera kami berdua sangatlah kontras. Aku yang terkesan lembek dan ibu yang terlalu nge-rock dengan embel-embel supaya bersemangat di pagi hari. Juga lagu-lagu jadul 90-an yang romantisnya bukan main. Jamrud, Slank, Dewa 19, Chrisye, Vierra yang memaksaku nge-rock atau nyemplung mengenal cinta sebentar. Walau agak nyaring di telinga tetapi masih tertoleransi karena tak hanya ibu yang suka dengan hal yang berbau lawas, aku pun juga.

Seperti lukisan; vinyl; guci keramik maupun tanah liat; prangko; meja atau kursi yang vintage-nya tak main: dilapisi warna coklat, terlihat kokoh; jam tangan dengan stainless steel yang tahan korosi bertahun-tahun; maupun jam dinding yang berbunyi setiap 30 menit sekali dengan bunyi satu kali hingga genap 1 jam dengan bunyi sesuai digit angkanya―misalnya pukul 1 siang berbunyi satu kali, pukul 2 siang berbunyi dua kali, dan seterusnya―; kertas kecoklatan karena sudah lama menua; buku-buku komik dengan ejaan lama; cergam (cerita bergambar) berseri berkelanjutan yang pastinya malas ku baca (karena aku tak lihai dalam hal baca-membaca); tempat bir jaman dahulu yang tentunya tak kan dipakai juga, majalah-majalah kuno, hingga gelas-gelas atau piring-piring kecil mini khas China berbau lawas yang dibawakan bapak sesaat setelah berkunjung ke pasar loak setiap paginya. Hanya absen bila ada keperluan penting atau istirahat untuk waktu yang singkat. Walau sudah lusuh dan tak terawat namun terkesan elegan dan antik serta cantik di mataku.

 

 

SETENGAH dari 4 bulan telah terlewati. Kegiatan yang dinanti-nanti beramai-ramai manusia itu terlaksana. Di mana lomba antar kelas dilaksanakan.

Pagi itu, terlihat orang-orang sedang mempersiapkan dirinya pergi bekerja, menempuh ilmu, dan keperluan lainnya dari balik jendela. Ku lihat diriku sendiri ini yang tampak jernih, tak kacau, berusaha menerima tentang yang telah ku tanam di depan rumahku. Esok itu mungkin jauh lebih baik, mengeringkan tenggorokan sejak pagi-pagi buta hingga terdengarnya adzan Maghrib untuk  redanya gaduh, menerima seluruh takdir yang Tuhan cipta dan diperuntukkan untukku.

2 minggu atau bahkan kurang dari 2 minggu menuju Ramadhan, mungkin ini waktunya untuk membiasakan diri bertahan dikala angin ngalor-ngidul menginjak punggung dengan keras. Tetap berdiri tegak dengan kepala yang melihat ke ujung jalan bila jutaan petir menyambar. Menegakkan kembali kaki-kakiku, meluruskan jari jemariku. Mengangkat kepala yang sudah tertunduk lama sejak Desember lalu.

Dengan perut yang terakhir terisi pada pukul 4 pagi dengan alarm yang selalu molor dan dibunyikan setiap 5 menit, aku menuju sekolah di mana aku menempuh ilmu untuk 3 tahun lamanya. Di sana layaknya tempat gelap, sebelas dua belas dengan gua yang jauh dari sinar matahari. Layu diantara bunga-bunga lain yang disemai dengan sedemikian rupa oleh penghuninya. Penghuni yang jauh lebih cantik dan terawat.

Datang lebih pagi karena aku tahu aku tak kan didekati.

Benar saja, kebencian telah ditimpakan seluruhnya ke diriku yang baru saja datang.

Seperti orang yang baru bangun tidur, setengah melek, tiba-tiba batu yang sangat besar terjatuh tepat di depanku. Disusul batu kerikil yang mengenai seluruh tubuh. Hingga mengharuskanku berhenti sejenak di tepi hutan belantara itu. Lingkaran setan itu berada. Kepalaku tergores bebatuan yang entah bagaimana bisa tajam setajam silet yang pernah ku gunakan dahulu. Seperti nostalgia. Tanganku lebam-lebam terkena reruntuhan batu koral yang seharusnya jadi penghias teras rumah. Kakiku tergelincir sebab begitu banyaknya kerikil yang berjatuhan layaknya hujan di bulan Februari. Sekarang saling bertumpuk membentuk suatu gunung yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dari gunung Everest yang puncaknya berada di daerah otonom China. Entah ulah siapa itu. Semuanya memakai seibo dilapisi topeng. Berlapis-lapis.

 

 

JAUH dari kata nyaman, orang-orang seperti setan kesurupan di setiap detiknya. Wajahnya tertindas buah pikiran kotor yang satu persatu beruntun mencaci maki seseorang.

Kegaduhan itu bermula dari ketidakterimaan terhadap takdir-Nya. Mengapa? Mengapa? Mengapa?”, kata tanya itu selalu tersemat dalam kepala. Tiba-tiba, diam menghampiriku sejenak, mengajak ngobrol apa yang selama ini terjadi.

Berjalan beberapa langkah untuk menuju salah satu ruangan dari 30 ruangan―yang belum termasuk ekstra ruang untuk berkumpulnya para pengajar, orang yang tiba-tiba sakit, tempat seribu buku berada, hingga ruang di mana puluhan komputer berada, ruangan untuk mengurus administrasi sekolah dan ruang-ruang kecil lainnya―di mana tempat lingkaran setan itu berada.

Masuklah aku ke sana. Hawanya tak main-main. Gelap. Yang biasanya gelap satu paket dengan dingin, tetapi di sini malah panasnya tak karuan. Terdapat 5 jendela besar. 2 jendela di sisi kiri ruangan lengkap dengan pintu kuno nan lawas. 3 jendela di sisi kanan ruangan, berjejer sejajar dengan apik dari sudut ke sudut ruangan. Di mana 1 jendela besar terdapat 2 buah anak jendela untuk mencari hawa, satunya hanya kaca buram yang jarang terawat―karena yang merawatnya juga sudah mati hatinya―dan tembus pandang. Tetap saja hawa panas yang masuk ke dalam ruangan seperti ada pesta membakar sampah besar-besaran di luar. Dingin bersembunyi untuk waktu yang cukup lama.

Gagang pintu yang mulai berkarat, jam dinding persegi yang tak pas pada waktunya, hingga pintu yang berbunyi nyaring dan tentu saja tak merdu jika ada seorang atau segerombol orang keluar masuk sana-sini, entah berkepentingan atau tidak.

Membawa buku bersampul hitam dengan 120 lembar kertas kosong yang biasa ku gambar dengan gambar-gambar yang terbilang aneh bagi seorang yang jauh dari pengantusias seni, yang selalu ku bawa ke ladang penuh kegelapan sebagai batu berlindung. Juga sebuah novel yang baru-baru ini ku baca sejak sudah bersinggah lama di rak buku September lalu sebab bakat literasiku sangat minim. Siapa tahu aku tak tahan, melihat kebencian yang selalu mendorongku ke sudut ruangan. Gelap, kasar, kacau, sunyi.

Kedatanganku membungkam mulut jelek mereka yang nyerocos setiap paginya, sesaat sebelum kedatanganku. Tanpa kehadiranku.

Aku layaknya manusia penuh dosa, tanpa kebaikan, hitam menyeluruh, mata yang sayu dan dingin di mata mereka yang sebelas dua belas dengan pisau asahan Ibu. Tanpa ampunan. Tanpa celah. Ngeri, sekte mana yang dapat melampaui sekte setan itu.

Pagi itu tak ada satu manusia yang mendekati. Duduk bersama saja tiada yang tertarik. Hanya mementingkan gengsi ‘bahwa aku yang paling berkuasa di sini’ hingga mengacaukan satu ruangan itu dengan  repotnya gengsi mereka-mereka yang sinis dan mahir berkata buruk.

Syukur pada 3 hari yang santai dan tiada satu buku pelajaran yang ku bawa, aku dapat duduk sendiri di kursi yang sudah mulai roboh. Di meja yang lebarnya bisa untuk 2 orang. Supaya tak terlalu sepi, lebih baik ku taruh tas di mana buku-buku penyelamatku berada.

Orang-orang semakin jijik melihatku yang sendiri, terlihat kacau, dan semakin memanas.

Pagi yang disambut dengan gaduh.

Mata mereka setajam pisau yang selalu diasah Ibu setiap kali ingin mengiris daging sapi alot. Tangan mereka berdarah-darah membunuh jutaan hati manusia dengan hatinya pula yang menghitam dan kejam. Otak mereka telah dicuci oleh satu kebencian yang perlahan meluas seluas samudra Pasifik.

 

 

BEBERAPA menit telah berlalu. Para pengajar sedang mempersiapkan membina pertandingan antar kelas. Para yang terpilih mewakili saling berlatih guna memenangkan pertandingan.

Sesaat setelah bel berbunyi, 900 lebih manusia berkumpul di halaman ber-paving hijau. Penjelasan secara teknis diumumkan secara rinci. Juga aturan siswa yang tak boleh memasuki kelasnya masing-masing selama pertandingan terlaksana. Tak peduli mau sejuta alasan apapun.

Setelah semuanya telah bersiap, akhirnya 3 pertandingan dilaksanakan secara bebarengan. Orang-orang memencar untuk menyaksikan kegiatan yang selalu dinanti-nantikan saat setelah ujian terselesaikan. Ada yang berkumpul satu gang untuk menyaksikan pertandingan bola basket, ada yang berkumpul satu kelas dengan kompak menyaksikan sekaligus mendukung kelasnya dalam pertandingan bola voli, dan ada juga yang hanya satu dua orang menyaksikan pertandingan tenis meja. Sama sepertiku, hanya didukung oleh orang-orang yang disinari mata cerah dan berhawa sejuk.

Semua orang bersorak mendukung orang yang disayang atau hanya terlihat sayang dari luar, maupun yang dipaksa menang. Setelah kemenanganku dengan seorang temanku tercapai, aku hanya seorang yang tak jelas tujuannya. Mondar-mandir sana-sini entah tak tahu tujuannya. Tanpa ada seorang pun di sebelahku. Menghibur diri sendiri atau memang tak ada kerjaan. Aku juga tak paham.

Hingga kaki tak sanggup menopang berat diri, duduknya aku di sebuah tempat. Di mana teriakan-teriakan itu berasal. Di mana semua mata manusia tertuju pada pertandingan pertaruhan itu. Menekukkan lutut, duduk di antara ketinggian lantai dan paving yang di-cat hijau. Meluruskan betis bila pegal merayap kaki. Menundukkan kepala menertawakan pertandingan kocak yang sedang berlangsung atau alih-alih menertawakan diri sendiri.

Di tengah-tengah tawa tiba menghampiri, mataku yang melirik sana-sini melihat keadaan sekitar, ku sadari ternyata ada seorang yang tengah duduk melihat mereka yang sedang mempertaruhkan harga diri. Ia duduk di sebelahku. Berjarak hanya sekitar setengah meter. Hanya seorang diri. Sama sepertiku. Seorang yang tak ku kenal itu, entah apa isi hatinya, ia tampak diam dan tanpa kata.

Tangan kanannya memegang lengan tangan kiri, telapak tangan kiri memegang lutut kaki bagian kanan. Bersedekap dengan bertumpu di kedua lutut, tanpa suara.

Apakah ia sama sepertiku? Jauh dibuang manusia penghianat dan tak becus disekitarnya? Atau hanya ditinggalkan teman-temannya? Kenapa sendirian saja?

Banyak tanda tanya yang tersimpan di kepala, apakah benar ia sama sepertiku, atau hanya ingin berdiam diri, siapa yang tahu. Ingin menyapa dan saling mengenal, sayang aku tak mahir dalam membuka perbincangan paling pertama dengan seorang yang masih terlalu asing dan jauh.



Di Dalam Gelap, 6 Maret 2023

 

 

 

Senja yang menjadi namaku,

Yang kian jadi peneduh manusia yang malang,

Tak seperti biasanya yang selalu indah,

Kini tak berkutik di ruang gelap gulita.

 

DENGAN lelahnya, kaki serasa menginjak tusukan jarum pentul sepanjang jalanan sempit. Tenggorokan kering bak tanah tandus di padang pasir. Mata yang mulai memejam disambi melangkahi beberapa kotak lantai. Memasuki lagi ruangan haram itu. Masih sama. Mungkin untuk 2 bulan kemudian. Sepi, hanya ada satu orang yang terlelap tidur. Entah sudah sampai mana mimpinya. Gelap, seperti penghuninya. Sunyi, untuk kami ‘yang tersingkirkan’. Seterusnya. Tak berubah.

Duduk bersedekap, meletakkan kepala di atas meja. Kantuk itu perlahan merekatkan kedua kelopak mata. Di pojok sisi kanan ruangan, baris meja kedua dari belakang. Di sana aku menyimpan diri. Dalam gelap tanpa lampu menjilat muka. Hanya ada secercah cahaya yang datang dari jendela. Dalam pejaman mata. Tersimpan kata-kata di kepala. Bagaimana cara bertahan. Bagaimana kursi sisi kiriku tak lagi kosong dan hanya dihuni tas yang masih bertahan lama sejak sekolah dasar. Bagaimana orang-orang mau lagi duduk bersinggah di bangku sebelah kiriku untuk beberapa jam. Padahal tak mempunyai teman ialah bukan hal yang besar dan patut dibesar-besarkan di kepala.

Kepala yang masih penuh dengan kemauan akan masa depan ini ku patahkan ke sebelah kanan. Dihadapan tembok aku tak mengucapkan sepatah kata apapun. Seolah kita sama-sama canggung untuk saling menatap.

Setiap kali memandang wajah mereka, satu persatu ingin ku penggal kepalanya.

Di dalam gelap itu, sesekali dua kali ku patahkan kepala ke sisi sebelah kiri dengan lamban. Menghadap 2 jendela besar dan sebuah pintu yang malang. Untuk mengawasi siapa yang menikmati pertunjukan seorang manusia terperangkap dalam gelap ini. Terperangkap dalam kebencian yang selalu menjadi sasaran lengkap dengan tuduhannya. Dalam jebakan perempuan berumur kurang dari berkepala dua dan lebih dari satu dasawarsa. Menuju dewasa. Berseibo lengkap dengan topeng dan rompi anti kebencian. Yang tak ingin dirinya dibenci tetapi mengujarkan ratusan peluru ke arah satu target. Yang entah targetnya salah atau tidak. Tak peduli.

Kepala yang masih menghadap pada kedua jendela di sisi kiri itu tiba-tiba mereflekkan kembali menghadap tembok hanya pada saat terdengar suara pintu atau terlihat mata-mata yang sekiranya tajam bukan main.

 

TERDENGAR suara gagang pintu yang ditarik dengan nyaring dan fals. Ditarik ke arah bawah lalu mendorong pintu―yang sudah lama tak dibenahi itu―dengan tenaga yang lemah dan cemen. Bunyinya mengganggu dunia di kepalaku. Ternyata itu salah seorang sosok penghianat. Tubuhnya kecil, mungil, gosong, dan masih sama dengan lainnya (matanya seperti pisau asahan ibu). Panggil saja ia si Provokator. Suka mengadu domba, mirip-mirip pimpinan politik devide et impera ala Belanda. Entah keperluan apa yang mengharuskan ia ke sini. Sampai harus banget ke sini sekarang juga.

Entah ia mengambil barang apa di sebuah ruangan yang tak boleh dikunjungi untuk beberapa saat itu. Yang juga ku langgar peraturannya. Entah mengambil sebenih pembicaraan buruk untuk diumumkan menggunakan megafon ke seluruh dunia atau mengumpulkan informasi layaknya intel yang berkeliaran semasa pemerintahan Presiden Soeharto. Lalu kembali lagi di mana sorakan ratusan manusia itu berada.

Pandangan yang mulai buram dihadapan tembok, ku coba rekatkan kelopak mata sampai tak ada lagi setitik cahaya pun yang masuk.

Tatapan mereka hampir mirip semua. Hanya iris mereka saja yang berwarna-warni. Ada yang mengandung kebencian, ada yang mengandung dengki, iri, dan hal yang tak ku ketahui dan tak ingin ku ketahui.  Membentuk bermacam-macam warna di iris mata para penghianat.

Di tengah kantuk yang tak pasti, aku mengingat sesuatu yang kubawa dari rumah tadi. Sebuah novel berjudul Laut Bercerita masih tersimpan rapi di tas ranselku. Sedikit lecek dan bernoda. Bersampul biru berlukiskan dasar laut dan sepasang kaki yang telah sampai pada lapisan laut paling dalam dengan sudut-sudut sampul buku sudah mulai menekuk karena tak pandai merawatnya.

Sampai sekitar halaman 150 dari 379 halaman. Ku lanjutkan membaca sampai entah berapa halaman. Pastinya tak sepenuhnya fokus pada cerita karena saking banyaknya hal yang terpikirkan.

 

 

SETELAH belasan menit berlalu, dikala hati sedang bersuara membaca, segerombolan orang datang lagi layaknya ingin merazia. Membuka pintu dengan keras. Tak tahu pasti jumlahnya berapa. Mungkin sekitar 5 sampai 10 orang. Bergerombol berjejer dan berbanjar membentuk pasukan baris-berbaris memasuki ruangan ini. Menyebar melewati persimpangan antara dua meja menuju sisi ruang belakang, membentuk lingkaran. Membicarakan topik acak, mungkin supaya aku tak dengar. Entah kali ini kesurupan malaikat dari mana, tumben tidak membicarakan orang lain. Atau aku yang terlalu fokus pada cerita Biru Laut.

Pembicaraan berlangsung mungkin untuk 10 menit keatas sebelum satu persatu penghuni lainnya masuk ke ruangan ini. Lama-kelamaan ruangan ini dipenuhi manusia-manusia yang sudah kering tenggorokannya karena bersorak terlalu keras.

“Nanti kalau keluar atau masuk, tolong ditutup pintunya, ya!”, salah seorang dari mereka membuat budaya menutup pintu setelah keluar atau masuk ruangan. Kurcaci-kurcaci penurut pun ikut saja.

Tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari arah pintu yang pastinya nyaringnya bukan main bila didorong sekuat tenaga. Gagang pintu burik berkarat itu digenggam lagi oleh tangan busuk mereka. Yang habis mengaduk-aduk air got dengan tangan yang perlahan menghitam. Mungkin kali ini yang membuka si Pimpinan atau si Tinggi yang biasanya berjalan paling depan. Benar saja, mereka ialah si Tinggi yang butuh validasi, si Pujian yang butuh perhatian juga sesuai namanya, si Pengikut sebagai antek-antek penurut kata si Pimpinan, juga si Pimpinan yang tak mahir memimpin kebenaran. Menekan ke bawah sambil diiringi bunyi cempreng dan pintu seret nan ngeres dengan bantuan tenaga loyo bak ayam tanpa tulang. Terlihat muka-muka benci mereka yang tajam dari kejauhan, dari barisan bangku kedua dari belakang. 4 kepala melayang-layang di atas udara. Sambil bertumpu di kedua bahu yang kaku dan lembek itu. Masuk dengan barisan berbanjar, entah tujuannya apa. Mungkin untuk lebih terkesan gangster kelas atas.

Bola mata 4 sosok itu menyudut menuju titik buta yang sempat membuatku ingin memotong satu persatu lehernya. Yang satu butuh validasi bahwa ia manusia paling tinggi di dunia, yang satu butuh pujian menyeru di sekelilingnya, yang satu ikut-ikutan membenci bak tak punya pendirian, dan yang satunya lagi selalu memimpin barisan paling depan (akan hal keburukan).

Agak lucu melihat empat orang berkumpul kembali padahal dulu saling membenci, saling menghianati. Si Tinggi sempat dibuang ke tong sampah, kecewa, lalu kembali lagi dengan bau busuk di badannya. Bau busuk menyala-nyala di tempat ia berdiri. Lalat hijau sergap mengerubung dengan membawa kotoran menjijikkan di ujung tubuhnya lalu meninggalkan di tubuh si Tinggi dengan ledekan jenakanya. Lalat itu mengatakan, “Tak mengenal jera, ya?” diiringi deham ejekan.

Kacamata hitam yang setiap melihatnya rasa-rasanya aku ingin selalu mengalihkan pandangan dari neraka dunia itu. Merinding tak karuan. Ketakutan bercampur geli yang hebat.

Peran si Tinggi mungkin jadi bodyguard. Dengan postur tubuh tinggi bak pohon beringin yang akarnya selalu terhembus sana-sini setiap mendengar kata benci sangat cocok dan patut dijuluki bodyguard. Selalu mengikuti arus sungai kebencian hingga tiba di muara.

Si Pujian mengikut dengan laju di belakang si Tinggi. Tugasnya memberi bara dikala api dihidupkan. Entah yang menghidupkan api si Tinggi, si Pemimpin atau si Pengikut. Berjalan dengan tegak dan tangguh seolah seluruh manusia di dunia berteman dengan mereka.

Si Pimpinan merupakan pemimpin mereka, yang selalu membuat inisiasi buruk yang kemudian dicerna sebagai bahan ejekan dan isu terkini oleh si Tinggi, si Pujian, dan si Pengikut atau bahkan kepala suku dari sebuah lingkaran setan yang menggeluti perbincangan dengan setan terkutuk ruangan ini. Si Pengikut ini ikut hanyut dalam arus persetanan yang riuh gemulai menusuk jantung kiri dengan mengendap-endap. Ku harap tak ada perpecahan lagi diantara mereka sampai dua bulan berikutnya atau lebih. Takut topeng-topengnya rusak satu persatu sebelum dua bulan, ku harap takutku tak menjadi kenyataan.



Satu Kaki yang Perlahan Kembali,

6 Maret 2023

 

 

 

SATU iniasi demi hati ku lakukan. Satu seperempat jam setelah adzan zuhur, bel pun berbunyi dengan sangat nyarin seperti biasanya. Menunjukkan kami boleh pulang ke rumah masing-masing. Keluar dari ruangan itu, menuju rumah yang membuatku terasa setidaknya sedikit lebih lega. Hawa sejuk mulai terhirup melalui lubang hidungku. Meski terhirup udara sejuk, tak berarti dapat mengemban air dari dalam kantong mata yang sudah lama membeku. Hati yang masih berantakan, dada yang masih tersisa darah bekas tusukan, kakiku melaju cepat menuju gerbang keluar sekolah. Tak betah berlama-lama di sana.

Tiga perempat perjalanan telah terlewati. Gerbang pintu telah terlihat tepat di depanku, beberapa langkah lagi sampai. Ku jumpai seorang dewasa yang patut dan harus ku hormati. Kira-kira umurnya sudah berkepala dua. Tanganku membuka dan menghadap langit. Ku raih tangannya lalu ku tempelkan ke pipi sebelah kanan. Mengingat janjiku tadi untuk mengatakan sesuatu, ia menanyakan apa arti janji tadi.

“Tadi mau bilang apa?”, tanyanya sambil menuruni 2 anak tangga keluar dari sebuah ruangan yang tampak terang.

Aku menjelaskan secara singkat dengan memperhatikan intinya. Tuduhan, benci, beramai-ramai. Itu kata kuncinya. Alur bergerak maju sampai pada akhir kalimat. 2 menit berjalan dengan tak sadar diiringi langkah-langkah kaki bocah seumuranku atau dibawahnya. Tujuannya sama, pulang. Di antara lalu lalang itu, beberapa juga mengulurkan tangannya untuk berpamitan mencium punggung tangan seorang dewasa itu. Agar selamat sampai tujuan.

Di dalam 2 menit yang singkat, ia hanya terheran-heran dan terus menanyakan, “Kok bisa seperti itu?” dan menyebutkan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam lingkaran tuduh menuduh. Ada yang bisa ku jawab, ada juga yang belum kutemukan alasannya.

Bibirku pun berhenti mengucap kata. Ia mulai berperan dalam dialog kami. Memberi wejangan yang cocok untuk diutarakan.

“Tak perlu selalu mengklarifikasi setiap yang ada di hidupmu”, air mata yang telah membeku lama akhirnya sedikit tercairkan. Seperti bertemu dengan air panas, perlahan melelehkan bongkahan air mataku.

“Gapapa, yang bener-bener temenmu itu-“, tiba-tiba ada seorang bocah seumuranku yang menyapa dan mengajukan tangannya. Kalimat itu sedikit tersendat dan tak jelas terdengar oleh telingaku.

Namun aku tahu yang ia maksud. Air mata yang telah terpendam membeku, mencair sepenuhnya begitu saja bagai mentega yang dipanaskan di wajan penggorengan bersuhu 200 derajat celsius.

“Ya itu sudah Qadarullah kok”, lanjutnya dengan memadukan sentuhan religi: tempat berpulang.

Hampir sama seperti kata ibu di rumah, kata-katanya sama persis, tentang menerima dan ikhlas dalam menerima Takdir-Nya.

Ibu selalu tahu cerita-cerita kecil yang tak seberat batu seribu ton, tentang pertemanan yang memburuk contohnya. Tahu dari aku yang mulai berani bergaul di bulan April tahun lalu, mengatakan bahwa mengenal manusia memang hal yang seru, hingga tahu sebuah penghianatan terbesar dari seorang manusia atau bahkan beramai-ramai manusia.

Satu lukisan yang kubuat dikala itu. Mengenai bunga matahari yang sekelilingnya terdapat beribu topeng. Bunga matahari akan tetap bunga matahari. Tak bisa dirusak keindahannya. Itu yang aku harapkan. Walau beribu terpa badai mengelilingi, ingin merenggutku habis sampai bahagiaku sebutir debu, aku akan tetap menjadi aku yang bahagianya tak boleh direnggut oleh siapapun.

Sketsa kasar terbentuk. Bunga matahari yang besar dengan puluhan topeng di sekitarnya. Dengan waktu yang tak Cuma-Cuma, bunga matahari dan topengnya pun mulai terlihat bentuknya. Ibu berlalu lalang melihat prosesku membentuk karya, melewati tempatku melukis lalu mencontohkan kasus yang sama sepertiku.

”Temennya Ibu juga banyak yang seperti itu, Senja”, sambil melanjutkan ceritanya selama hidup di dunia. Katanya, sedari ibu berseragam putih biru, jarang sekali menjumpai orang-orang seperti itu. Hanya baru-baru saja dewasa ini terlihat mana yang memakai topeng.

“Ibu dahulu tidak seperti itu, tidak ada yang Namanya sindir-sindiran, saling membenci antar kelompok, tiada yang seperti itu. Kalau cocok-cocokan, pasti ada, tetapi tanpa menghina kelompok lain”, katanya sambil terheran-heran melihat cerita semasa SMP-ku yang jauh lebih buruk darinya.

Topeng-topeng itu menyusuri hutan, menendangku dari belakang dengan sepasang sepatu bergerigi hingga aku tersungkur, diikat kebencian, lalu dibuang begitu saja. Beramai-ramai orang datang. Nila setitik rusak susu sebelanga. Seakan satu cerita dapat menajamkan pisau untuk saling membunuh.



Lagi, dan Lagi, 9 Maret 2023

 

 

 

HARI demi hari bagai menginjak kerikil dan bebatuan besar dibalur api panas yang melelehkan kulit kaki. Kamis, 9 Maret 2023, mungkin hari ini tujuan akhirnya, membakar seluruh tubuhku. Melewati jalanan penuh asap dan kabut, pengelihatanku kabur untuk menampilkan apa yang ada di depan sana. Yang tergambar hanya tempat berasap hitam dan gelap.

Tengah siang yang menyengat, awan-awan kemepul tepat di atas rambut hitamku. Langit masih dengan warna biasanya, biru muda bercampur biru tua. Siang bolong begini, biasanya kantuk, malas dan rasa ingin cepat pulang dari sekolah selalu jadi topik utama bocah SMP di sekitarku. Kelopak mata yang sudah mulai terpejam, kepala mulai sakit dan ngilu akibat begadang bercampur menjadi satu.

Bermula dari pertanyaan singkat kepada 4 orang temanku yang tanpa pamrih mengulurkan tangannya untuk tanganku yang lemah dan tak berdaya menuju tempat yang lebih baik. Yang sudah kotor berlumpur, juga menghitam sebab masuk jurang lingkaran setan itu berada. Kini sedikit memalukan di hadapan mereka. Sebab dahulu kami terlihat sangat asing. Kini malah mau membantu dengan senang hati. Aku bagai manusia yang masih terbasuh banyak dosa-dosa, dihadapan mereka yang hampir suci. Jijik dan memalukan. Tak tahu malu dan kasar.

Berkumpulnya kami ialah untuk menyamakan rasa senasib sepenanggungan di ruangan gelap itu. Kemudian ternyata ada kotak hitam yang isinya berbagai omongan kotor para bedebah itu.

“Aku banyak mendengar perkataan busuk mereka. Di sini, di tempat sekarang aku duduk. Di pagi-pagi yang masih suci tanpa uap awan menginjak langit, perkataan itu sudah menjadi sarapanku berhari-hari. Sampai jam masuk kita tiba, jam 7”, ujarnya dengan raut muka penuh misteri dan sedikit jengkel.

“Apa? Siapa? Apa saja yang dibicarakan? Siapa saja?” kata tanya itu ku lontarkan begitu saja tanpa berat dengan keingintahuanku yang begitu besar, berujung mati di tengah hutan.

“Senja, kau paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Mereka merangkum kesalahanmu dari A sampai Z. Sejak gairahmu yang menggebu-gebu di bulan Desember lalu, hingga pertandingan kekalahan kemarin. Bisa dibilang, mereka banyak menyalahkanmu”, jawabnya dengan tidak menampilkan perkataan yang lebih detail lainnya. Mungkin untuk menjaga hati yang sangat sensitif bila terkena sedikit goresan. Hingga membuatku sedikit ternganga dan marah. Amarah menjemput emosi yang terkubur di saraf pusat otakku.

Apa? Siapa? Apa saja yang dibicarakan? Siapa saja yang membicarakan? Siapa saja yang dibicarakan? Perkumpulan yang mana?" Lagi-lagi tanpa jarak ku bertanya. la menggeleng tak memberi tahu nama-namanya.

"Si Pimpinan? Atau penurut yang mana?", aku bertanya dengan penuh kemarahan yang tertunda, dicampur air mata yang masih mampu tertampung di kelopaknya.

la masih tak menyebut satu pun nama dari bibirnya. Tak panjang lebar, hanya sedikit yang ia bicarakan. Tak mau memperburuk keadaan dengan menyatakan sepenuhnya lebih lebar. Gelengan kepala juga berkali-kali berperan dalam kemunduran hatiku untuk menulusuri lebih lanjut. Akan lebih baik jika aku tak mendengar lebih banyak ucapan omong kosong dari mereka.

Akan tetapi dengan sifatku yang lebih banyak ingin tahunya daripada memikirkan kedepannya, kata "Siapa?" dan "Apa?" lebih banyak digunakan. Berujung dengan terdengarnya penjelasan dari salah satu dari mereka berempat.

Air mata yang telah diemban lamanya, akhirnya memancur satu persatu. Tundukan kepala ku lakukan kembali. Sampai satu pelajaran penuhsetara dengan waktu sekiranya 40 menithabis hanya untuk menunduk.

Mau membalas pakai apa?”,

Mau menunjukkan lewat jalur yang mana?”,

Mau menghancurkan mereka dengan cara apa?”,

Kalimat-kalimat kebencian mulai tertanam di kepala dan hati menandakan peranmu sudah tak ada apa-apanya di hidupku. Kebaikanmu sudah terkubur jauh di dalam inti bumi. Di lapisan paling dalam bumi. Yang ku lihat lewat retina mataku saat ini ialah mukamu yang jelek nan hitam kusam, kotor layaknya rumah kosong tak berpenghuni, bau bagai kambing yang sudah tak dimandikan 3 tahun lamanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu telah menemukan jawabannya sendiri.

“Sukses”,

“Menulis, melukis”,

“Diam”

Pertanyaan yang selalu ku lontarkan dalam tundukkanku pasti sepaket dengan jawabannya. Entah ambisi atau amarah. Tak bisa dibedakan.

Tidur adalah alasan yang tepat saat itu, pasalnya mungkin mereka menontonku sebagai manusia paling lemah, bila mendengar perkataan yang menurut mereka ringan adalah hal biasa.

40 menit ku habiskan untuk menangis, entah sebab apa yang membuatku terlihat lemah di depan banyak orang. Terlalu menunjukkan bahwa aku bisa menangis. Biasanya hanya di rumah, itu pun jarang orang mengetahui.

Kertas yang berada di bawah dekapan tanganku pun ikut membasah sebab turunan air mata yang mengalir dari kelopak, langsung menetes di atas kertas. Metode menenangkan dengan menepuk bahu diupayakan oleh teman yang benar-benar teman, salah satu dari 4 orang temanku yang pantas dipanggil teman. Namun itu hanya sekadar ritual menenangkan orang lain, yang sangat lumrah dilakukan, tak tenang sepenuhnya tenang.

“Senja, sudah.. dahulu aku pun pernah seperti kau sekarang, bahkan lebih menyakitkan”, ucapnya sambil meyakinkan.

Di dalam dekapanku yang gelap nan hitam itu, suatu ketika ada secercah cahaya memberi bantuan untuk kebangkitan. Namun ada juga yang membisik di telinga sebelah kiri yang memicu semua amarah. Rasa ingin memaki-maki, menojok bak petinju kelas tinggi, hingga menyeret mereka-mereka ke lubang buaya akan menjadi nyata. Bayangan di kepalaku hanya tergambar bahwa memukul mereka merupakan hal yang mudah dilakukan, maka akan kulakukan sekarang. Namun dunia punya norma yang tak bisa semena-mena ku terobos begitu saja.

Rasa-rasanya itu emosi sesaat saja, namun berkepanjangan. Terkadang mereda, terkadang memuncak. Seperti anak kecil menuju remaja, labilnya tak karuan. Juga merusak hari yang sudah dibangun kokoh di pagi hari. Kini hancur bagai arsitek tak berpengalaman yang merancang bangunan. Sama sepertiku, bisa hancur hanya dengan sekadar kata dari bedebah yang tak cukup umur. Bodohnya, malah ditelan dengan lahap olehku. Yang seharusnya tersingkir ke ujung lapisan langit, malah ikut serta memelukku dengan hangat yang perlahan memanas.

 

 

“Bagaimana cara menghapusnya?”

“Bagaimana supaya tampang mataku tak tampak memerah?”

Pertanyaan itu mengelilingi kepalaku.

Ketika di hadapan musuh, terlihat lemah adalah hal yang paling menjijikkan. Bagai anjing yang manut terus-menerus oleh tuannya di rumah.

Mata yang tentu saja sembab dan hidung yang terdengar seperti orang flu menjadikan sangat merepotkan.

Kini yang tersisa ialah pandanganku di ruangan gelap ini bagai penjara. Tak ada secercah cahaya harapan apapun di sini. Hanya ruang hampa, gelap, kosong. Mata yang dahulunya sangat hangat dengan kelopak mata yang setengah terpejam dan melengkung senyum, kini dingin dan kosong. Bila berpapasan, pandangan ke arah depan ialah opsi paling baik untuk menghindari sulut kebencian.

“Aku tak kenal” ialah kalimat paling baik di hati saat bertemu manusia-manusia yang satu spesies dengan mereka para penghianat.



Sepulang Sekolah, 9 Maret 2023

 

 

 

DI hari yang penuh warna gelap dan awan bersimpuh teduh di bawah langit yang marah, petir bersahutan begitu keras kesana-kesini. Bagai api yang menyambar pada seuntai tali yang dilapisi alkohol, dalam waktu sekejap akan habis dilahap bara api. Memadamkan ketenangan, digantikan dengan usik, riuh, kacau, berantakan dan garang. Sembab dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Siang hari ini sangat terik di bagian barat bumi dan mendung gelap di bagian timur bumi. Bapak dengan lelah menjemputku pulang, semangatnya bergemuruh dari ujung rambut hingga jari-jari kaki.

Senja, namaku. Yang biasanya meneduhkan manusia-manusia yang ingin mencurahkan kerut hatinya, kini hanya bisa terdiam dan tak bicara sepatah kata apapun. Tanpa kata dan keras seperti patung. Senja kali ini senja yang sangat amat mendung dan abu-abu. Hanya bisa menahan tangis yang membeku keras sejak para bedebah muncul satu-persatu.

Berjalan menuju gerbang pulang SMP dengan mata yang hanya tertuju pada paving keras dan berdebu. Kelopak mata tanpa berkedip dan sayu. Kantong mata mulai membengkak dan merah. Seluruh dendam menggumpal di hati, seluruh riuh gemuruh sakit tercantum lekat di kepala.

“Kau tak pantas untuk bahagia, Senja”, kata seuntai darahku yang mengalir dari jantung menuju paru-paru.

Melewati sawah bersenandung kecil dengan darah yang mulai membenci mereka-mereka, mengalir dari kepala yang bengkak-bengkak hingga ujung kaki yang patah. Bapak berusaha mencari topik apa yang baik untuk hari ini, aku menjawab seadanya.

“Tadi sarapan dengan apa, Senja?”, tanyanya sambil memegang gas tangan vespa butut milik bapak. Mengingat tadi pagi bapak sudah pergi jauh menyusuri pusat kota Solo―maka dari itu tak sempat sarapan bersama-sama―dan jalan rumitnya. Sudah sangat hafal dan tentu saja di luar kepala. Dibandingkan aku yang gemar sekali lupa jalanan kota Solo yang sungguh rumit diterima oleh kepala yang tak gemar menghafal.

“Ikan keranjang dan sayur asam buatan nenek”, jawabku singkat dengan suara yang sedikit meninggi sebab tak ingin terdengar parau.

“Wah.. Enak?”, Seperti biasanya, bapak selalu memastikan pernyataan yang diberikan setiap orang. Terkadang menjengkelkan, terkadang juga dapat dijadikan bahan baku mencairkan suasana.

“Tentu saja enak, siapa dulu yang buat”, sanjunganku terhadap masakan nenek yang sangat sedikit sekali persentasenya jika berbicara mengenai makanan tidak enak.

Menit yang dapat dihitung dengan jari pun berlalu, semilir angin membasuh wajahku dengan setetes air mata yang mengalir dari kantungnya hingga dagu yang tak punya tempat berteduh. Tanpa seizinku, jatuh begitu saja.

Melewati jalanan kecil yang rumit bagi orang asing hingga sampai ke rumahku yang teduh. Sempit namun selalu jadi tempat ternyaman untuk berebah ria di pulau kapuk.

Melepas sepatu yang bersemir cat akrilik dengan kreasinya yang sungguh nakal di mata guru, hingga melepas aksesori pelengkap syarat masuk gerbang sekolah. Masih dengan tatapan yang kosong dan mata yang sayu, ku susuri meja makan dan anak tangga buas. Tanpa omong kosong yang meledak-ledak, ku jatuhkan tubuhku ke pulau kapuk yang hangat juga dilapisi panas matahari yang menembus dinding tipis rumah.

Sebuah lagu ku putar lewat gawai lawas milikku. “menangis di jalan pulang”, buah karya Nadin Amizah. Syair yang teramat cantik dan tentu saja disajikan dalam nadanya yang syahdu. Pendahuluan lagu yang disuguhkan dengan sedemikian rupa yang entah bagaimana pembuatannya, menjadikan lagu favoritku bertahun-tahun ini terasa sangat sedih dan seakan penyairnya mengajakkku berdendang ria merayakan kesedihan. Walau kisah syairnya tak sama dengan bermacam-macam yang telah ku alami, namun inti dari segala kesedihan ialah lagu ini. Sebuah tempat yang ngawe-awe melambaikan tangan untuk pulang.

Dalam jangkauan nol sampai 42 detik pertama, bongkahan air yang mengeras sejak tadi, tiba-tiba terurai begitu tanpa perintahku. Enam menit berlalu masih dengan tangisnya. Setiap kali terdengar intro lagu Nadin lainnya, dalam hati langsung menggebyar “Sudah, kali ini menangis di jalan pulang dulu”.

Siang menjelang sore hari yang penuh mendung, yang entah pada putaran lagu yang ke berapa, dikala ibu masih lelah dengan keringatnya yang bening, ku berkata padanya melalui pesan pada gawai, “Bu, adakah waktu sehabis pulang kerja? Selepas ini kita bermain sejenak ke luar rumah, bagaimana? Menghiburku”, dengan nada ledekan sekaligus sedikit banyak serius. Seperti pada ciri khasku yang sedikit berbicara mengenai perasaan, pasti ku datangkan kata candaan pada setiap kalimat pernyataan perasaan. Seakan aku mempunyai majas tersendiri yang berbicara mengenai rasa.

Pesan itu tak kunjung terbaca oleh ibu. Bukan menghilang tanpa kabar, tetapi langsung pulang tanpa berkata “Aku akan segera pulang” seperti yang biasanya dikatakan manusia dengan janji manisnya. Suara pagar nyaring yang didorong kuat oleh otot-otot sang pekerja keras itu terdengar sampai lantai atas. Ku bergegas melangkahi 10 anak tangga sambil menyapu air mata yang bergilir menuju pipi bagian kanan.

Seperti biasanya, semua hal yang mengenai pertemanan, akan ku ceritakan. Entah sedang sambung menyambung atau terpecah belah. Ku rangkum menjadi beberapa paragraf untuk diceritakan mengenai beberapa hari ke belakang. Dengan suara yang masih sedikit parau, nafas yang terengah-engah betapa muaknya terhadap mereka-mereka yang sungguh tak mempunyai rasa, dan satu dua kali terpicu air mata untuk mencair kembali.

"Lalu? Kau menangis, Senja?", Tanya ibu yang memperhatikan kalimat pertama hingga akhir setiap kataku. Bapak juga turut serta di sana. Di sebuah ruangan kecil tempat kami bertiga sering bercerita dan berdiskusi. Bapak hanya mengisi kehadiran yang biasa berkecimpung pada perdamaian dan tak mendendam. Sedangkan ibu lebih tertuju pada kemanusiaan dan peduli akan diri sendiri.

“Iya lah”, jawabku tegas. Ibu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih heran terhadap ceritaku. Ternyata banyak orang seusiaku yang dapat berbuat segitu buruknya kepada temannya.

“Biarlah, Senja. Mari kita bepergi yuk! Siap-siap dulu”, ibu langsung mengingatkanku mengenai pesan yang ku kirim tadi. Entah kapan ibu membacanya, misterius dan seperti mengendap-endap lalu mengejutkan. Aku yang masih tak tahu akan tertuju ke tempat yang seperti apa dan di mana, tanpa omong kosong dan banyak kata, baju sekaligus bawahannya ku keluarkan dari lemari dan bergegas memakainya. Masih dengan gaya penampilan yang berbau jadul dan formal, kemeja putih panjang dan rompi hitam ku kenakan dengan rapi. Juga tak lupa dengan rok plisket rumbai-rumbai berwarna putih.

Kalau kata laki-laki, menunggu perempuan berdandan seperti menunggu jodoh pemberian Tuhan, lama sekali. Namun kali ini tidak, singkat dan penuh semangat.

Di dalam perjalanan, ibu terus memberi nasihat-nasihat dan ajakan untuk tidak terlalu terpuruk mengenai kehidupan yang sedang berantakan.

“Nantinya juga akan ada yang lebih dari kali ini, Senja. Akan ada banyak orang-orang yang jauh lebih kejam, anggap saja ini permulaan. Yang artinya kau sudah dahulu melampaui mereka, mentalmu sudah jauh dari mereka.", kata ibu dengan keras supaya tak kalah dengan suara kencangnya angin yang diterjang kami berdua.

Motor yang sudah lumayan lawas dilapisi warna hitam itu menemani kami berdua. Di bawah langit yang sudah mulai mendung, semilir angin membesar dan pepohonan yang tergoncang oleh angin kencang dari barat, semua itu disatukan menjadi kesatuan yang syahdu. Juga wejangan ibu buah dari pengalamannya yang sudah lama hidup, menjadikan hati jauh lebih tenang.

Ribuan kata telah terlewat begitu saja. Kalimat yang belum selesai akan dilanjut sesampainya kami di sebuah tempat di barat kota Solo yang teduh dengan semilir angin dan juga mendung yang semakin gelap. Memesan beberapa cemilan dan tentu menu utama juga dengan minumnya, lalu mencari meja untuk menyantapnya. Untung saja tempat ini sedang sepi, cocok sekali untukku yang suka sekali bercengkrama dengan sunyi sekaligus bercerita ria bersama ibu.

Akhirnya kami memlih tempat di luar ruangan, agar dapat menikmati semilir angin dingin nan sejuk di sore hari. Aku berhadapan jelas dengan ibu. Mataku tertuju pada kedua bola matanya. Melanjutkan sisa ceritaku tadi di rumah, juga akhir kalimat dari sebuah paragraf darinya.

Beberapa sanjungan itu satu persatu masuk ke telingaku yang sudah tuli akan hal baik. “Seperti pohon itu lho, semakin tinggi pohonnya, anginnya semakin terasa. Senja tahu kan pepatah itu?", Ucap ibu sambil gerak meyakinkan.

Sembari menunggu semua menu tiba, ku lihat pohon rindang di belakang ibu, dekat tembok besar yang menjulang tinggi. Yang sedang dikibas-kibaskan angin dari barat hingga ke timur. Aku gemar juga berlogika. Sebuah kalimat harus disertakan bukti dan contohnya. Mengingatkanku akan kata-kata itu yang dapat diolah kembali di kepalaku yang sungguh keras. Membayangkan bila suatu pohon yang tinggi disandingkan pohon yang jauh lebih pendek dengan keduanya diterjang angin yang sama kecepatannya, pasti pohon yang lebih tinggi akan tergoncang lebih kuat dari pohon pendek.

Ibu juga memberi pesan kepadaku untuk acuh kepada mereka yang sedikit keparat, “Sudah, sekarang Senja begini saja, jangan hiraukan mereka.. orang-orang seperti itu pasti tidak akan ada habisnya.. kalau mentok, ingat lagi tuh seminarnya Ustadz, toh semuanya sudah dirancang kan?”, sambil menggeserkan menu yang telah tiba di meja kami.

Mengingatkanku pada ajaran bapak yang sudah lama disuguhkan untukku sejak kecil. Sejak kakiku masih menginjak di Sekolah Dasar. Mengenai takdir, hubungan Pencipta dan Ciptaan, pertanyaan akan "Bagaimana dunia ini tercipta?" yang berkaitan dengan teori Big Bang dan sains, juga menafsirkan kata "Aku", "Dia", dan "Kami" dalam Al-Qur'an. Semua itu sudah ku peluk sedari kecil, walau tak sampai intinya yang terdalam.

Belum banyak aku mengikuti seminarnya, hanya dapat dihitung jari. Aku lebih banyak menikmati ilmu yang diajarkan melalui bapak yang sudah mahir. April dan Mei tahun lalu, ialah bulan-bulan di mana aku banyak mempelajari mengenai Ketuhanan. Merubahku dari yang ‘jahat’ kepada diri sendiri, hingga sayang yang melebihi jumlah air di samudra jagat raya.

Aku menimpali pernyataan sekaligus wejangan sore hari yang mulai membendung air itu dengan semangat menuju bulan Ramadhan, bulan bangkitnya aku tahun lalu, April.

"Iya ya, bentar lagi juga Ramadhan" menikmati nikmatnya makan sembari mendengar obat lisan, perlahan hati mulai membaik. Ibu juga berpesan, “Nah, apalagi sholatnya itu dikencengin lagi, ngaji”, aku mengangguk sambil mengambil menu lain dan menyingkirkan menu yang tersaji dihadapanku dan menawarkan juga pada Ibu “Mau?” Dengan sejuta kerelaan ibu menjawab “Tidak, buat Senja saja, Ibu mah gampang".

“Cari Ridho Allah, bukan surga atau nerakanya.. seberapa banyak ibadah juga tak bisa menyetarakan nikmat yang diberi oleh Allah, kan?” Kalimat ini juga sempat dikatakan ibu sewaktu bapak, ibu, dan aku berdiskusi mengenai Ketuhanan, topik hangat yang selalu seru dibahas. Mulai dari pandangan orang lain mengenai Tuhannya, bercerita satu persatu yang pernah didengar satu sama lain, lalu mendiskusikan apa yang sebenarnya. Itu ritual kami dahulu, sewaktu Ramadhan belum tinggal jauh dari persinggahannya.

Aku selalu bersenang hati dengan semangat yang menggebu-gebu. Duduk bersila untuk mendengar cerita ibu lalu bapak meluruskan. Atau aku yang mempunyai cerita dan mempertanyakannya, lalu dijawab bapak yang sudah sangat mahir perihal seperti ini. Bermalam sejenak untuk membahas sang Pencipta.

Pembicaraan kami ditutup dengan sepotong ayam yang dilapisi tepung panir langsung dilahap karena sausnya telah ludes dimakan. Aku menawarkan kepada ibu kesekian kalinya, “Tinggal ini, Ibu mau?”, lagi-lagi hanya menjawab, “Tidak, buat Senja saja”, dengan nada yang meyakinkan. Sekarang menu telah habis ludes tak bersisa. Aku yang lebih banyak makan, ibu hanya duduk, mendengarkan, dan memberi wejangan untukku yang mandarah.

"Gimana? Sudah lega?", Ucap ibu sambil bersedekap di atas meja melihat kedua mataku yang terang. Aku mengangguk dan meyakinkan hati untuk melanjutkan hari yang kurang dari 2 bulan.

Ibu menawarkan ingin lanjut menikmati sore di sini atau langsung pulang meneduhkan diri sebab langit sudah sangat gelap. Karena cuaca yang sudah sangat mendung gelap di berbagai sisi kota Solo, aku lebih memilih opsi kedua. Juga hati sudah lega, untuk apa berdiam di sini beberapa waktu melihat air langit tiba dengan deras?

 

 

DI tengah perjalanan, tiba-tiba saja hujan deras melanda. Tanpa adanya tanda rerintik. Berteduh sejenak di sebuah rumah kosong—sepertinya sebuah rumah yang digunakan sebagai pertemuan suatu kelompok atau organisasi—yang tampak seram dari depan. Di sana kami berjumpa dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang merantau jauh dari Sragen. Nge-kos beberapa waktu yang panjang untuk menempuh pendidikan di Solo.

Pembicaraan juga suara ibu dan kedua mahasiswa itu tersendat sebab suara hujan yang terlalu besar. Aku hanya bisa mendengar sepatah dua patah kata dari mereka.

Sore pukul 5 itu tepi kota Solo dilanda hujan yang sangat badai. Menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk berteduh di rumah kosong itu. Dikala suara hujan meredup, aku berkata, "Bagaimana Bu, sekarang?", Malah tiba-tiba hujan semakin kencang menggoncang pohon pada jangkauan pupil mataku. Juga tanah sawah yang lapang dengan pohon tebu itu hampir ambruk diterjang angin dan air ciptaan Sang Pencipta.

Beberapa menit menunggu, akhirnya tibalah rerintik air yang menutup terjangan badai dan air yang gemuruh dari atas langit. Kini badai-badai itu tersingkir dari pinggiran kota Solo.

Kami memasang jas hujan yang sudah buluk dan lawas (mungkin umurnya sudah 5 tahun) namun awetnya bukan main. Akhirnya berpamitan kepada kedua mahasiswa itu. Kami pulang dengan selamat sampai di rumah. Disambut dengan meriah dengan bapak yang menunggu di garasi depan rumah.

 

 

Meja Makan, 9 Maret 2023

 

 

 

“Ayo Senja makan dulu, ada uritan”, aku yang sama sekali tak suka uritan itu semakin malas untuk menginjak beberapa anak tangga.

Masih terlalu asik pada perjuangan Biru Laut dan organisasi aktivisnya yang satu persatu hilang ditangkap aparat beserta intelnya. Aku yang mempunyai rasa ingin tahu yang cukup besar akhirnya beranjak dari tempat tidur. Mencicip sejumput serpihan uritan dan kawan-kawannya, memuluk nasi yang ibu santap, akhirnya tertarik juga untuk makan malam. Diambilnya piring kecil, mengambil satu setengah entong nasi supaya tak terlalu banyak porsi makan malamnya. Nasi panas dan sudah mulai mengering dipadukan remukan ungkepan ayam kesukaanku yang asin memanjakan lidah untuk sementara.

Nenek datang mengunjungi ruang makan kami menyantap. Ibu menjelaskan pada nenek—darah tempat ibu berasal—tentang putu-nya ini yang sedang malang ditiup badai. Aku sambil me-muluk nasi demi nasi yang ludes dengan waktu singkat. Selesai menjelaskan lalu nenek berkata,

Wis rapopo nduk, tak usah didengarkan kata teman-temanmu, yang penting kamu ujian, lalu dapat nilai bagus”, kata nenek meyakinkan.

Sebenarnya tak mudah tidak mendengarkan kata mereka sebab seperempat dari dua puluh empat jamku di sana. Sebuah tempat biadab yang ditelan kemurkaan. Belum lagi kata-kata yang membekas, tak hanya seperempat dari sehari, melainkan bisa berhari-hari. Apalagi kadar kecuekanku belum setara apalagi lebih dari ibu dan nenek, yang cueknya melebihi kucing peliharaanku. Tapi, tidak peduli ialah jalan ninja semua orang yang sama sepertiku.

Kata-kata sore tadi terucap lagi. Darah yang mendarah beserta ucapan yang juga bersinggah dari mulut ibu ke darah asalnya, seakan duo ibu dan anak itu serasi sekali.

“Dulu tak kenal, maka sekarang juga tak kenal juga tak masalah, ucapan itu sebelas-dua belas dengan prinsip ibu.

“Orang itu biasanya gitu, Senja..artinya kau jauh lebih baik daripada mereka yang membenci.. makanya bicaranya di belakang, yang mereka bisa hanya berkata semena-mena, karena kau jauh lebih mampu daripada mereka”, lanjutnya.

Kalimat demi kalimat terucap dengan makna yang sama, akan tetapi dengan huruf dan pengucapan yang berbeda. Oleh darah asalnya. Semua terangkum menjadi paragraf yang menguatkan hati.



Belenggu Dendam,

10 Maret 2023

 

 

 

DI hari yang sudah berbeda dan rasa yang masih sama. Kini aku hanyalah manusia tanpa kata, tanpa suara, tanpa kaki, tanpa tangan, bahkan tanpa raga. Semua-mua yang ku miliki seperti tak kasat mata. Hadirku hanya untuk bahan cacian dan makian. Di sanalah mereka berada, tentunya masih di tempat yang sama. Di ruangan berwarna hijau dengan banyak bingkai yang digantung di muka dinding.

Masih dengan tatapan yang tajam dan dingin. Juga iris mata  yang penuh kebencian. Ada yang semakin hari semakin membenci berkat ucapan seseorang. Ada yang hanya sekadar nimbrung—kalau kata sebagian orang Jawa Tengah melu payu—supaya tak jadi kaum minoritas seperti kami-kami ini yang dibuang hanya sebab perbedaan isi kepala.

Hari itu merupakan hari di mana persiapan terlaksananya Ujian Sekolah. Jadwal hari ini merupakan sesi pemotretan untuk pembuatan ijazah untuk syarat kelulusan sekiranya sekitar 300 siswa. Dengan hati yang sungguh tak terkira rasa sakitnya hingga penyangkalan bahwa aku tidak terluka bermunculan di hati bagian kanan dan kiri. Berusaha tegak dan menunjukkan bahwa aku sedang tak apa di hadapan mereka para biadab.

Berangkat dengan tergesa sebab pertaruhan menempati kursi kosong akan segera tiba. Dalam perjalanan, masih tersenyum dan gembira sebab keluarga selalu mengasihiku. Juga lagu-lagu Nadin Amizah yang menemani dikala gelap.

Memasuki ruangan pojok sekolah itu dengan langkah yang tertahan. Terasa berat, seperti ada sesuatu yang memegang erat langkahku. Juga seakan tembok besar menyekat di gerbang depan sekolah. Namun tak apa, kurang dari 2 bulan juga akan lulus dan lolos dari tempat biadab itu.

Tentu masih dengan suasanya yang sama, kursi sebelah kiriku masih kosong melompong. Aku seperti orang hina, tak ada yang mengendus. Apalagi mendekat. Hanya keempat orang kemarin yang masih menjunjungku. Juga masih ku letakkan kepala di atas meja, yang mungkin membuat terkesan aku lebih buruk dari yang sebenarnya.

Bel berbunyi tanda seluruh siswa harus memasuki ruangannya masing-masing. 29 ruang terasa seperti ruang yang selayaknya ruang. Namun ruanganku terasa seperti neraka, hanya satu-satunya diantara 30 ruangan. Entah hawa panas dari neraka tingkat yang mana yang terbang hingga ke sini. Semua seakan mereka-mereka tak tahu adab memanusiakan manusia. Juga adab mematuhi orang yang lebih tua. Seakan norma-norma dunia diberantas hebat oleh mereka sang perusak.

 

Pembelajaran berjalan dengan lamban dan menyesakkan. Guru Bahasa Indonesia yang kunanti-nanti pembahasan mengenai sastra Indonesia tak kunjung terwujud. Pantas saja, kini aku masih menduduki Sekolah Menengah Pertama yang belum mengenal jauh mengenai sastra Indonesia dan lika-likunya. Namun pembahasan mengenai konjungsi, majas, dan gaya bahasa cukup membuatku beralasan bahwa pembelajaran bahasa ialah hal yang menyenangkan.

Tak lama setelah pembahasan soal dan ceritanya sebagai persiapan Ujian Sekolah, bel berbunyi dengan nyaring seperti biasanya. Sampai jangkauan 20 meter pun terdengar. Karena hari ini merupakan hari Jumat yang penuh berkah, bel hari spesial ini hadir untuk menunjukkan istirahat pertama dan terakhir tiba. Selanjutnya akan dilanjutkan pembelajaran sepenuhnya.

Hari itu hari yang cukup pendek, namun terasa sangat panjang bagiku. Menunggu sesi pemotretan yang lamanya tak terduga, sebab dilakukan satu persatu siswa dengan kamera yang hanya satu. Sehingga keputusan dari guru ialah pulang terlebih dahulu lalu berangkat lagi sekitar pukul 2 siang untuk menunggu giliran kelas kami. Melelahkan dan malah merepotkan bapak, harus bolak-balik dua kali ke sekolah. Namun aku bersyukur sebab tak bertemu dengan mereka, walau hanya untuk beberapa jam.

 

 

TIGA jam telah berlalu, saatnya untuk kembali bertemu mereka yang sungguh meremehkan manusia-manusia kecil seperti kami. Yang hanya punya mimpi yang besar dan berharap impinya akan datang di suatu waktu. Ku kenakan seragam putih biruku kembali yang mulai lusuh sebab sebelumnya tak digantung dengan rapi. Tak lupa dasi bergaris tiga yang menandakan sebentar lagi aku akan lulus. Juga sepatu warrior yang sudah banyak tercoret cat akrilik karena tak sabar ingin melepas belenggu selama tiga tahun terakhir ini.

Saking muak dengan wajah-wajah mereka, aku datang paling akhir. Disaat semuanya sudah menunggu dan membayar sejumlah uang untuk biaya pemotretan, aku masih bersantai mengumpulkan nyawa di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Bantal yang sudah entah ke mana hilangnya, sprei yang sudah mulai terlepas dari ranjang, hingga cat minyak yang masih melekat di kedua tangan. Dengan mata yang masih sayu dan merem melek, rambut yang acak-acakan yang entah kuncirnya telah hilang ke mana, tanpa membasuh muka, ku kenakan kembali seragam hari Senin itu. Beranjak dari tempat tidur dengan hati yang selalu malas ketika mendengar segala hal yang berkaitan dengan mereka. Segala persiapan dan obrolan sudah menyertai mereka di sana―masih di ruangan gelap itu―sedangkan aku masih bersantai ria mendengar senandung lagu oleh Nadin Amizah sambil mengenakan sepatu bulukku di rumah yang jauh lebih nyaman.

Karena kedatanganku paling akhir, beberapa panggilan mengenai tagihan biaya pemotretan―dari mereka yang masih ku kenal―terdengar dari gawai di sampingku. Bergegas membonceng bapak untuk kembali ke ruangan gelap itu dengan hari yang terpaksa. Selalu ingin libur untuk tak melihat wajah-wajah gelap itu lagi. Semua ini masih harus berjalan dengan lamban untuk sementara waktu lagi.

Menaiki motor bapak yang butut dengan posisi menyamping seperti ajaran kedua orang tuaku, wajah yang masih belum segar sebab langsung bersiap, juga sayu sebab kenyataan tak sesuai dengan keinginan, yaitu berpecah dengan mereka.

Mati bersama-sama di hutan belantara hijau di ruangan gelap itu hingga membusuk berjamaah.

Datang dengan tas kecil yang dislempangkan di leher dengan rambut rapi terikat di sekelilingnya, lalu masuk dengan sangat berhati-hati ke ruangan gelap itu. Ketika ragaku hadir di depan pintu, semua mata tertuju padaku yang entah tujuannya apa. Mungkin bila aku orang yang tak hina di mata mereka, hal itu tak kan terjadi.

Bergegas mencari bendahara kelas yang akan mengantarkan sejumlah uang untuk biaya pemotretan. Ia tiada di ruangan itu. Tanpa banyak pembicaraan yang sia-sia, ragaku bergegas menuju luar ruangan karena sungguh tak nyaman. Mata mereka yang tajam bagai pisau yang terasah tadi pagi, tangan mereka yang bagai pembunuh, wajah mereka yang sungguh kusut, hingga mulut mereka yang kotornya bak tak pernah dibersihkan.

Kala itu ku berdiam diri di suatu ruangan yang tak ada satu pun penghuninya. Seperti biasanya, aku suka sekali sendiri, karena tak ada yang perlu dipikirkan. Entah itu mengenai diri sendiri yang buruk di mata orang lain, ucapan yang harus diseleksi satu persatu supaya tak jadi akar pisau yang tajam, juga gelagat yang kaku sebab harus terus menerus dikoreksi manusia-manusia itu. Ruangan yang redup, meja tertata rapi, juga tempelan motivasi dari masing-masing siswa yang dipajang tanpa debu yang bertebar. Ruangan itu tak jauh dari ruangan gelap milikku, hanya melangkah kurang lebih 15 langkah manusia berkaki panjang, semua orang bisa meraihnya. Walau sangat asing bagiku, namun aku mengenal beberapa orang penghuninya.

Menunggu panggilan untuk pemotretan, bayangan kebencian menyertaiku dari lubuk hati yang terdalam. Keinginan untuk mengatakan kata ‘tidak’ tergiur dari saraf-saraf bibirku yang tipis.

Menunggu sekiranya sepuluh menit untuk mendapat giliran pemotretan, tibalah di suatu titik di mana kebencian harus mulai terurai melalui lidah dan telinga. Terurai bukan untuk mengurangi, namun menambah dan memupuk benih baru.

Mulut jahat mereka mulai bergetar mengucap banyaknya bualan penghianatan, membuka topeng dengan perlahan lalu menikam dari belakang dengan belati tajam.

Merapikan penampilan yang sungguh kusut sebab baru saja bangun tidur, seorang dewasa berumur kepala dua yang ku jumpai 4 hari lalu juga ikut membantunya. Seorang guru berkata pada si Tinggi—terkait pertandingan kekalahan kemarin—yang lupa dengan kulitnya (alias tak mengingat teman lama).

“Badan doang tinggi, main tak mampu”, ia berkata sambil bercanda ria menertawakan.

Suara tawaku kukeraskan supaya si Tinggi ikut serta mendengar.

“Yang penting tidak bermain egois og, Pak”, keras kepala dan kata melawan ialah ciri khas dari mulut si Tinggi. Yang menimpakan suatu kekalahan kepada seseorang. Hanya karena terlihat pandai dalam dunia basket, semua hal bisa disombongkan olehnya. Juga menutupi kebodohan dengan pengetahuan yang dapat diakses mudah melalui internet. Bukan berarti kami-kami ini lebih rendah daripada tokoh ‘tong kosong nyaring bunyinya’.

Ku lihat juga beberapa tampang si pemberani yang sebenarnya berjiwa cemen jika beradu argumen. Hanya bermodal pasukan bertopeng dan berseibo lengkap dengan rompi anti kebencian, kebaikan dapat dibeli murah olehnya dengan banyak menebar perhatian kepada kalangan orang. Tampang yang sungguh membosankan dan patut diremas jika bertemu, menjadikan gemuruh amarah meriak di sekujur tubuhku. Senyum seperti psikopat juga dengan ucapan manisnya yang menikam. Sungguh mengenaskan.

 

 

SESI pemotretan telah usai, kini saatnya untuk pulang. Di ruangan gelap ini, mau pulang saja susah. Harus melewati pemotretan satu kelas yang tak ku anggap sebagai teman.

Upaya izin kepada bapak guru ku lakukan, “Sudah pak, apakah sudah diizinkan untuk pulang?”, Kataku dengan lelah melihat wajah-wajah mereka.

"Nunggu temannya dulu", kata ia dengan santai dan melihat situasi sekitar.

"Mereka bukan teman saya, Pak", ucapku dengan keras layaknya berdemo di depan orang banyak.

Walau hati menginginkan sekali untuk pulang ke rumah yang lebih sejuk dan tenang, namun mereka—enam orang yang sama nasibnya denganku—ialah alasanku untuk tetap berdiri di tanah neraka pada saat itu. Pemotretan bersama penghianat-penghianat itu kulaksana dengan begitu paksaan. Rasa benci kupendam dalam-dalam di hati. Walau tak semuanya mengakar ke lapisan hati paling dalam.

 


27 Ramadhan

 

 

 

SORE hari yang begitu terik dan panas. Cuaca di bulan April tahun ini panas sekali, entah sebab pemanasan global atau seorang yang membakar sampah sembarang di lapangan sebelah. Nenek sedang meracik bumbu sayur asem, sedangkan ibu memotong-motong terong, kacang panjang, jagung, dan labu siam sebagai ampasnya. Aroma sayur asem mulai terhembus jelas menuju kamar tidurku. Yang berantakan dan berserakan. Kanvas di atas meja, cat akrilik di mana-mana, juga cat minyak yang sudah lama tak terpakai, serta bulu kuas yang sudah banyak rontok dan kering. Dahaga juga lelah dijadikan satu serta kantuk menyerang begitu saja.

Sambil menunggu azan Maghrib, ku lakukan hal yang serta merta diperuntukkan untuk menunjukkan bukti syukur. 30 menit sebelum azan ialah waktu paling tepatnya. Tenggorokan yang kering juga bacaan huruf Arab sudah mulai tergesa-gesa sebab targetku hari ini ialah membaca 1 juz penuh atau lebih. Mukena yang masih membasuh tubuhku juga tasbih berisi 33 manik-manik ku kenakan sebagai sarana bertampil bersih di depan Tuhan. Bukan untuk berlagak suci, namun sudah seharusnya demikian.

Bacaan huruf nun dengan harakat kasrah yang berada di kalimat terakhir merupakan huruf terakhir yang ku baca setelah akhirnya disusul dengan terdengarnya azan Maghrib yang berkumandang di seluruh penjuru kota Surakarta. Sebab dahaga yang begitu menusuk di tenggorokan, terdengarnya azan Maghrib menjadikanku bersemangat paling kencang untuk meminum teh hangat buatan bapak di lantai bawah. Ditunggu oleh ibu, bapak, juga nenek yang sudah bersinggah duduk di hadapan meja makan dengan pernak-pernik makanan buka puasa. Ada sayur asem yang hangat, ikan keranjang yang disuir untuk memudahkan menyantap, tempe mendoan yang baru saja mentas dari kolam minyak panas, juga es kopyor dengan sirup merah dan daging kelapa di dalamnya. Semua menunya―yang dibuat nenek dan ibu dengan peluh keringat bau masam―menggiurkanku untuk segera berbuka.

Pertama ku ambil nasi dari magic com lalu disiram dengan kuah panas sayur asem sekaligus ampasnya yang sedikit banyak. Ikan keranjang suir diletakkan di piring kecil lalu tak lupa mengambil es kopyor sampai gelas penuh serta tempe mendoan yang sesuka hati ingin ambil berapa. Lengkap sudah menu berbuka.

 

 

DI tengah-tengah memuaskan nafsu berbuka, ku bertanya kepada ibu yang tengah memuluk nasi terakhirnya.

“Bu, aku sudah mau lulus, tak lama lagi. Bahagia tidak?”, ucapku sambil merapikan nasi yang dibalur ikan keranjang.

“Kalau Senja bahagia, ibu juga bahagia” ucapnya sambil melihat kedua bola mataku untuk meyakinkan.



Epilog

 

 

 

Bila di hari kelulusan tiba, aku akan berlomba-lomba jadi juara berpredikat orang paling bahagia di dunia. Selamat tinggal manusia-manusia yang tak patut dipanggil manusia. Selamat tinggal penghianat bertopeng yang mengambil peran menjadi malaikat bersungu dua. Selamat tinggal mata datar segaris lurus dengan garis khatulistiwa. Selamat tinggal cerita-cerita gelap yang tak senonoh untuk diulang. Selamat tinggal kebohongan-kebohongan dan hasutan-hasutan liar para pendusta. Selamat tinggal. Ku tunggu kau di garis di mana kita tak lagi sepadan. Antara kau yang jauh di atasku, atau aku yang akan jauh lebih di atasmu.



Dariku,

 

 

 

Aku ialah Nayfa Matsna yang baru saja menggeluti dunia menulis akhir-akhir ini. Cerita pendek ini merupakan cerita pendek pertamaku setelah kurang lebih satu tahun mengenyam di dunia tulis-menulis.

Kisah ini diambil dari kisah nyata seorang siswa Sekolah Menengah Pertama dalam menjalani kehidupan tahun terakhirnya semasa mengenyam pendidikan berseragam putih biru. Senja Gitarja, sebagai tokoh utama (dengan menyamarkan nama aslinya) ialah seorang yang ditimbun tanah oleh makian dari mereka-mereka yang banyak membual dan saling menghianati. Bersama enam teman lainnya­―yang juga sama dengannya―melawan arus yang dibuat oleh mereka-mereka yang menghina.

Cerita ini juga ku bagikan sebagai perayaan kelulusanku semasa SMP. Untuk merayakan mereka-mereka yang berhasil selamat dari segala kata cacian dan makian dari mereka-mereka yang tak berkemanusiaan.

Semoga cerita ini dapat menguatkan satu sama lain dan berperan hebat di mata mereka yang sama seperti seorang Senja Gitarja.

Terima kasih. 

Komentar

Postingan Populer