Sepatah Kata dari Hujan

 Sepatah Kata dari Hujan

Oleh Nayfa Matsna. Sore hari, di bawah hujan yang sejuk nan merdu di telinga, 1 Desember 2023.

Hari ini ialah hari pertama di bulan Desember. Di bawah hujan rintik yang meneduhkan, “Di Akhir Perang” ku putar tepat di samping telingaku. Setelah sekian lama hujan yang berkepanjangan ku rindu, air Tuhan pun jatuh ke tanah tandus taman depan rumahku. Hujan yang kala itu menemani aku tumbuh, ia hadir kembali, namun dalam angka tahun yang berbeda. Tahun lalu, hujan memberikanku sebuah wejangan di sore hari. Masih manis dan membuat hati berbunga-bunga layaknya berebah di kebun seribu bunga matahari.

“Tolong taklukkan dunia dengan prakatamu yang santun di hati manusia. Bila ada manusia yang berdarah-darah, tempelkan di dadanya secarik kertas dengan majas yang kau tulis dengan sepenuh hati. Ciptakan sebuah ramuan penutup luka basah yang kau ramu di kamar tidurmu—di bawah cahaya lampu redup. Yang kau rangkai dengan hati dan sapuan manis tanganmu membentuk huruf-huruf yang indah, yang mencipta dunia di kepalamu sendiri.”

Hujan mengingatkanku akan kesungguhanku mencintai hati manusia dengan luka sebesar dan seluas tanah ibu kota. Bila ada manusia datang dengan banyaknya goresan di kepala, sayapku akan ku lebarkan selebar-lebarnya bak malaikat yang berputar di atas pencakar langit. Sebelum hati yang keruh dan ber-ampas menyihirku, hujan di penghujung tahun itu memelukku dengan kata meyakinkan,

“Di dunia ini, semua perihal yang kau inginkan akan terwujud. Di balik manusia yang keruh dan buruk, kalau ia melihat sajak dan biji-bijian yang kau semai di tengah jalan, pasti akan luluh. Dunia bisa kau rapikan sesuai dengan kemauanmu. Kau bisa menjadikannya sebuah harapan untuk mengubah dunia.”

Namun sepertinya hujan di kala itu ialah hujan terakhir yang beritikad baik. Hujan selanjutnya ialah hujan yang selalu mengingatkan bahwa dunia tak seindah apa yang ada di kepalaku. Dunia tak sejernih apa yang ada di kepalaku.

Hujan di hari ini berkata padaku akan sebuah perubahan dari yang ia ucapkan di hujan November tahun lalu.

“Dunia takkan dapat kau ubah sebagaimana harapanmu kepadanya. Dunia di hari sudah terlalu keruh. Ketambahan limbah buah tangan penghancur dunia. Ia ialah manusia yang ingin kau peluk hatinya, namun pergi ke antah berantah. Dunia yang kau harapkan ialah sebuah mimpi yang semu. Kegagalanmu atas merawat hati manusia menjadikanmu tak merawat hatimu sendiri. Keruhnya hati manusia yang keji, meninggalkan hal-hal yang paling berharga di hidupmu. Salah satunya ialah hati yang penuh akan mencintai seseorang yang juga mencintaimu. Yang cintanya selalu dibalas di kemudian hari. Bukan cinta yang dibentuk hanya dari satu pihak. Mereka ialah sebuah rumah yang terbentuk dari kau masih berada di dalam kandungan. Pergilah ke sana, surgamu telah merindukanmu.”, ucap hujan yang mulai reda. Derasnya sudah tak kasat di mata.

Aku pun bertanya, “Lalu, bagaimana aku kembali sebagaimana harapanku pada hujan terakhir tahun lalu? Juga bagaimana aku dapat sekaligus berpulang ke rumah yang bawah telapak kakinya ialah keberadaan surga?”, rerintik pun tiba-tiba hangus. Meninggalkan air yang telah jatuh tanpa berpamitan.

Jawaban tak ku dengar dari daun telingaku. Wejangan tadi pun melepas sebuah misteri berbalut peti yang terkunci dari dalam. Hujan telah menitipkan mendung yang membawa awan kesana-kemari untuk mengucapkan selamat tinggal atas pengharapanku akan dunia yang kembali sejuk dan tak keruh.

Harapan itu semoga ku letakkan dengan damai pada sebuah tempat pemakaman mimpi, dan berjumpa pada jalan setapak menuju rumah yang bawah telapak kakinya ialah keberadaan surga.

 

Merayakan takdir Tuhan, 1 Desember 2023

Komentar

Postingan Populer