Di Dunia?
Di Dunia?
Ditulis pada 19 Juni 2024, pukul 19:24.
Di duniaku, hanya aku seorang.
dan sedikit manusia kesayanganku.
Aku melihat mereka sebagai rembulan yang cahayanya
menembus sampai ke hati.
Aku melihat ada secercah cahaya mimpiku akan dunia
yang,
“Pasti akan selalu berwarna putih.”
Mau seberapa gelapnya goa atau malam penangkal rindu,
“Pasti dunia akan selalu berwarna putih!”
—
Di duniaku, aku melihat hitam
sebagai putih,
dan selalu ada waktunya untuk menemukan ujung dari
sebuah kegelapan,
“Selalu ada!”
Aku melihat diriku di depan cermin sebagai cahaya.
Sebagai cahaya yang dapat menyinari manusia di
sekitarnya untuk menemukan cahayanya masing-masing.
Aku melihat sendiriku sebagai sebuah prakata panjang
yang mengalir.
Tanpa aku yang menjauh dari keramaian, ialah tanpa aku
yang melimpahkan kata di kepala sendiri.
—
Di dunia yang bukan merupakan milikku,
mereka membisingkan telinga.
Beramai-ramai kejam terhadap dirinya sendiri.
Berkali-kali kejam terhadap hatinya sendiri.
Yang semula putih dan menjadi cahaya bagi manusia
kesayangannya, kini diterjang oleh arus kegelapan.
Bukan, ini bukan kegelapan yang menyedihkan, melainkan
kegelapan yang membawa mereka ke ujung kematian hati.
Manusia saja dianggap hewan,
Wejangan orang tua lewat begitu saja,
Tuhan pun diacuhkan.
Segala hal yang membuatnya dekat dengan Tuhan, kini
ditinggalkan.
Segala hal yang menjadikannya manusia penuh cahaya
mengkilau, kini hanya sepintas lalu saja.
Hanya rindu, tak dikejar apa yang dirindukannya.
Segala hal yang membuatnya merangkai kata, kini
hal-hal kecilnya dibuang dalam-dalam di kepala.
—
Kalau hatinya sudah mati begini,
Maka siapa yang akan menghidupkan?
Kalau hatinya sudah enggan melonggarkan tempatnya,
Maka manusia kesayangan mana lagi
yang harus datang?
Kalau lama sujudnya sudah sangat singkat,
Maka harus dengan apa Tuhan
mengembalikan?
Komentar
Posting Komentar