Malam selalu dekat dengan lenyap

 Malam selalu dekat dengan lenyap

Ditulis pada 19 Juli 2024, pukul 00:26.

Malam adalah waktu rawan.

Kebanyakan manusia di sini sibuk mengejar mimpinya,

atau sedang menangis dalam keheningan malam.

Bukan hanya menangis tentang penyesalan hari ini,

namun bisa sampai pada pertanyaan,

“Bagaimana kalau mimpiku suatu saat nanti hanya akan menjadi semu?”

“Bagaimana kalau dalam perjalananku, aku mati muda?”

“Bagaimana kalau mereka belum sempat merasakan kebahagiaan dari hasil jerih payahku?”

“Kalau mimpiku menjadi semu, maka mimpi mana lagi yang akan ku idam-idamkan? Atau lekas menerimanya begitu saja?”

“Bagaimana kalau saat aku berpulang, Tuhan belum sempat ku kenal seutuhnya?”

Semua pertanyaan-pertanyaan penutup hari itu pasti seringkali berkeliaran di kepala orang-orang, di atas tempat tidur.

Entah sedang berusaha tidur namun gagal sebab kepalanya terlalu berisik, atau memang sudah seharusnya menimang pertanyaan itu di usia sebelum berkepala dua.

 

Banyak tulisan yang lahir di tengah malam.

Sebagai rangkuman apa kabar hari ini,

atau sebagai alasan bahwa ia sudah terlalu jauh dari orang rumah dan penciptanya sendiri.

“Ku pergi duluan, kau kan menyusul, kan?”

“Percaya padaku, Tuhan pun tertawa, melihat kita yang hanya menerka.”  00:12

Kalimat itu baru saja ku dengar dari speaker laptop yang terus memutar lagu dari playlist kesayanganku.

Menurutku, kalimat dari syair cantik itu tak hanya dapat disampaikan ke seseorang yang sudah lama menerka,

melainkan untuk diriku sendiri.

 

“Ku pergi duluan,” merujuk pada aku yang nyawanya hidup sampai sekarang, yang telah meninggalkan beberapa bagiannya di nyawa yang sudah lama tak dihidupkan.

“Kau kan menyusul, kan?” merujuk pada kalimat yang sering ku ucapkan pada nyawa yang hidup sampai sekarang, untuk tidak terus-menerus rindu pada nyawa yang sudah lama ditinggalkan, dan tak dihidupkan.

“Percaya padaku, Tuhan pun tertawa, melihat kita yang hanya menerka.”

Merujuk pada nyawa yang selalu ku hidupkan sampai sekarang, yang seringkali menimbulkan kegaduhan di dunia, dan sadar, nyawa yang sudah lama tak dihidupkan itu, akan selamanya mati, tak kembali.

Kalaupun kembali, ia tak kan seutuhnya hidup seperti semestinya.

Aku tahu, kau tak kan hidup kembali, aku.

 

Benar, ya, ternyata malam membuatmu terlelap,

Malam membuatmu lenyap.

Komentar

Postingan Populer